Kamis , 26 November 2020
Beranda » Humaniora » Menyanyi Sampai Tua, Kuatkan Daya Tahan Tubuh
Ketika menyanyi di salah satu rumah musik. (Foto: Ist)

Menyanyi Sampai Tua, Kuatkan Daya Tahan Tubuh

KEBANYAKAN anak-anak suka mendengarkan lagu dan menyanyi, apalagi kalau lagu itu merupakan lagu anak-anak. Demikian pula saya ketika kecil dulu. Dari cerita keluarga, maupun para tetangga, ketika kecil dulu saya sudah suka menyanyi. Bahkan ketika masih berusia satu tahun, bila mendengarkan musik atau lagu, saya pasti menari, bergoyang-goyang, megal-megol.

Mungkin dikarenakan bawaan dari masa kecil, kesukaan menyanyi itu terus mengikuti perjalanan dan pekembangan usia saya. Ya, sampai di usia tua ini saya masih suka menyanyi. Apalagi ada yang bilang menyanyi di usia tua itu bisa menguatkan imun atau daya tahan tubuh. Hal itu terjadi dikarenakan menyanyi bisa membuat hati senang, gembira dan bahagia.

Ketika remaja, di usia-usia SMP dan SMA, saya penggemar berat penyanyi-penyanyi yang populer kala itu. Penyanyi-penyanyi seperti Vina Panduwinata, Dhenok Wahyudi, Rafika Duri, Dewi Yull, Diana Nasution, dan Rita Butarbutar merupakan favorit saya.

Hampir semua lagu hits mereka saya sukai. Tak sekadar suka, tapi juga hapal dan bisa menyanyikannya. Saya selalu berusaha keras untuk menghapal dan bisa menyanyikannya dengan baik. Kecuali lagu-lagunya Rita Butarbutar yang vokalnya tinggi itu, saya menyerah. Walau tak bisa menyanyikan lagu-lagunya Rita Butar-butar secara sempurna, saya tetap penggemar beratnya. 

Sedang penyanyi-penyanyi lainnya masa itu seperti Hetty Koes Endang, Betharia Sonata, Dian Pisesha, Christine Panjaitan, Yuni Shara, Nia Daniati, dan banyak lainnya lagi, juga saya sukai. Tapi cuma sebatas suka saja, bukan penggemar berat mereka. Jadi, bila ada lagu mereka yang hits, saya sekadar ingin tahu. Andai cocok buat hati, ya, saya nyanyikan biasa-biasa saja. Tidak sampai berusaha keras, berhari-hari menghapalnya. Kalau tak bisa hapal, ya, saya tinggalkan.

 

September Ceria

Sebagai pengagum berat Vina Panduwinata, dulu hampir setiap hari saya ingin mendendangkan lagu-lagu yang dinyanyikannya, seperti September Ceria, Burung Camar, Aku Makin Cinta, Surat Cinta, Di Dadaku Ada Kamu, Kumpul Bocah, Surat Cinta dan lain-lainnya lagi. Mungkin karena saya terlalu menyukai dan mengaguminya, lagi-lagu Vina itu terasa pas dan nyaman di rasa atau di hati. Seperti beberapa lirik dari lagu September Ceria ini.

 

         September Ceria

         Di pucuk kemarau panjang
         Yang bersinar menyakitkan
         Kau datang menghantar
         Berjuta kesejukan 

         Kasih..
         Kau beri udara untuk napasku
         Kau beri warna untuk kelabu jiwaku 

         Tatkala butiran hujan
         Mengusik impian semu
         Kau hadir di sini
         Di batas kerinduanku        

         Kasih…
         Kau singkap tirai kabut di hatiku
         Kau isi harapan baru untuk menyongsong
         Harapan bersama 

         September ceria…September ceria….
         September ceria…September ceria…
         Milik kita bersama 

         Ketika rembulan bersinar
         Di hamparan citra biru
         Kutatap sebersit isyarat di matamu 

         Kasih…
         Kau sibak sepi di sanubariku
         Kau bawa daku berani dalam asmara
         Dan mendamba bahagia

Akan halnya Dhenok Wahyudi, saya suka vokalnya. Dulu, saya pernah berusaha untuk meniru-niru gaya dan vokalnya. Entah mengapa, gaya dan vokalnya sangat mengesankan. Sehingga ketika itu, saya pun berusaha untuk hapal dan bisa menyanyikan lagu-lagu hitsnya, seperti Dalam Cita dan Cinta, Dalam Kelembutan Pagi, Asmaraku Asmaramu, Kelana, dan lainnya lagi.

 

Tampil di “Kuncup Mekar”

Waktu SMA dulu, saya memang selalu berusaha menunjukkan kesukaan serta kemampuan dalam menyanyi. Ada seorang teman sekolah dulu membakar semangat saya dengan mengatakan, “Buktikan kalau bisa menyanyi. Buktikan saja dengan menyanyi di TVRI. Kalau bisa tampil menyanyi di TVRI, kau sudah layak disebut penyanyi.”

Ucapan teman saya itu sebagai tantangan dan pecutan. Dan, saya pun merasa tertantang untuk membuktikannya. Saya pun jadi sangat bersemangat untuk membuktikan kalau  memang benar-benar bisa menyanyi. Tantangan itu pun saya buktikan. Saya segera mendaftar untuk ikut acara “Kuncup Mekar” di RVRI Yogyakarta.

Ketika itu, “Kuncup Mekar” merupakan acara yang menampilkan bakat-bakat baru dalam dunia tarik suara atau menyanyi di Yogyakarta dan sekitarnya. Banyak remaja yang ingin tampil di acara tersebut. Dan, banyak yang daftar, tapi tak semua yang daftar bisa lolos tampil bernyanyi. Ada proses seleksi.

Alhamdulillah, saya termasuk yang lolos seleksi. Saya pun kemudian tampil menyanyi di acara “Kuncup Mekar” tersebut. Ou, betapa bangga dan bahagianya, bisa menyanyi di TVRI. Menyanyi dan disaksikan atau ditonton masyarakat luas lewat layar kaca televisi. Disaksikan Ayah dan Ibu, disaksikan keluarga, disaksikan teman-teman sekolah, teman-teman sepermainan, para tetangga, dan banyak lainnya lagi. Dan, yang paling membahagiakan lagi, bisa membuktikan tantangan teman sekolah itu, bahwa saya bisa menyanyi, menyanyi di TVRI.

Saya ingat, ketika pertama kali tampil menyanyi di acara “Kuncup Mekar” TVRI Yogyakarta, saya hampir tidak percaya diri. Ya, penyanyi lainnya yang tampil di acara itu  semua mengenakan pakaian yang bagus dan gemerlap. Maklumlah, karena penampilan mereka akan disaksikan sekian banyak orang di depan televisi.

Sedangkan saya waktu itu hanya mengenakan pakaian atau kostum yang biasa-biasa saja. Busana ala kadarnya. Jauh dari kesan mewah, apalagi gemerlap. Tapi untunglah saya bisa menepis rasa tak percaya diri itu, sehingga bisa tampil dengan lancar. Kalau tak salah ingat, setidaknya ada dua kali saya tampil menyanyi di acara “Kuncup Mekar” tersebut.

          

Gara-gara Teman Mengaji

Kesukaan menyanyi itu terus terbawa sampai saya dewasa dan berkeluarga. Bahkan sampai saya berstatus nenek dari dua cucu sekarang ini. Pada mulanya saya sering menyanyi secara sendiri-sendiri. Misalnya, menyanyi di acara hajatan pernikahan, syukuran, dan semacamnya.

Ketika komunitas-komunitas menyanyi atau komunitas-komunitas tembang kenangan bermunculan dan menjamur di Yogyakarta, saya belum tergoda atau tertarik untuk ikut di dalamnya. Saya merasa nyaman dan happy menyanyi sendiri, di luar komunitas-komunitas yang beragam namanya itu.

Barulah kemudian, suatu malam di forum mengaji, seusai mengaji teman mengaji yang duduk di sebelah saya berkata, “Bu Nana, kalau mengaji suaranya bagus. Apalagi kalau menyanyi, pasti bagus juga.”

“Ah, kalau menyanyi, ya hanya sekadar bisa saja, Bu,” jawab saya spontan.

Perbincangan pun berlanjut. Teman mengaji itu yakin kalau saya bisa menyanyi. Ia pun mengatakan kalau dirinya suka dan hobi menyanyi, serta tergabung di komunitas menyanyi. Saya pun diajaknya bergabung di komunitas menyanyi itu, agar kemampuan dan kesukaan menyanyi tetap terjaga. Tidak hilang dimakan usia.

Saya pun tertarik ajakannya. Saya kemudian diajaknya menyanyi di komunitas Melody atau Sanggar Melody yang berlokasi di Nyutran, Yogyakarta. Selang beberapa bulan kemudian ada yang mengajak pula untuk ikut di komunitas lainnya. Saya ikut saja. Ya, saya ikut di komunitas DeNada. Tapi cuma sebentar. Karena kemudian, kabarnya komunitas DeNada itu bubar. Saya katakan kabarnya, karena begitulah realitanya.

 

Kuatkan Imun

Oh iya, kalau semasa remaja atau muda dulu saya suka lagu-lagunya Vina Panduwinata, Dhenok Wahyudi, Rafika Duri, Dewi Yull dan lainnya, berbeda di usia-usia yang tak muda lagi seperti sekarang ini. Di usia-usia sekarang, saya suka lagu-lagu dari   Emilia Contessa,  

Titiek Puspa, Grace Simon, Arie Koesmiran, Tanti Yosepha dan beberapa penyanyi lainnya lagi.

Ketika ikut di komunitas, Melody misalnya, lagu-lagu dari Emilia Contessa, Tanti Yosepha, Titiek Puspa, dan lainnya itu selalu menjadi pilihan. Begitu pula ketika tampil menyanyi Pro 1 RRI Yogyakarta, Jogja TV, Radio Swara Kenanga Jogja, Radio Arma Sebelas dan lainnya.

Bisa menyanyi di usia-usia yang tak lagi muda, sungguh sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang membahagiakan. Perasaan senang dan bahagia itu menyehatkan. Bisa menguatkan daya tahan tubuh atau imun. Apalagi kalau ada yang nonton. Ditambah ada yang senang dengan lagu yang dinyanyikan. Ou, bahagianya. Tapi dalam menyanyi, ya harus tahu diri juga. Kalau dulu bisa menyanyi sampai sepuluh lagu atau lebih, sekarang ya cukup lima lagu saja, sudah puas. *** [Nur Ratnawati]

 

*** Nur Ratnawati, lahir di Klaten pada  26 Juli 1962. Nenek dua orang cucu ini sekarang sibuk dengan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Bersama suaminya, M. Zulfan Hudaibi, ia sekarang tinggal di Menayu Kidul, Tirtonirmolo, Bantul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *