Senin , 30 November 2020
Beranda » Humaniora » Menyanyi, Indah dan Menyenangkan
Menyanyi berdua bersama istri di suatu acara komunitas menyanyi. (Foto: Ist)

Menyanyi, Indah dan Menyenangkan

DUNIA musik sudah saya kenal sejak kecil. Ya, mulai Sekolah Rakyat (sekarang SD) kelas 5 dan 6, saya sudah main musik di sekolah. Bahkan siaran di RRI sudah saya jalani di tahun 1957. Waktu itu Studio RRI Yogyakarta  masih berlokasi di utara Alun-alun Utara, sebelah timur jalan.

Kebetulan sekolah saya di SD Keputran II, dimana sekolah masih sangat memperhatikan Seni budaya, sehingga bersamaan main musik itu, juga latihan menari Jawa. Tetapi untuk latihan menari tarian tradisional Jawa, ternyata saya tidak telaten. Saya lebih tertarik menekuni musik.  

Ketika di bangku SMP, saya tidak hanya bermain musik dalam klub saja, melainkan juga sering bermain gitar di rumah. Suatu ketika, sewaktu bermain guitar, Ibu yang berada tak jauh tiba-tiba menyanyikan lagu yang musiknya sedang saya mainkan di gitar itu. Ternyata Ibu bisa menyanyikan lagu itu, dan suaranya pun layak untuk disebut merdu.

Ibu pun kemudian bercerita, tentang masa mudanya yang suka menyanyi. Setiap ada acara seni di kampung, terutama ketika berlangsung perayaan peringatan HUT Kemerdekaan  Agustus, Ibu dapat dipastikan tampil di acara tersebut. Ibu sering tampil menyanyi. Setelah tahu jika di masa mudanya, Ibu memiliki kesukaan menyanyi, saya pun termotivasi untuk belajar bernyanyi.

Ketika keinginan belajar menyanyi itu saya kemukakan, Ibu hanya bilang, “Kalau kamu ingin belajar bernyanyi, maka sifat pemalumu harus dihilangkan.”

        

Awalnya Malu Jika Menyanyi

Saya mencoba melakukan apa yang dikatakan Ibu. Tetapi hal itu ternyata tidak mudah dilakukan. Tetap  saja saya belum bisa menghilangkan rasa malu untuk tampil menyanyi. Sehingga bila ada kesempatan pentas, saya hanya bermain dalam grup musik saja dan tidak menyanyi, walau teman-teman di grup mendorong agar ikut menyanyi.

Ibu yang paham dengan situasi yang begitu, kemudian sering mengajak saya menyanyi bersama di rumah. Awalnya dimulai dengan menyanyi duet, yakni menyanyi bersama dengan suara yang berbeda, tetapi serasi, senada dan seirama. Setelah itu mulai menyanyi sendiri.    “Semestinya kamu bisa menyanyi, lho. Suaramu juga tidak jelek. Nah, mulai sekarang kamu tidak hanya bermain musik, tapi juga bernyanyi,” kata Ibu ketika itu.

Simak juga:  PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

Kata-kata Ibu itu sungguh telah mendorong atau memberikan support kepada saya untuk tidak hanya bermain musik saja, tetapi juga menyanyi. Kata-kata Ibu pun menjadi penyemangat. Dan, keberanian itu pun saya tumbuhkan. Kemudian saya mencoba menyanyi sambil memegang gitar. Setelah berulang kali melakukannya, saya merasakan bahwa saya bisa menyanyi sambil bermain gitar. Walau di awal-awal, masih ada perasaan saya bisa menyanyi kalau disertai dengan memainkan gitar. Jadi kala itu, bila tidak memegang atau memainkan gitar, saya tidak bisa menyanyi.

Sehingga akhirnya kalau saya menyanyi selalu memegang gitar, waktu itu bas gitar. Sampai kemudian ketemu teman yang pengalaman bermain musik, memberitahu bahwa kalau menyanyi sambil memegang alat musik itu, vokal atau suara menjadi tanggung, dan main musik pun tidak bisa berkembang bagus. Ia menyampaikan hal itu sekaligus memberikan berbagai argumen bahkan memberikan tahu bahwa masa depan bermain musik itu tidak bisa disambi sambil menyanyi. Karena banyak improvisasi dan petikan yang membuat sehingga musik menjadi Indah. Demikian juga menyanyi kalau sambil bermain musik pasti menyanyinya tidak bisa konsentrasi dan serius.

 

Tepuk Tangan Penonton

Tetapi di zaman itu, dan mungkin juga sampai sekarang, bermain musik itu banyak mendapatkan penghargaan sosial dari lingkungan, dibanding dengan menyanyi. Sehingga secara tidak langsung membawa saya ke arah lebih memilih bermain musik dari pada menyanyi. Namun karena oleh sesama pemain musik di grup menganggap saya bisa tampil menyanyi dengan baik, maka akhirnya saya tetap menyanyi seraya memainkan gitar.

Simak juga:  Menyanyi Membuat Hidup Lebih Berwarna

Dengan banyak bermain musik ketemulah dengan beberapa teman penyanyi dan mengiringi teman-teman penyanyi itu. Kemudian di setiap pentas grup musik saya mengiringi penyanyi, tepuk tangan meriah dari penonton atau pengunjung selalu diberikan kepada penyanyi begitu selesai menyanyi. Menyadari hal itu, akhirnya saya mencoba untuk bernyanyi tanpa membawa gitar. Ternyata benar, tepuk  tangan pun ditujukan kepada saya begitu selesai menyanyikan sebuah lagu. Sehingga secara jujur waktu itu saya merasa suka kalau diberi tepuk tangan dari penonton, meskipun penonton itu sedikit.

Di situlah muncul perubahan anggapan penilaian sosial dari bermain musik kepada penyanyi, sehingga kemudian saya lebih banyak memilih menyanyi, dibandingkan dengan bermain musik. Meskipun di sana sini banyak kendala yang menyertai, maksudnya kadang tidak setuju dengan akord yang jatuh pada saat saya menyanyi.

Perjalanan kesukaan yang akhirnya suka dengan menyanyi, ternyata membawa diri saya menjadi tidak canggung bergaul dengan teman-teman, baik di dalam lingkungan teman yang suka menyanyi maupun yang tidak atau belum suka menyanyi. Sehingga apa yang dirasakan ini adalah sebuah kenyataan bahwa dengan menyanyi,saya menjadi orang yang tidak canggung di dalam bergaul dengan siapa pun. Bahkan di dalam bergaulpun menjadi nyaman dan indah, tidak ada pembicaraan-pembicaraan yang cenderung selalu baik dan menyenangkan. Kesimpulan saya ternyata menyanyi itu memang sesuatu yang sangat indah dan menyenangkan. Ya, menyanyi itu indah. *** [Djoko Purwanto]

 

*** Drs. H. Djoko Purwanto, lahir di Yogyakarta pada 13 Juli 1951. Pensiunan Kepala Sekolah salah satu SMK di DIY kini sibuk dengan aktivitasnya sebagai asesor akreditasi SMK, bermain musik dan menyanyi. Bersama istrinya, drg. Restu Indah N, MPH, ia kini tinggal di Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *