Selasa , 28 September 2021
Beranda » Humaniora » Menyanyi dan Bermain Musik, Pengusir Stres
Saat berada di depan keyboard, saat mengiringi acara menyanyi tembang kenangan di Studio RRI Pro 1 Yogyakarta. (Foto: Ist)

Menyanyi dan Bermain Musik, Pengusir Stres

SEMUA bermula dari datangnya masa pensiun pada Desember 2007. Mobilitas yang semula tinggi mengalami penurunan drastis, mengakibatkan pikiran semakin tidak tentu rimbanya berkelana, sehingga dengan mudah terhinggapi rasa stres. Meskipun sebelumnya pernah tinggal di Yogyakarta, namun  kehidupan di Jakarta, tempat mengais rezeki dua puluh lima tahunan yang penuh dengan hiruk-pikuk sempat merubah pola hidup sesuai dengan tuntutan kehidupan setempat. Sehingga ketika kembali untuk menerima kehidupan di Yogyakarta yang tingkat mobilitasnya jauh berbeda, bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kesiapan diri untuk menerima realitas yang berbeda.

Dalam upaya mencari keseimbangan jiwa yang tengah terombang-ambing dalam ombak kebingungan, kegiatan apa pun saya lakukan terutama yang mendatangkan keuntungan di bidang finansial. Salah satunya  mempraktekkan teori wirausaha yang diberikan oleh kantor tempat saya bekerja di Kementerian Pariwisata sebagai bekal untuk pensiun. Namun karena jiwa wirausaha tidak ada pada diri saya, terlebih sejak bekerja karakter  telah  dibentuk sebagai pelayan masyarakat dengan menerima upah setiap bulan, akhirnya dengan berbagai pertimbangan niat berwirausaha itu sirna dam urung dilakukan.

Tidak berhenti disitu saja. Upaya mencari keseimbangan masih terus saya lakukan dengan berbagai kegiatan salah satunya menulis, meskipun karya menulis pernah dimuat di salah satu majalah ternama, namun itu pun tidak berlangsung lama. Dan kemudian, pada hari Minggu [lupa tanggalnya], dari membaca sebuah artikel di harian Kedaulatan Rakyat, saya bergegas mendatangi pertemuan dengan kegiatan pemutaran Piringan Hitam (PH) bertempat di aula kantor Kedaulatan Rakyat. Pertemuan itu  diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Lagu Lama yakni “Alamanda”. Dari pertemuan tersebut ternyata saya memperoleh  manfaat untuk bisa berkenalan dengan para hadirin yang datang. terutama yang berusia lanjut dan mempunyai hobi sama yakni menikmati musik khususnya lagu-lagu lama.

 

Ikut Lomba Menyanyi    

Jam berganti jam, hari berganti hari, terbukalah sudah jalan menuju penyegaran pikiran kalut, berbekal dengan perkenalan di kegiatan pemutaran PH “Alamanda” tersebut. Dari beberapa orang yang berjumpa di pertemuan itu, muncul tawaran atau ajakan untuk ikut serta kegiatan menyanyi di suatu komunitas pecinta tembang kenangan. Ajakan itu saya penuhi, dan selanjutnya berkembang dari komunitas menyanyi satu ke komunitas menyanyi lainnya.

Di tengah-tengah tumbuhnya rasa senang menyanyi, ada yang menyampaikan  informasi bahwa dalam waktu dekat akan diselenggarakan acara Lomba Vokal untuk Lansia oleh Sanggar “Era Kesuma”.  Tak pernah terbayangkan sebelumnya untuk ikut lomba menyanyi, tapi entah mengapa seperti ada dorongan yang kuat di hati agar mendaftarkan diri sebagai peserta lomba tersebut. Nah, saya pun mendaftar sebagai peserta lomba. Saya pun berusaha keras berlatih mempersiapkan diri, berusaha menguasai lagu wajib dan lagu pilihan dengan semaksimal mungkin.

Kerja keras berlatih itu tidak sia-sia. Dalam lomba menyanyi yang baru pertama kali mengikuti itu, saya berhasil meraih kemenangan sebagai Juara II. Lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan telah mengantarkan saya menjadi salah satu pemenangnya. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya, pertama kali ikut lomba menyanyi, eh, meraih sebagai Juara II. Keberhasilan meraih juara dalam lomba menyanyi itu, semakin membuat saya bersemangat untuk terus mengembangkan kesukaan atau hobi menyanyi, walau di usia tak lagi muda.

Tak sebatas hanya kesukaan menyanyi, saya pun kemudian mulai melirik ke permainan musik. Setiap kali ada kesempatan menyanyi, saya selalu diusik oleh keinginan untuk mengetahui bagaimana keyboard yang mengiringi saat menyanyi itu dimainkan. Ketika menyanyi atau saat menyaksikan yang lain menyanyi, mata saya diam-diam mengikuti gerak jari-jemari player di atas tuts hitam putih. Dan di waktu-waktu istirahat saya coba mengetuk tuts keyboard semampunya.

Simak juga:  Ketika Ibu Pergi, Sebuah Kenangan

Berbekal pengetahuan accord gitar seadanya saya sesuaikan pencarian accord di tuts hitam putih agar bisa lebih cepat memainkan keyboard. Pada kesempatan pertama, saya beranikan diri mengiringi teman-teman menyanyikan lagu-lagu yang saya kenal pula. Hasilnya sudah barang tentu tidak memuaskan. Saran dari teman-teman agar berlatih selalu saya perhatikan.  Alhamdulillah, pelan tapi pasti, saya pun kemudian bisa memainkan keyboard. Dan, kemudian berkat latihan yang tak pernah kunjung berhenti, teman-teman mempercayai saya untuk menjadi player di salah satu komunitas menyanyi hingga kini. Ancaman rasa stres yang sempat muncul pun akhirnya terusir oleh kesukaan menyanyi dan bermusik itu.

Ini beberapa lagu kesukaan yang sering saya nyanyikan dan mainkan di keyboard di awal kesukaan menyanyi dan bermusik itu muncul.

 

Biola Mengalun

Malam sunyi malam sepi biola mengalun                
Halus merdu sayup sayup berayun-ayun                     
Kau getarkan kau layangkan angin malam            
Engkau bawa dia ke medan gemilang

Terang bulan menyinari hening berirama
Kata sukma kau layangkan dengan swara 
Rindu dendam kau getarkan kasih sayang kau ucapkan     
Lalu-laju mengalunlah biolamu

 

Ibu

Sunyi semakin sunyi jauh semakin jauh 
Sendiri sepanjang hari tiada tempat merajuk
Mengapa terjadi kisah hidupku ini                  
Seakan tak kuasa tinggal di dunia

Hanya padamu Ibu diriku bersandar
Mengapa membisu belaian kasihmu tiada
Ampunkan dosaku jangan biarkan daku
Berilah pelita hidup dengan kasihmu Ibu

 

Hidup Kian Bergairah

Dari waktu ke waktu, perkembangan kegiatan menyanyi dan bermain musik semakin hari semakin membuat hidup saya bergairah, seiring  dengan bertambahnya teman-teman dari berbagai komunitas. Berbicara masalah musik dan tarik suara, kegiatan tarik suara atau menyanyi itu sendiri sebenarnya tidak hanya untuk menghibur diri saja. Ternyata oleh para pakar dimaknai sebagai sarana terapi kesehatan. Terlepas dari suara merdu atau tidak,  menyanyi dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan fisik. Diantaranya dapat memperbaiki pernafasan orang yang mengalami gangguan paru-paru, serta dapat membantu penderita demensia mengatasi sejumlah penyakit yang diderita.

Selain terapi kesehatan, menyanyi juga bisa melibatkan ekspresi perasaan serta menciptakan interaksi sosial yang dapat membantu mengurangi perasaan terasing di pergaulan masyarakat, serta meningkatkan rasa percaya diri. Sekalipun tidak menyanyi, mendengarkan  musik saja sudah bisa memberikan manfaat, salah satunya mengurangi stres. Nah, apalagi kalau menyanyi.   

Kegiatan menyanyi sekaligus memainkan alat musik baik itu gitar, piano, keyboard, dan lain sebagainya ternyata akan lebih lebih asyik dan lebih menyenangkan. Di kala sedang sendirian baik suka maupum duka, kita bisa melampiaskan emosi dengan bernyanyi sambil memainkan alat musik yang diinginkan. Kadang kala menyanyi dengan iringan musik (musical accord) sesuai selera kita sendiri, kenikmatan dalam membawakan sebuah lagu jauh lebih memuaskan. Ibarat menu masakan accord adalah bumbu-bumbu yang diramu untuk kelezatan masakan tersebut, bila bumbu sederhana kelezatan masakan dimaksud juga sederhana. Namun bila bumbu bervariasi terlebih peramunya seorang ahli, kelezatan masakan pun akan lebih bervariasi pula, demikian pula accord dalam permainan musik.  

Perjalanan dari kegiatan bernyanyi ke bermain musik sangat asyik dan menyenangkan. Semakin lama semakin indah dan mempesona. Bagaimana tidak? Banyak variasi penuh tantangan bermain musik, utamanya untuk mengiringi penyanyi dalam membawakan sebuah lagu. Bila penyanyi itu sudah menguasai lagu dengan baik untuk nada dan tempo, pemusik tinggal berkreasi mengembangkan musical accord beserta bunyi alat musik yang lain sebagai filler musik pengiring. Meskipun upaya mengembangkan kreasi musik iringan tidak semudah dikatakan, hal tersebut harus tepat. Kalau meleset hasilnya malah mengecewakan penyanyi, karena  bingung terasa asing tidak pas.

Simak juga:  Pengajian Rutin di Tengah Pandemi

Sebaliknya, sangat berbeda dengan penyanyi yang kurang atau tidak menguasai sebuah lagu yang dibawakan, terlebih baru tarap belajar menyanyi. Disitulah otak pemusik (player) betul-betul diperas untuk menghasilkan sebuah tampilan musik pengiring dengan baik, bisa dinikmati audiensi. Baik dan tidaknya tampilan ditanggung oleh player, bukan penyanyi. Penilaian baik atau tidaknya tampilan tersebut bergantung pula pada audiensi. Masih beruntung bila dari banyak audien tadi ada yang tahu dan paham akan musik dan bernyanyi, kalau tidak tetaplah pemusik atau player yang menanggung resiko.

Ini juga lagu-lagu kesukaan yang sering saya nyanyikan dan mainkan di keyboard.

 

Kambanglah  Bungo

Kambanglah bungo parauitan
Bungo idaman gadih-gadih pingitan
Dipasuntiang siang malam bungo kambangan
Rumah nan gadang

Kambanglah bungo parauitan
Si mambang riang ditarikan
Di desa dusun ranah Minang
Bungo kambang sumarak anjuang
Pusako Minang ranah Pagaruyuang
Dipasuntiang siang malam bungo kambangan
Rumah nan gadang

Kambanglah bungo parauitan
Si mambang riang ditarikan
Di desa dusun ranah Minang

 

Seruling di Lembah Sunyi

Seiring bersama alunan bunyi
Seruling di lembah sunyi
Di sana ku duduk seorang diri
Menjelang di malam hari

Terkenangku akan seorang kasihku
Yang telah pergi entah kemana
Oh angin sampaikanlah salamku
Kunanti dilembah sunyi

Seindah alunan seruling senja
Begitu cintaku padanya

 

Sangat Bermanfaat

Dari perjalanan panjang upaya mencari solusi pengusiran rasa stres, memang gampang-gampang susah. Namun setelah ditemukan ternyata liku-liku pencarian solusi dimaksud tidak ada artinya bila dibandingkan dengan hasil yang didapatkan. Kalau dikatakan dengan cara menelusuri hobi serta bakat itu pun juga tidak ada salahnya, namun saya sendiri mulai bernyanyi dan bermain musik juga bermula ketika semenjak pensiun. Ibarat pisau tumpul bila diasah setiap kali bisa jadi tajam, mungkin itu yang saya lakukan dalam upaya menghalau kebingungan di usia pensiun.

Bagaimanapun juga kegiatan tarik suara atau menyanyi serta bermain musik bagi saya nyata-nyata  sangat bermanfaat. Bukan sebatas hanya sebagai terapi kesehatan fisik saja, melainkan juga sebagai terapi kesehatan mental, salah satunya stres yang harus dimusnahkan. Namun demikian, dalam upaya menemukan sarana pemusnah stres tadi juga harus melalui perjalanan panjang yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya. Dan, untunglah keluarga, istri anak-anak dan cucu, memberikan dorongan serta dukungan yang sangat berarti.

Last but not least, saya menghimbau semua teman-teman khususnya di usia senja ini agar tidak bosan-bosan berupaya mengusir segala bentuk kegundahan, terutama stres yang bisa berakibat fatal. *** [Nasir Masjhoer]

 

 *** Nasir Masjhoer, adalah pensiunan PNS Kementerian Pariwisata Jakarta, yang alumnus Fakultas Sastra Jurusan Sastra Prancis UGM. Ayah tiga orang anak, dan kakek empat orang cucu ini sekarang tinggal di  kawasan Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *