Beranda » Humaniora » Menilik Dampak Virus Corona di Kampung Halaman
Memakai masker demi mengantisivasi corona. (Foto: Antara)

Menilik Dampak Virus Corona di Kampung Halaman

SELURUH dunia sedang diguncang oleh kedatangan sebuah virus yang mematikan. Bukan hanya merusak kesehatan, ia juga menjungkir-balikkan sektor ekonomi, mengacaukan tatanan sosial, mengubah sistem pendidikan, dan tentunya mengingatkan kita untuk selalu cuci tangan. Namanya Corona. Ia muncul dengan tiba-tiba dan mampu  menyebar kepanikan dalam sekejap. Namun, di beberapa tempat, masyarakat masih santai menanggapinya.

Dalam perjalanan pulang ke kampung halaman naik kereta, dari balik jendela, aku melihat keadaan nampak baik-baik saja. Rasa-rasanya mustahil seluruh dunia sedang kalap diterjang wabah. Senja masih tertambat dengan tenang, hamparan sawah mengalun dengan gemulai diterpa semilir angin. Siluet pepohonan pun nampak indah dari balik kaca jendela.

Di dalam kereta, nampak semua orang memakai masker, baik dari petugas maupun penumpangnya, termasuk diriku. Kursi dalam kereta pun tidak sesesak biasanya. Suasana dalam kereta tidak semencekam yang aku kira. Orang tetap terlihat santai namun waspada.

Bayangan akan film Train to Busan tiba-tiba terlintas. Aku membayangkan tiba-tiba dunia sudah chaos karena corona ketika aku turun dari kereta. Orang berbondong-bondong ingin kembali ke kereta, dan melarikan diri. Aksi heroik aktor Gong Yoo dalam filmnya itu pun mulai terlintas kembali di memoriku.

Tapi tentu saja hal itu tidak terjadi. Suasana sama sekali tak mengerikan seperti yang aku bayangkan. Sampai di stasiun tujuan, di Kecamatan Sidareja, aku malah disambut oleh deretan tukang ojek yang menawarkan jasanya. Tidak ada satu pun dari tukang ojek itu yang memakai masker.  Mereka tersenyum menawarkan jasanya tanpa terlihat takut berintraksi dengan orang baru.

Sekilas tampaknya tidak ada yang berubah di kampung halamanku. Walaupun sebenarnya beberapa tindakan pencegahan sudah dilakukan.

 

Sterilisasi

Penyemprotan disinfektan sudah di lakukan di tempat umum seperti pasar. Namun, belum ada penyemprotan khusus untuk pendatang yang  baru sampai sepertiku.  Rumah-rumah di desaku pun belum mendapatkan penyemprotan secara khusus. Namun, kesadaran warga untuk rajin cuci tangan sudah mulai tertanam. Sedangkan untuk pendatang, diwajibkan melapor ke pihak RT, dan melakukan cek kesehatan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IV : Indonesia Itu di Sana atau di Sini?

Larangan berkumpul dalam sebuah forum  sudah disosialisasikan oleh perangkat desa. Warga dihimbau untuk tidak melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Kegiatan seperti pesta pernikahan, yasinan, pengajian, dan kegiatan lain pun diimbau untuk ditunda.

Namun, tentu saja tidak semua orang lantas mematuhinya. Beberapa hari yang lalu tetangggaku ada yang nekat tetap menggelar pesta pernikahan. Malangnya, pihak kepolisian mengetahui rencana tersebut dan langsung membubarkan pesta pernikahan yang sedang berlangsung.

Malam saat aku sampai di rumah pun masih terdapat acara kenduri. Kenduri ini awalnya hanya akan diikuti oleh 7 orang. Tapi pada akhirnya bapak-bapak se-RT masih turut berpartisipasi. Berbeda dengan pesta pernikahan tadi, kenduri ini dapat berjalan lancar. Bahkan makanannya sampai pula ke rumahku.

Warga di desaku masih berinteraksi seperti biasa. Adikku saja masih bebas melenggang bermain kemana-mana. Anak-anak kecil tidak tahan berlama-lama di rumah. Sementara orang tua masih harus pergi untuk  mencari nafkah. Pasar pun masih dibuka. Kegiatan ekonomi masih berlangsung seperti biasanya. Seruan #dirumahaja sepertinya belum begitu diterapkan di sini.

Walaupun begitu, sebagai pendatang, aku tetap mengisolasi diri di rumah. Hal ini kulakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.  Aku pun mengurangi kontak dengan tetangga-tetanggaku.

Sementara itu, tetanggaku yang baru pulang dari Jakarta masih dapat diterima dengan baik di sini. Haya saja ia  tidak diperbolehkan mengunjungi istri dan anaknya di desa sebelah. Peraturan di desa sebelah sudah lumayan ketat. Alhasil, ia pun harus menahan rindu untuk bertemu keluarganya.

 

Mengapa Perlu Diwaspadai?

Virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19  ini, pertama kali muncul di kota Wuhan, China. Berdasarkan laporan mendalam CNN,  virus ini diduga ditularkan dari ular dan kelelawar. Walau begitu, kini virus corona dapat ditularkan oleh manusia tanpa perantara hewan. Oleh karena itu, sangat berbahaya bila kita melakukan kontak dengan orang yang sudah positif  terinfeksi.

Simak juga:  Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

Pada tanggal 12 maret 2020, WHO resmi menyatakan wabah corona sebagai pandemi. Menurut data penyebaran Covid-19 Global Cases By Johns Hopkins CSSE, pada Jumat, (27/3/2020), jumlah orang yang terinfeksi virus corona di dunia, kini mencapai lebih dari 500 ribu jiwa, dan lebih dari 24 ribu orang di antaranya meninggal dunia. Virus ini terbukti mampu dengan cepat mengurangi populasi manusia.

Vaksin untuk mengobati virus ini sendiri masih dalam tahap uji coba. Amerika serikat dan Cina masih berusaha menguji penemuan masing-masing. Oleh karena itu, rantai penyebaran virus hingga kini masih melonjak tak terkendali. Meski begitu, banyak pula pasien yang sembuh berkat penanganan yang tepat serta daya tahan tubuh yang kuat. Tercatat kini lebih dari 122 ribu jiwa telah dinyatakan sembuh dari Covid-19. 

Virus ini memang perlu dihadapi dengan tenang namun tetap waspada. Jika terlalu menggampangkan maka lonjakan kasus akan semakin meningkat. Belajar dari negara Italia, penanganan dianggap yang lambat dan terkesan menyepelekan membuat negara tersebut kini kewalahan. Hingga kini, angka kematian akibat corona di italia menduduki peringkat pertama.

Kita tidak pernah tahu bagaimana masa depan akan berlangsung. Ada baiknya kita berusaha mencegah lonjakan penularan dengan taat terhadap protokol pencegahan yang sudah dikeluarkan pemerintah. Virus ini terlihat remeh jika dilihat dari jauh. Tapi jika sudah masuk ke suatu wilayah, virus ini akan menyerang tanpa ampun.

Saat ini virus corona belum begitu berdampak pada aktivitas di desaku. Aku berharap situasi di sini tetap aman, dan tidak berubah menjadi mencekam. *** (Khusnul Khotimah)

 

            * Khusnul Khotimah, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

KETIKA virus Corona atau kemudian dikenal dengan sebutan Covid-19 menerpa dan merebak di negeri ini, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *