Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Mendaki dan Menyanyi
Ketika berada di puncak Merbabu (kiri) - Bernyanyi sambil memainkan gitar, sesuatu yang membahagiakan (kanan). (Foto: Ist)

Mendaki dan Menyanyi

DUNIA masa muda saya adalah dunia mendaki dan menyanyi. Mendaki yang dimaksud tentu saja mendaki gunung atau naik gunung. Sedang menyanyi, merupakan kesukaan atau hobi mendendangkan suara sambil bermain musik. Sebelum menyukai dunia pendakian gunung, saya sudah terlebih dulu menyanyi dan bermusik. Ya, saya sudah menjadi anak band.

Saat masih bergabung sebagai anak band, saya lebih menyukai lagu atau musik berirama rock dan sejenisnya, seperti  The Beatles, The Rolling Stones. Saya juga suka lagyu-lagunya The Rollies.        Tapi setelah tak lagi sibuk dengan aktivitas sebagai anak band, dan masuk ke hobi naik gunung, selera musik pun ikut berubah.

Hobi naik gunung membuat saya menyukai dan menggeluti irama musik yang lebih soft, seperti lagu-lagunya Leo Kristi, Iwan Fals, Franky Sahilatua, Bimbo, juga Lobo, dan John Denver. Musik dan lagu-lagu mereka terasa sangat pas dengan gejolak di dada saya yang menapaki aktivitas sebagai pecinta alam.

        

Menyanyi di Puncak Gunung

Mendaki dan menyanyi, sungguh sesuatu yang mengasyikkan. Oh iya, hampir semua gunung-gunung tinggi di Jawa sudah saya daki. Dan, dalam setiap melakukan aktivitas mendaki gunung, saya tak pernah lupakan kesukaan menyanyi. Saya merasakan, menyanyi di saat-saat pendakian gunung itu banyak manfaatnya.

Ya, menyanyi di suasana seperti itu selain bisa menghibur hati, juga bisa jadi penyemangat untuk terus melangkah. Terus mendaki. Mendaki sampau ke puncak. Apalagi menyanyi sambil menyaksikan keindahan gunung dan panorama alam sekitarnya. Menyaksikan keindahan alam ciptaan Allah SWT. Sungguh, ada keasyikan tersendiri.  

Dalam perjalanan pendakian atau ketika sampai di puncak gunung, selalu saya isi dengan mendendangkan lagu-lagunya Iwan Fals, Bimbo, John Denver, Lobo dan lainnya. Terutama lagu-lagu yang berkaitan dengan alam dan  keindahannya. Lagu-lagu itu semua sepertinya mampu menciptakan rasa kebersamaan, rasa seperjuangan, sependeritaan dan sepenanggungan, bagi sesama pendaki gunung.  

Simak juga:  Malioboro, Jalan yang Melegenda (3): Kesejukan dan Senyuman itu Sempat Hilang

Lagu-lagu Bimbo, Iwan Fals, Franky, Leo Kristi, Lobo dan John Denver itu sering saya  bawakan dalam kancah nasional di Gladian [pertemuan] Pecinta Alam dan Pendaki  Gunung Indonesia.

Khusus di Gladian tersebut saya pernah menyanyikan lagu dari Iwan Fals,  Bangunlah Putra Pertiwi, di hadapan Kang Iwan Abdurrahman, yang dedengkot grup Wanadri Bandung, sekaligus inspirator pecinta alam Indonesia. Kang Iwan Abdurrahman juga pencipta beberapa lagu Bimbo yang saya sukai. Jika menyimak lagi lirik-lirik lagu dari Iwan Fals ini, jadi terbayang lagi masa-masa penuh kesan saat menjadi pendaki gunung dulu.

               

         Bangunlah Putra Pertiwi

         Sinar matamu tajam namun ragu
         kokoh sayapmu semua tahu
         tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan
         kuat jarimu kala mencengkeram                                                                  

         Bermacam suku yang berbeda
         bersatu dalam cengkerammu

         Angin genit mengelus merah putihku
         yang berkibar sedikit malu-malu
         merah membara tertanam wibawa
         putihmu suci penuh kharisma

         Pulau-pulau yang berpencar
         bersatu dalam kibarmu

 

Selain lagunya Iwan Fals itu, lagu-lagu seperti Take Me Home, Country Roads dari John Denver, Stoney [Lobo], Rimba Jati [Bimbo], Salam dari Desa [Leo Kristi], Lelaki dan Rembulan [Franky Sahilatua], juga merupakan lagu-lagu yang pasti tidak terlupakan dinyanyikan saat pendakian, maupun acara pertemuan para pecinta alam.

Sekadar untuk mengingatkan masa-masa menyenangkan sebagai pecinta alam dan pendaki itu saya kutipkan sebagian dari lirik lagu Take Me Home, Country Roads itu.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Ageming Aji

 

          Take Me Home, Country Roads

         Almost heaven, West Virginia
         Blue Ridge Mountains, Shenandoah River
         Life is old there, older  than the trees
         Younger than the mountains, growin’ like a breeze

         Coutry roads, take me home
         To the place I belong
         West Virginia, mountain mama
         Take me home, country roads 

         All my memories  gather ’round her
         Miner’s lady, stranger to blue water
         Dark and dusty, painted on the sky
         Misty taste of moonshine, teardrop in my eye

         Dst………….

        

Berdoa dan Baca Puisi

Oh iya, selain naik gunung dan menyanyi, saya juga suka pada puisi. Dan dulu semasa remaja atau muda, tahun-tahun 70-an [sekitar 71 ke atas] saya pun punya kebiasaan nongkrong di Malioboro sembari nonton Umbu Landu Paranggi dan anak buahnya membaca puisi atau bicara soal puisi.

Umbu Landu Paranggi itu pengasuh rubrik sastra di Mingguan “Pelopor Yogya”, yang beralamat di Jl Malioboro. Ia mengkoordinir penulis-penulis muda atau anak-anak muda yang menyukai sastra, yang tergabung di dalam Persada Studi Klub.

Karena suka pada puisi, maka selain menyanyi, ketika di puncak gunung saya pun sering diminta untuk membaca puisi. Satu hal lagi, ketika berada di puncak gunung itu saya pun sering diminta untuk memimpin doa. Terasa lengkaplah apa yang saya lakukan ketika sampai di puncak gunung itu, menyanyi, baca puisi dan membaca doa. *** [Heru Purwanto]

 

*** Heru Purwanto, pensiunan BNI ’46 ini lahir di Yogyakarta pada 19 Desember 1954. Dan bersama keluarga sekarang  tinggal di Guyangan, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY

Lihat Juga

Menyanyi, Tak Harus Juara

AWALNYA tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk mengikuti lomba menyanyi di pertengahan September 2020 itu. Sejak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *