Kamis , 22 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Memimpikan Malaikat Tanpa Sayap
Saat-saat bahagia bersama Ibu. (Foto: dok)

Memimpikan Malaikat Tanpa Sayap

“Ibu yang kuat, ibu kuat, aku yakin ibu kuat, ibu kuat karena Allah,” bisikku sambil terisak saat melihatnya tidak sadarkan diri. Banyak selang yang terpasang, seakan membatasi kehidupanku kini dengan kehidupannya yang entah mengembara kemana.

ENAM tahun menempuh pendidikan sekolah berasrama membuatku jarang bertemu dengan keluarga. Aku terlahir sebagai anak pertama perempuan dengan dua adik laki-laki. Tumbuh besar di tengah keluarga yang terlalu menjunjung tinggi budaya patriarki, bahwa laki-laki harus dilayani. Dahulu sama sekali tidak pernah laki-laki di rumah menyentuh piring kotor dan membersihkannya, atau menggenggam baju kotor lalu mencucinya kemudian menjemurnya, bahkan menyetrika pakaian kusut. Perempuan di rumah hanya ada Ibu dan aku, dengan aku yang bersekolah di sekolah berasrama menjadikan Ibu yang harus melakukan itu semua. Beberapa kali hanya bisa kubantu saata kupulang dan libur panjang.

Sehari-harinya Ibu bekerja sebagai Penyuluh Agama di KUA Kecamatan Seyegan. Sebelum itu ia sempat menjadi Pendidik PAUD di KB Al Amin Sleman selama beberapa tahun. Lalu mendaftarkan diri, mengikuti tes CPNS dan lolos. Kemudian ditempatkan di KUA tersebut sejak tiga tahun silam. Aku tidak tahu pasti alasan berpindah pekerjaan, padahal aku lebih senang Ibu bermain dengan anak-anak dari pada mengurus berkas-berkas yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana wujudnya. Namun tidak ada yang berubah dalam kesehariannya menjadi ibu. Beliau tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa.

Ibu pernah mengalami keretakan tulang di lengan tangan kirinya karena terjatuh dari sepeda saat aku masih duduk di bangku MTs dan tinggal di asrama. Sempat di-gips beberapa bulan dan Alhamdulillah sembuh.

Namun beberapa tahun kemudian ada luka serius pada syaraf tulang belakangnya akibat kejadian jatuh dari sepeda tersebut. Kata dokter, syaraf tulang belakang Ibu terjepit. Lalu banyak kejadian mengejutkan setelah itu. Mulai dari kakinya yang membengkak besar hingga kesulitan berjalan, dan badan Ibu yang semakin hari semakin bertambah kurus, hingga di titik terkena penyakit ginjal karena obat herbal yang dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit syarafnya.

 

Ibu Tetap Ceria

Beberapa kali Ibu bolak-balik masuk rumah sakit untuk opname. Namun aku tidak pernah tahu sebenarnya apa penyakit yang dideritanya. Ibu tetap ceria mendengarkanku bercerita lewat pesan suara saat aku berada di asrama. Ibu tetap memberikan saran-saran yang jitu saat aku membutuhkan solusi atas permasalahan yang kuhadapi. Ibu tetap melantunkan nasihat yang menenangkan saat pikiranku kalut dan menangis tersedu di telepon. Ibu tetap mengirimkan uang saku mingguan dan makanan-makanan untuk cemilan saat belajar.

Ibu masih tetap sama, dengan caranya yang selalu bisa menyadarkanku dari kesalahan yang sudah kuperbuat. Seperti saat aku mengeluhkan nilai Matematika yang jauh dari kata memuaskan. “Kamu yang nggak adil. Kamu kasih porsi belajar lebih pada dua mapel. Sementara Matematika kamu nggak belajar. Gini lho, kalo dengan satu jam belajar Hadits kamu udah dapet nilai sempurna, seharusnya kamu belajar Matematika satu jam juga setidaknya mendekati sempurna. Setidaknya lebih dari nilaimu kemarin. Kamu yang nggak adil, soalnya kamu nggak kasih waktu belajar buat Matematika,” ujar Ibu.

Lalu aku melanjutkan dengan cerita teman-temanku yang tidak jujur saat mengerjakan soal ujian. Ibu hanya tertawa dan aku terisak. Suara ibu menenangkan sekali. “Yang penting pertama itu kamu harus semangat. Semangat melakukan apapun yang bermanfaat. Kerjakan segala hal yang penting. Tinggalkan yang dirasa kurang penting. Kedua, harus fokus. Jangan terpecah konsentrasinya. Ketiga, kamu harus bisa menetralisir perasaan. Buang jauh-jauh apa yang mengganggumu, jangan pikirin mereka yang nggak jujur. Urus dirimu sendiri dulu. Biarkan mereka udah ada yang ngurus sendiri,” pesan Ibu.

Simak juga:  Kembali ke Gotong-royong

Malam itu, aku bisa tertidur dengan tenang.

Entah berapa ratus kali aku menangis saat berbincang dengan Ibu di telepon maupun saat berpisah untuk kembali ke asrama. Berapa ratus kali pula aku merengek untuk pulang, pulang, dan pulang. Mungkin isi pesan di ponsel Ibu kepada pamong asramaku hanya perihal perizinanku pulang saja. Ibu hanya berkata dengan tenang, “Belajar menikmati apa yang ada sekarang. Bayangkan bahagianya bukan beban beratnya.”

Akhirnya lulus juga! Senang sekali akhirnya bisa menemani ibu di rumah, membantu melakukan apa saja, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bercerita. Ibu seorang aktivis. Ibu juga kerap mengurus kegiatan TPA di masjid dekat rumah bahkan menjadi salah satu pendiri TPA tersebut. Administrasi TPA selalu Ibu yang mengurusi. Keterbatasan sumber daya manusia yang bisa menjadi ustadzah di TPA membuat Ibu harus mengurus lebih banyak lagi. Di samping itu, Ibu juga menjadi aktivis BADKO Daerah Sleman yang ketika acara perlombaan Festival Anak Sholeh Indonesia selalu menjadi salah satu jurinya, tidak jarang juga ikut meramaikan acara dengan bernyanyi. Suara Ibu bagus sekali.

Ibu banyak membantuku dalam proses menjadi mahasiswa baru di UIN Sunan Kalijaga. Ia menceritakan kiprah saat menjadi mahasiswa dulu yang juga berkuliah di tempat yang sama, hanya saja dulu masih berbentuk IAIN Sunan Kalijaga. Ibu menjadi aktivis HMI, lalu bercerita bahwa ia juga manggung di mana-mana dengan band-nya.

Ayah menetapkan syarat ketika aku masuk dunia perkuliahan. Yang pertama tentu saja aku dipaksa untuk masuk UGM, apapun jurusannya. Yang kedua pun demikian, hanya saja di UNY, kampus ayah dulu. Pilihan ketiga yang ayah ajukan yang kini kuambil, dan aku tidak pernah menyesalinya. Ayah memperbolehkan aku berkuliah di UIN Sunan Kalijaga, tetapi hanya di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Aku menyanggupinya bahkan hingga diterima di pengumuman dua tes, UM-PTKIN danUjian Mandiri berbasis CBT.

Ketika Ibu Sakit

Tidak lama setelah aku masuk dunia perkuliahan, menjalani masa-masa pengenalan dunia kampus, dan memasuki dua bulan pertama di semester awal kuliah, Ibu kembali drop dan harus opname di rumah sakit. Waktu itu Ibu sudah tiga hari mengalami sesak napas, tetapi menolak untuk diajak berobat. Di hari ketiga, akhirnya ibu meminta tolong kepada tetangga untuk mengantarkan ke Puskesmas. Dari Puskesmas langsung dirujuk ke RS PKU Gamping. Aku masih ingat betul kejadian waktu itu, hari Kamis, 27 September 2018 dan Ibu sudah sesak napas sejak hari Selasa.

Pada hari berikutnya, Jumat, 28 September 2018 Ibu harus melakukan cuci darah untuk pertama kalinya. Ingin rasanya menangis, tetapi tak sanggup. Berjajar di samping tempat Ibu justru simbah-simbah yang sudah usia tua. Hanya Ibu yang terlihat paling muda di situ. Ibu tertahan di IGD karena harus dipindahkan ke RS PKU Yogyakarta yang fasilitasnya lebih lengkap dan harus masuk ke ICU. Malam itu juga berpindah. Sampai di sana, ternyata tidak perlu ditempatkan di ICU karena keadaan sudah lebih baik.

Simak juga:  Falsafah Wanita dan Garwa, Kunci Sukses Tugas Ibu Rumah Tangga

Kamar dengan fasilitas kelas satu sudah penuh. Akhirnya Ibu ditempatkan di kamar dengan fasilitas kelas dua yang lumayan sempit dan pengap. Malam itu dan malam selanjutnya, aku yang menemaninya. Mengajak bercerita, menyuapkan makanan, meminumkan obat, mengelap badannya saat pagi dan sore hari, dan melayani setiap saudara maupun kerabat Ibu yang datang menjenguk saat jam besuk tiba.

Hari Ahad pagi aku memutuskan untuk pulang sejenak, mandi dan berganti pakaian. Kemudian kembali lagi ke rumah sakit selepas Dhuhur. Ibu sudah semakin membaik. Bahkan beberapa kali aku mengajaknya berfoto untuk kusimpan sebagai kenang-kenangan. Ibu ceria sekali. Mendengarkan aku bercerita tentang masa-masa awal perkuliahan sembari mengenggam tanganku erat dan menatap lekat-lekat wajahku.

Satu hal yang tidak pernah kusangka, bahwa itu adalah foto terakhirku bersama Ibu, karena pada sore harinya saat jam besuk dimulai, Ibu mulai tidak sadarkan diri. Tangannya panas sekali. Suhu tubuhnya mencapai 37 derajat Celsius. Dokter dan suster sudah dipanggilkan, infus sudah diganti dengan tetesan obat Paracetamol untuk menurunkan suhu tubuhnya. Namun tidak juga turun. Saudara mulai berdatangan. Pakde dan Bude menuntun Ibu untuk terus melantunkan asma Allah. Aku kalut, benar-benar kalut.

Beberapa kali Ibu memanggil namaku, menggenggam erat tanganku, dan menatap lekat wajahku, meskipun sesekali tidak sadarkan diri dan bergerak di luar kendali tubuhnya. Aku hanya bisa berbisik pelan, “Ibu kuat, ibu kuat, aku yakin ibu kuat karena Allah. Ibu, aku sayang Ibu karena Allah. Aku cinta Ibu karena Allah. Ibu kuat menghadapi ini semua. Ayo, Ibu kuat!”

Menjelang maghrib, Ibu dibawa ke ruang observasi. Detak jantung Ibu normal, tetapi tidak lagi sadarkan diri. Berbagai macam selang mengelilingi tubuhnya. Alat bantu napas masih terpasang. Sesekali kudengar Ibu mengucapkan satu kata yang berulang, “Allah, Allah, Allah,” yang terasa samar-samar didengarkan. Selepas sholat Isya, aku kembali menemani Ibu di ruang observasi. Terus menggenggam tangan Ibu yang hangat. Berbisik pelan di telinganya, berulang-ulang. “Ibu kuat, Ibu kuat karena Allah. Aku yakin Ibu kuat. Aku sayang Ibu karena Allah. Ibu bangun,” lalu menghembuskan napas panjang.

Kalimat yang selanjutnya kuucapkan ada yang kuubah sedikit, “Ibu kuat, Ibu kuat karena Allah. Aku sayang Ibu karena Allah. Kalau memang Allah lebih sayang sama Ibu dan ingin  Ibu pulang, aku rela. Berikan ketabahan ya Allah. Aku sayang Ibu.”

Tepat pukul 20.15 WIB, Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Allah telah menjemput satu malaikat tanpa sayap kesayangan banyak orang untuk segera menemui-Nya di alam sana.

Malam itu sempat aku ikut memandikan jenazah Ibu. Namun baru setengah jalan, aku sudah tidak kuat menahan tangis. Akhirnya memilih keluar dan menenangkan diri. Malam itu juga jenazah Ibu dibawa pulang menggunakan ambulan dan dimakamkan keesokan harinya.

Dini hari setelah kepergian Ibu, aku baru bisa menangis di kamar Ibu, ditemani Bulik dan saudara. Menangis hingga tertidur. Memeluk hiasan kulkas berbentuk Ka’bah, impian Ibu yang belum terwujud. *** (Alvin Sofia Khoirunnisa)

 

          *Alvin Sofia Khoirunnisa, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Ketika Ibu Pergi, Sebuah Kenangan

BAGI  saya, tiada lagi masa yang paling menyakitkan di dunia tempat kita berpijak, melainkan ketika …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *