Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Sastra » Membaca Puisi Di Antara Taman dan Dekat Pantai
Ajie Wartono. (Foto: Ist)

Membaca Puisi Di Antara Taman dan Dekat Pantai

Para pembaca puisi yang tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 109, dalam Poetry Reading From Home seri 8, yang mengudara melalui youtube sastra bulan purnama, Jumat, 2 Oktober 2020, pukul 19.30 mengambil latar belakang yang berbeda-beda. Retno Darsi Iswandari misalnya, yang tinggal di Australia membaca puisi dekat pantai, dan di belakangnya tampak warna hijau menghiasi.

Rosana Haryanti, tinggal di Malang dan sehari-harinya mengajar di FIB Universitas Brawijaya, Malang, Taman di kampus menjadi latar belakang Ocha, panggilan Rosoana Hariyanti, membacakan puisi dalam buku ‘Blues Rindu’ karya Langston Hughes, yang diterjemahkan Krisbudiman.

Lain lagi dengan Aji Wartono, seorang pegiat jazz di Yogya, dan salah satu pencentus ngayojazz, mengambil buku-buku yang dipajang di rak, sehingga terlihat sebagai perpustakaan menjadi latar belakang untuk membaca puisi. Yang lebih unik, Alex Lutfhi, seorang pengajar di ISI Yogya, memilih film dokumentasi tahun 1930-an menjadi latar belakang untuk membaca puisi, sehingga memberikan kesan puisi-puisi karya Langston Hughes menyajikan kerinduan masa lalu.

Pembaca yang lain, Yeni Mada, tinggal di Pontianak, bukan hanya unik, mungkin malah absurd, tetapi menarik. Tampakanya ia baru selesai mandi dan keramas, dan kepalanya dibungkus handuk. Handuk di kepana menjadi kostum dalam membaca puisi, dan hanya kepala dan handuk yang diperlihatkan, wajahnya tidak tampak.

Simak juga:  Kampus Biru di Bulan Purnama

Beragam latar belakang di ambil dari para pembaca puisi, setidaknya untuk menegaskan bahwa pembaca puisi tampil di tempat yang berbeda-beda, dan masing-masing tidak saling bertemu, tetapi masing-masing saling kenal dan bersahabat,

Seorang penonton, yang tinggal di Jakarta, Rita Ratnawulan namanya, melihat pertunjukan Sastra Baulan Purnama  seri Poetry Readung  From Home dari rumahnya, dan sempat sekaligus mengabadikan bulan purnama di langit Jakarta, padahal di Yogya, rembulannya tidak tampak,meskipun langit tidak mendung.

“Ini bulan purnama di Jakarta Pak Ons, tampak cerah, padahal sejak jam 3 sore Jakarta dan Tangsel hujan dersa” Rita mengirimkan foto bulan purnama melalui WA sambil memberi penjelalasan.

Begitulah Sastra Bulan Purnama di masa Pandemi, yang disiarkan melalui youtube bisa dilihat dari kota yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Selain Rita, Kidung Purnama, tinggal di Ciamis, ikut menikmati sambil menyapa melalui chating.

Retno Darsi Iswandari, tinggal di Australia, ketika menikmati SBP, yang disiarkan secara ‘live’ di kotanya meunjukkan pukul 22.30, padahal SBP dimulai pukul 19.30. Dilihat dari respon Retno dan para pembaca dan penonton lainnya, terlihat Retno melihat sampai akhir. Durasi SBP diputar sekitar 1 jam, sehingga pada pukul 23.30 di kota di mana Retno tinggal SBP baru selesai, padahal di Indonesia, 21,30 SBP sudah berakhir.

Simak juga:  Duryudhana

Semua pembaca tampil kalem. Tidak ada satupun pembaca yang teriak-teriak dalam membaca puisi, seperti sering kita lihat penyair membaca puisi dengan suara keras. Mungkin  karena puisinya memang tidak bisa dibaca dengan suara keras. Dalam suasana yang teduh, puisi2 Langston Hughes terasa enak untuk dibaca.

Ada yang membacakan 4 judul puisi, setidaknya seperti Rosana Hariyanti dan Retno Darsi Iswandari. Namun ada yang membacakan dua puisi seperti Ajie Wartono dan Alex Lutfhi, juga Arluna, yang mengawali membaca puisi di Sastra Bulan Purnama 109.

Selain pembacaan puisi, tampil petikan gitar dari Syarif Hidayatullan, yang mengolah 3 puisi Langston Hugehs dalam irama blues. Penampilan Syarif memang memberi warna dalam pertunukan Sastra Bulan Purnama, yang bertajuk ‘Blues Rindu di Bulan Purnama’. Tampaknya, Syarif memang ingin hadir secara konsisten dengan judul bukunya ‘Blues Rindu’.

Lagu puisi yang sering tampil selama ini, biasanya digarap secara pop atau balada. Pernah pula dipadukan dengan musik jazz. Tapi ini kali, Syarief mengolahnya dalam musik blues, dan sungguh suara dan petikan gitar enak untuk didengar, dan puisinya terasa hidup.

Barangkali bisa dikatakan, Sastra Bulan Purnama,, yang sudah berlangsung selama 9 tahun,  untuk kali ini berwarna blues. (*)

Lihat Juga

Di Tempat Berbeda, Penyair Saling Membaca Puisi Untuk 9 Tahun Sastra Bulan Purnama

Penyair dari kota yang berbeda, seolah saling bertemu, padahal masing-masing di tempatnya sendiri, mengambil lokasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *