Sabtu , 8 Agustus 2020
Beranda » Peristiwa » Lohayong Solor Punya Peninggalan Sejarah dari Portugis
Kawasan Pulau Solor. (Foto: weeklyline.net)

Lohayong Solor Punya Peninggalan Sejarah dari Portugis

PULAU Flores  berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dan termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km².

Suku  yang  berada di Kepulauan Flores merupakan percampuran antara etnis Melayu, Melanesia, dan Portugis. Flores identik dengan kebudayaan Portugis karena pernah menjadi koloni portugis. Nama Flores itu sendiri berasal dari bahasa Portugis yaitu “cabo de flores“ yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama itu semula diberikan oleh S.M. Cabot untuk menyebut wilayah timur dari Pulau Flores. Namun pada akhirnya di pakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hendrik Brouwer.

Sebuah studi yang cukup mendalam oleh Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Flores sebenarnya adalah Nusa Nipa (Pulau Ular), yang dari sudut antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural, dan ritual masyarakat Flores.

Namun kali ini saya hanya lebih ingin mengenalkan lebih mendalam tentang salah satu pulau di Flores Timur, yakni Pulau Solor, dan lebih khususnya Desa Lohayong.

Solor adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, yakni di sebelah timur Pulau Flores. Pulau ini dibatasi oleh Selat Lowotobi di barat, Selat Solor di utara, Selat Lamakera di timur, serta Laut Sawu di selatan. Secara administratif, Pulau Solor termasuk wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini merupakan satu di antara dua pulau utama yang ada wilayah Kabupaten Flores Timur. Pulau Solor sendiri terdiri dari dua kecamatan: Solor Barat dan SolorTimur.

Simak juga:  Puisi dari Guru dan Dosen di Sastra Bulan Purnama

Sedang Desa Lohayong merupakan salah satu desa yang ada di Pulau Solor. Desa ini merupakan satu dari 19 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Solor Timur. Di desa ini sebagian besar penduduknya bersuku Flores. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian utama di desa ini adalah kemiri, kakao dan lain-lain.

 

Benteng Lohayong

Lohayong  juga  mempunyai salah satu peninggalan bersejarah dari masa penjajahan Portugis, yakni yang sekarang diberi nama Benteng Lohayong. Benteng yang merupakan bukti sejarah misi penyebaran agama di Kabupaten Flores Timur tersebut terletak di bukit yang berhadapan langsung dengan pelabuhan Lohayong Kecamatan Solor. Sebagai salah satu bukti sejarah Benteng Lohayong juga menyimpan banyak cerita tentang perdagangan dan penjajahan di masa pendudukan sebelum Indonesia Merdeka. Di lokasi tersebut terlihat jelas sisa-sisa Benteng yang digunakan sebagai pertahanan di masa pendudukan Belanda. Batu-batu yang tersusun sebagai tembok masih nampak di atas bukit tersebut walaupun sudah runtuh akibat gempa bumi pada tahun 1980-an.

Ada beberapa bentuk atau jenis kebudayaan yang unik pada masyarakat Kepulauan Solor, khususnya pada masyarakat Solor timur. Bentuk kesenian atau kebudayaan itu berupa tarian adat Danadani, tarian Lilin, Dolo-dolo, Hanja, Mensa. Semua bentuk dan ragam kebudayaan masyarakat  Lohayong  Solor akan ditampilkan pada setiap hari raya baik itu hari raya Idul Adha maupun hari raya Idhul Fitri.  

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Keberagaman Satu Keniscayaan

Mensa atau kentao mensa merupakan sebuah bentuk kebudayaan berupa pencak silat. Biasanya masyarakat Lohayong Solor menyebutnya dengan sebutan kentao.

Dalam melakukan tarian adat berupa Danadani, ada beberapa syarat yang harus di jalankan, di antaranya harus menggunakan kain adat berupa tenun dari daerah Solor Timur khususnya Desa Lohayong.

Makanan khas dari  Lohayong Solor berupa jagung titi atau biasa disebut watabitti. Jagung titi merupakan olahan yang berbahan dasar jagung. Cara pembuatannya sedikit mudah bagi penduduk asli Lohayong, akan  tetapi sangat sulit bagi orang yang baru pertama kali melihat cara pembuatannya. *** (Muhammad Ma’ruf Hidayatullah)

 

          * Muhammad Ma’ruf Hidayatullah, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *