Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota
Saat berbincang dengan mahasiswa dalam kuliah online, santai dan mengasyikkan. (Foto: Ist)

Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

KETIKA virus Corona atau kemudian dikenal dengan sebutan Covid-19 menerpa dan merebak di negeri ini, maka kegalauan, kecemasan dan kegelisahan pun terjadi. Saya tak ingin menyebutnya ketakutan, karena nanti dikira kita termasuk bangsa yang penakut.

Kegalauan, kecemasan dan kegelisahan terjadi dikarenakan virus Corona itu dipandang sebagai virus berbahaya bahkan mematikan. Benarkah berbahaya dan mematikan? Saya tak punya kapasitas untuk berbicara tentang kedahsyatan virus Corona atau Covid-19 itu, karena memang bukan ahlinya.

Tapi bila kita menyimak pemberitaan di berbagai media, maupun informasi-informasi yang disebarkan Pemerintah, baik dari Pusat sampai Kelurahan atau Desa, begitulah realitanya. Korban berjatuhan di berbagai wilayah atau kota. Baik yang menderita sakit, maupun meninggal dunia.

Untuk menanggulangi atau membatasi gerak laju Covid-19, Pemerintah pun kemudian mengambil sejumlah langkah. Di antaranya memberlakukan atau menggencarkan gerakan social distancing atau psychal distancing, penggunaan masker, tetap di rumah, penyemprotan disinfektan, dan lain-lain.

Dengan social distancing atau psychal distancing, masyarakat diminta untuk selalu membuat jarak antara satu sama lainnya, jarak berkisar antara satu hingga satu setengah meter (bahkan awalnya dua meter, dan kabarnya sekarang dianjurkan lagi), menghindari keramaian, tidak berkerumun, atau tidak bertemu dengan banyak orang. Agar ada jarak dengan orang lain, tidak berkerumun, tidak berada di keramaian, tidak bertemu banyak orang, maka masyarakat diminta untuk tetap di rumah saja. Hindari keluar dari rumah, bila tidak perlu sekali.

 

Kuliah Online

Akibat dari semua itu, maka bermunculanlah sejumlah aturan ketentuan dan kebijakan di berbagai instansi pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan, instansi swasta, perusahaan-perusahaan, bahkan di kampung-kampung, atau desa-desa. Dan, di kampus-kampus perguruan tinggi, muncul kebijakan pemberlakuan sistem pembelajaran online atau kuliah online, tak ada pertemuan atau perkuliahan tatap muka di kelas, bahkan sampai menutup kampus dari kehadiran mahasiswa, juga karyawan dan dosen-dosennya.

Nah, maaf, saya memang tak ingin berbicara tentang apa dan bagaimana bahayanya Corona. Karena seperti yang dikemukakan di atas, saya memang bukan ahlinya. Saya hanya ingin berbicara tentang kuliah online saja, salah satu kebijakan yang ditempuh di dunia pendidikan kita akibat merebaknya ancaman Covid-19. Dan, yang saya kemukakan pun bukan tentang kelebihan dan kelemahannya, tapi hanya perihal keasyikannya. Cuma itu. Cuma tentang keasyikannya.

Andai ada yang bertanya, apakah kuliah online itu mengasyikkan? Saya jawab: iya. Kuliah secara online itu memang mengasyikkan. Menyenangkan. Membuat saya gembira. Setidaknya itulah yang saya rasakan, sebagai orang yang terlibat di dalam proses aktivitas pembelajaran online itu. Oh iya, kebetulan di semester genap tahun akademi 2019/2020 ini saya masih dipercaya mengampu salah satu mata kuliah di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Simak juga:  Berlaku Mulai Minggu Pukul 00.00, Menlu Sampaikan Kebijakan Indonesia bagi Pendatang

Ketika ketentuan atau kebijakan sistem pembelajaran online atau kuliah online itu diberlakukan di kampus, mata kuliah yang saya berikan masuk pertemuan ketujuh, dari 14 pertemuan di luar Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Jadi, saya memulai pertemuan dengan mahasiswa lewat dunia maya itu pada perkuliahan ketujuh, yang merupakan pertemuan terakhir menjelang UTS.

 

Lintas Kota

Saya mengampu di dua kelas. Kebetulan pertemuan di dua kelas itu berlangsung pada hari yang sama. Pagi dan siang. Di kelas online, jadwal pertemuan tetap tak berubah. Harinya tetap, pagi dan siang. Hanya jamnya saja yang saya geser sedikit. Kelas pagi yang dijadwal dimulai pukul 07.00 saya mundur pukul 08.00, sedang kelas siang yang semula mulai pukul 13.15 mundur pukul 14.00.

Sehari sebelum perkuliahan online itu dimulai, saya terlebih dulu berunding dengan mahasiswa (tentu lewat dunia maya juga) tentang model dan media yang digunakan dalam kulian online tersebut. Saya menawarkan model dan media yang mudah, praktis serta ringan di biaya pulsa. Mahasiswa setuju dengan tawaran itu.

Di hari pertama pertemuan di kelas maya itu saya benar-benar gembira. Saya semula agak khawatir juga jika tingkat kepedulian atau atensi mahasiswa mengikuti kuliah online itu rendah. Ternyata tidak. Kekhawatiran saya hilang begitu kuliah dimulai sesuai jam yang disepakati. Setelah membuka perkuliahan, berbincang sebentar, kemudian saya mempersilahkan mahasiswa mengisi daftar hadir. Ternyata hanya berselang beberapa menit saja, presensi atau daftar hadir mahasiswa itu sudah penuh. Para mahasiswa sudah siap di depan peralatannya sebelum kuliah dimulai.

Walau bertemu di dunia maya, tidak di depan kelas, semula saya duga para mahasiswa itu masih tetap berada di Yogya. Apalagi jarak pengumuman diberlakukannya kebijakan kuliah online dengan pelaksanaan kuliah online mata kuliah saya hanya beberapa hari saja. Jadi, saya pikir mereka belum punya waktu untuk meninggalkan Yogya.

Tapi dugaan saya keliru. Sebagian besar mahasiswa yang mengikuti mata kuliah saya itu sudah pulang ke kampung halaman atau ke kotanya masing-masing. Hanya sebagian kecil saja tetap setia di Yogya, yakni mereka yang memang punya aktivitas lain di Yogya atau memang sengaja tidak pulang kampung, dan terutama tentu mahasiswa yang berasal dari Yogyakarta (DIY) sendiri.

Kegembiraan saya bertambah. Saya merasakan suatu keasyikan tersendiri. Betapa tidak. Untuk yang pertama kalinya, melalui kuliah online, saya menyampaikan materi perkuliahan kepada mahasiswa yang berada di berbagai kota dan daerah. Ada yang di Jawa, Bali, Sumatera, Maluku, NTB, NTT dan lainnya. Jadi, ini kuliah lintas kota atau lintas daerah. Ya, kuliah online telah membuat saya seakan mengembara dari kota ke kota. Mereka ada yang tinggal di kota provinsi, kota kabupaten, kota kecamatan, bahkan desa. Ada di kota yang ramai, dan ada pula di desa yang sepi. Ada di tempat yang jaringan atau sinyal selulernya mudah, dan ada pula di tempat yang jaringan atau sinyalnya sulit. Mengasyikkan, bukan?

Simak juga:  Wartawan Mulai Bersaing dengan Robot

Ternyata, begitu diumumkannya kebijakan sistem pembelajaran online, para mahasiswa itu bergegas berangkat pulang ke kota asalnya masing-masing. Kebetulan kebijakan psychal distancing belum begitu ketat, kebijakan isolasi mandiri pun belum diberlakukan seketat sekarang. Jadi langkah mereka pulang ke kota asal tidak menemui banyak hambatan.

Imajinasi saya pun melayang ke mana-mana. Saya membayangkan para mahasiswa yang mengikuti kulian online itu ada yang sedang di teras rumah sambil memandang suasana di jalanan depan rumah, ada yang di tempat tidur sambil rebahan. Dan, ada pula di dapur dekat ibunya yang sedang memasak, ada yang di dekat jendela sambil menatap hamparan ladang, kebun dan pepohonan di sekitar rumahnya. Ou, betapa asyiknya suasana seperti itu.

         

Dinamis dan Seru

Saya merasakan perkuliahan tak hanya mengasyikkan, tapi juga berlangsung seru. Diskusi, tanggapan, dan tanya jawab berlangsung dinamis dan seru. Sepertinya jauh lebih seru dibanding diskusi saat pertemuan di kelas. Mahasiswa hampir semuanya terlibat. Mereka seakan tanpa beban, tanpa rasa sungkan, mengutarakan pendapat, gagasan dan buah-buah pikiran.

Kebebasan dan kesukaan mereka bicara atau memposting informasi, pendapat dan semacamnya di media sosial, terbawa ketika berada di perkuliahan online. Buat saya ini tentu sesuatu yang menarik. Karena perkulian jadi dinamis, meriah, semarak, menarik dan seru. Semua terlibat berinteraksi. 

Di akhir pertemuan saya katakan kepada para mahasiswa, “Secara formal waktu pertemuan kita sudah selesai. Tapi nonformal, kita bisa berbincang sampai menjelang saya tidur.” Karenanya, tak sedikit pula mahasiswa yang melanjutkan perbincangan, berbincang tentang materi kuliah, atau lainnya. Bahkan ada pula yang menampilkan atau mengirimkan hasil karya kreatifitasnya, seperti puisi dan lainnya.

Dan, ini tak kalah menariknya. Di akhir pertemuan, saya menampilkan rekaman lagu, kebetulan saya yang menyanyi. Saya katakan ke mahasiswa ini sekadar hiburan, yang mudah-mudahan bisa mengurangi kecemasan dan kegelisahan karena virus Corona. “Ingat, selalu jaga kesehatan, hati-hati dan waspada terhadap virus Corona. Patuhi anjuran pemerintah agar terhindar dari bahaya Covid-19,” ini kata saya ke mahasiswa.

Maka pujian pun mengalirlah. Saya pun gembira. Tersenyum-senyum sendiri. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Wong Jawa Ilang Jawane

KETIKA manusia pertama jatuh kedalam bujukan setan, penyebab utamanya , keinginan menyamai penciptanya. Buah di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *