Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Kliwon sebagai Pusat Kehidupan Orang Jawa

Kliwon sebagai Pusat Kehidupan Orang Jawa

Orang Jawa dalam setiap gerakanya senantiasa berhitung. Ketika hendak mengawali suatu pekerjaan, entah besar, entah kecil umumnya selalu saja menghitung hari baik dan keberuntungannya. Sebab dalam pemahaman orang Jawa terpatri sebuah pengertian, “Boboting laku iku wiwitan”, yang paling berat dalam sebuah perhelatan itu adalah memulai. Oleh karenanya pertimbangannya sangat banyak. Pertimbangan ini diambil supaya selamat nantinya sampai tujuan yang dimaui. Perhitungannya begitu rumit. Orang Jawa mengenal perhitungan sungguh rumit, sehingga banyak orang yang tidak terlalu sabar mengatakan ’pating clekunik’, kemudian lahirlah istilah ’klenik’. Padahal kalau diteliti sesungguhnya  semua itu agar selamat dengan apa yang ditujunya ketika berkarya atau mengerjakan sesuatu.

Sejak kapan manusia Jawa mempunyai perhitungan atau jawanya ’Petung’ tentang pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Tentu sejarah panjang perlu penelusuran. Perhitungan itu meliputi, baik buruknya pasaran, hari bulan dan lain sebagainya.

Awalnya kita perlu menguak misteri mitologi tentan hari. Awalnya adalah sebuah mitos atau legenda tentang Dewa Matahari atau Bathara Surya  yang turun ke bumi menjelma menjadi brahmana Raddi di Gunung Tasik.

Iya menciptakan hitungan hari yang disebut sebagai Panca Wara atau lima bilangan. Yang di kemudian hari disebut sebagai Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon. Adapun nama awalnya semua disebut sebagai Manis, Pethakan, Abritan, Jenean, Cemengan dan Kasih.

Hal ini bisa disimak dari tulisan Raden Ngabehi Ranggawarsita. DI kemudian hari Brahmana Raddi ditarik di Kerajaan Gilingwesi dan dijadikan sebagai penasehat Prabu Selacala. Di Gilingwesi inilah kemudian Sang Brahmana membuat sesaji yang diperuntukkan bagi para pemimpin desa selama tujuh hari berturut turut. Dan setiap kali sehabis sesaji hari itu diberi nama sebagai berikutL: Sesaji emas yang dipuja adalah Matahari. Oleh renanya hari itu diberi nama Radite. Dan dikemudian hari disebut hari Ahad. Yang kedua sesaji perak. Yang dipuja Bulan. Oleh karenanya hari itu diberi nama Soma dengan nama sekarang disebut sebagai hari Senin. Kemuian hari berikutnya Sang Brahmana menggelar sesaji gangsa (perunggu) bahan untuk membuat gamelan perunggu dengan memuja api.. Kemudian hari itu diberi nama Anggara, dengan nama sekarang hari Selasa. Selanjutnya dilaksanakanlah sesaji besi dengan memuja bumi. Kemudian hari yang lahir disebut sebagi Budha atau Rabu untuk nama harinya.

Simak juga:  Membumikan Wahyu Cahya Buwana

Lantas sesaji perunggu digelar untuk memuja petir, hari itu diberi nama sebagai Respati dengan nama sekarang Kamis. Kemudian disajikan sesaji tembaga dengan pemuliaan Air, kemudian hari itu diberi nama dengan istilah Sukra dan nama sekarang menjadi Jumat. Dan yang terakhir disajikan timah dengan memuja angin. Hari itu diberi nama Saniscara yang disebut pula sebagai Tumpa dengan nama sekarang Sabtu.

Nama nama tersebut sebenarnaya diambil dari nama hari hari dalam Kalender Sultan Ayang berasal dari kata Arab seperit Aljad, Isnain, Tslasa, Arbaa, Khamis, Jumat, Sabt. Nama hari itu digunakan semenak pergantian Kalender Jawa Asli yang disebut sebagai Saka menjadi Kalender Jawa Sultan Agung yang nama Latinnya Anno Javanico.

Perubahan Kalender itu mulai 1 Sura tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042, sama dengan Kalender Masehi 8 Juli 1613. Inilah hasil perpaduan agama Islam dan Kebudayaan Jawa. Angka tahun Jawa tersebut meneruskan angka tahun Saka yang waktu itu sampaii tahun 1554. Semenjak itu tahun Saka tidak digunakan lagi di Jawa, tetapi masih digunakan di Bali.

Sementara rangkaian Kalender Saka seperti Nawa wara, yakni htingan  9, atau padewan, Paringkelas- Kelemahan mahkluk, Wuku  30 macam masing masing tujuh hari, satu siklus 210 hari, dan lain lain. Semua dipadukan dengan Kalender Sultan Agung yang kemudian disebut sebagai Petung Jawa yang dicatat dalam Primbon Jawa.

 

Sedulur Papat

Selanjutnya dalam perkembangannya perhitungan pasaran atau Panca Wara yang b erjumlah lima itu menurut keyakinan Jawa sejalan dengan apa yang diusebut sebagai ajaran” Sedulur papat, kalima pancer, Empat saudara sekelahiran, Kelimanya adalah pusar. Piwulang atau ajaran tersebut mengandung pemahaman bahwa badan manusia yang berupa raga atau badhan wadhag, atau jasah lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari tanah, air api dan udara.

Empat unsur itu masing masing mempunyai tempat di dalam tata letak kiblat empat. Faktor yang kelima berada di pusat yakni di tengah.

Simak juga:  Peringatan Suran, Sebuah Permenungan

Kelima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran. Oleh karenanya persamaan tempat pasaran dan empat unsur dan kelimanya pusat itu bisa dijabarkan sebagai berikut.

Pasaran Legi,  Menurut keyakinan Jawa berada di Timur, satu tempat dengan unsur udara yang memancarkan sinar atau aura pustih. Sementara pasaran Paing.  Bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur api yang kuat yang dengan pancaran sinar Merah.   Sedang pasaranPon berada di Barat  satu tempat dengan unsur anasir air dengan pancaran warna sinar kuning. Keempat pasaran Wage berada di Utara, di suatu tempat dengan unsur tanah yang sangat kuat dengan pancaran warna sinar Hitam .Yang kelima di pusat atau di tengah, dimana disitu tempat sukma atau jiwa yang memancarkan dengan sinarnya mancawarna- aneka warna.  

Dari sinilah sebenarnya muncul anggapan bahwa betapa pentingnya pasaran Kliwon yang tempatnya di tengah atau di pusat sentrum itu yakni tepat jiwa atau tempat sukma yang memancarkan daya kekuatan- kewibawaan atau pengaruh kepada sedulur papat atau ke empat saudara,unsur sekelahiran.

Oleh karennya satu peredaran kiblat papat kalima pancer itu diawali dari Timur berjalan searah perputaran jam dan berakhir di tengah sebagai pusat. Biasanya orang yang berpuasa ’ngoyak’ mengejar untuk bisa mengejar suatu cita cita diawali dari Legi sampai ke pasaran Kliwon, dan tidak boleh lagi diteruskan. Orang Jawa senantiasa mengemas atau membungkus gambaran peta peredaran kiblat papat kalima pancer dengan tempa, lantaran tembang bermakna tembung mawa perlamban sasmitaning urip, perlambang kehidupan.

 

MENEP ING RAHSA SATENG KALBU
AMATEK CIPTA AMBASUH SUKMA
SUMUNARING RAGA AMBUDIDAYA
NORA IGUHING PALENA PIKIR
IMANINGSUN ANUJU DHAT LUHUR
NEMBAH ASALING MUASAL
ONCAT HAWA LEREMING ASEPI

Terjemahannya:

Mengendapkan semua rasa di dalam batin
Memusatkan cipta dengan membersihkan sukma
bersinarnya raga diupayakan
Dan jangan sampai mengedepankan kepandian,
Imannya hanya menuju ke zat Maha Luhur.
Menyembah asal kelahiranya
Menemukan kembali persatuan dengan sang Empunya Hidup

(Ki Juru Bangunjiwa)

 

Lihat Juga

Mempesona Karena Nilai-Nilai Moralnya

GAUNG seni Karawitan  mempesona, itulah salah satu cerminan budaya tradisi yang masih eksis dengan filosofi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *