Senin , 30 Maret 2020
Beranda » Humaniora » Kisah Sederhana Perjalanan Diri
Ilustrasi anak di masjid. (Ft: Pixabay)

Kisah Sederhana Perjalanan Diri

SEJAK kecil, di Bengkalis, saya sudah diberi pemahaman tentang agama (Islam). Walau saya sadar pemahaman itu baru di tahap-tahap awal atau permukaannya saja.

Ketika SD (awalnya SR), oleh Ayah dan Ibu, saya juga dimasukkan ke madrasah. Jadi, pagi sekolah di SR (SD), sore sekolah atau mengaji di madrasah. Salah seorang Ustadz yang namanya masih saya ingat (mudah-mudahan tidak salah ingat) adalah Ustadz Nurdin.

Oh iya, ketika di madrasah itu saya punya pengalaman yang masih terkesan sampai hari. Pada peringatan Maulid Nabi, saya dan seorang santri lainnya diberi kepercayaan untuk menyampaikan uraian riwayat Nabi Muhammad SAW. Naskah uraian riwayat Nabi itu disiapkan oleh Ustadz Nurdin, dan ditulis dengan huruf Arab Melayu.

Saya disuruh menghapalnya. Alhamdulillah, saya bisa menghapalnya. Sehingga riwayat Rasulullah itu bisa saya sampaikan tanpa kesulitan berarti. Buat saya, peristiwa itu sesuatu yang sungguh berkesan. Karena saat itu, untuk yang pertama kalinya, di usia yang masih terbilang anak-anak, saya berbicara di depan audiens atau orang banyak.

Kalau malam di rumah, sehabis Isya, saya masih diajari mengaji oleh Ibu, walau hanya beberapa belas menit. Setelah itu baru belajar.

Sayangnya di madrasah, saya tidak sampai selesai. Karena ketika di kelas V, saya harus pindah ke kota lain, Selatpanjang, mengikuti kepindahan kerja Ayah.

Di Selatpanjang, setiap sore kecuali hari Minggu (Ahad) saya masih tetap belajar mengaji di sebuah musholla. Tetapi saya tak mampu mengingat nama Ustadz yang mengajari mengaji di musholla itu. Bila tak salah ingat, musholla tempat belajar mengaji itu berlokasi di sekitar kawasan belakang Rumah Sakit Umum Selatpanjang.

 

Khataman Alquran

Setamat SR (SD) saya pindah lagi ke Bengkalis. Ketika di SMP, bila malam saya belajar mengaji Alquran di rumah. Pengajarnya Abang sepupu saya sendiri. Sampai akhirnya saya dinyatakan khatam Alquran.

Maaf, saya disunat ketika di kelas satu SMP. Karena saya sudah khatam Alquran, maka di acara sunatan itu ada acara Khataman Alquran.

Di kampung saya ketika itu, perhelatan atau pesta sunatan saya terbilang meriah. Hal itu mungkin dikarenakan saya merupakan anak pertama, dari enam bersaudara, dan lelaki semuanya. Boleh dibilang, acaranya berlangsung dua hari dua malam.

Saya agak lupa detail acaranya. Tapi saya ingat, di malam pertama diisi acara Shalawatan sampai dini hari (hampir pagi). Siang harinya, saya didandani dengan pakaian teluk belanga dan berkain songket yang gemerlap, serta mengenakan tanjak di kepala.

Kemudian saya diarak dengan berjalan kaki dari rumah Pak Penghulu (Kepala Desa/Lurah). Saya diarak meriah bagaikan pengantin, diiringi iringan musik tradisional kompang yang dimainkan sekitar 10 orang pemain.

Sampai di depan rumah, saya disambut dengan penuh kemeriahan oleh tamu undangan. Masih di halaman rumah, saya langsung didudukkan di kursi yang sudah disiapkan. Kursi itu tentu dirias gemerlap, bagaikan kursi pengantin.

Setelah itu beberapa lelaki tampil di depan saya, memperagakan kehebatan seni pencak silatnya. Mereka tampil berpencak-silat secara bergantian. Ketika itu, saya benar-benar merasa bagaikan seorang anak raja, yang sedang dihibur rakyatnya.

Seusai acara penyambutan di halaman rumah, saya pun dibawa naik ke rumah. Nah, di dalam rumah, saya duduk bersila di tempat yang disediakan dan ditata serta dirias secara khusus. Saya duduk menghadap ke sejumlah tamu khusus. Ada sekitar 20 orang.

Ya, mereka memang tamu khusus. Dan, boleh disebut sebagai tamu penting. Karena mereka semua adalah tokoh-tokoh terpandang, orang-orang yang dituakan dan dihormati di kampung saya. Ada ulama atau Ustadz, ada tokoh-tokoh masyarakat, dan lainnya.

Para tamu khusus itu diminta menyaksikan dan membuktikan apakah saya benar-benar sudah khatam Alquran, dan layak untuk disunat.

Demikianlah, dengan dada berdegup keras, dan keringat yang membasah, saya pun membaca sejumlah ayat-ayat Alquran di hadapan para tamu khusus tersebut. Saya bersyukur, dapat melaksanakan kewajiban membaca ayat-ayat Alquran itu dengan sempurna. Ya, saya katakan sempurna, karena memang tidak ada satu pun di antara tamu-tamu khusus itu yang memperbaiki bacaan saya. Saya pun dinyatakan lulus, dan memang layak untuk disunat.

 

Dihibur Orkes

Sehabis acara Khataman Alquran, para tamu undangan dihibur dengan hiburan musik dari grup musik yang kebetulan hampir semua pemainnya adalah kerabat atau saudara saya sendiri.

Grup musik itu sebenarnya lebih pantas disebut orkes, karena hanya beralatkan gitar-gitar kosong, gendang, tamborin, markas, drum dan arkodeon. Ah, betapa meriahnya kala itu. Kemeriahan suasana berlangsung sampai malam.

Keesokan harinya, pagi-pagi, proses sunatan itu berlangsung. Saya disunat di rumah. Penyunatnya, tenaga khusus dari rumah sakit.

Begitulah, sesungguhnya kedua orangtua saya, sejak mula memang menginginkan saya menjadi seseorang yang relijius. Tapi hasilnya? Apakah saya benar-benar menjadi seseorang yang relijius, setengah relijius, atau bahkan sekuler?

Nantilah, saya obrolkan lagi. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (5/1/2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *