Selasa , 29 September 2020
Beranda » Humaniora » Keyakinan Menghidupkan Mimpi untuk ke Al-Azhar
Hasbiyallah di salah satu sudut kota Kairo. (Foto: Ist)

Keyakinan Menghidupkan Mimpi untuk ke Al-Azhar

“TIDAK ada yang tidak mungkin. Ketika kita sudah berusaha dan berdoa , tentu akan ada hasil yang didapat , baik itu sesuai rencana ataupun tidak. Akan  tetapi itu yang terbaik untuk kita.”

Kurang lebih seperti itu ucapan yang terlontar dari Hasbiyallah, laki-laki kelahiran Majalengka,  Jawa Barat ini ketika ditanya tentang keyakinannya dalam menentukan sesuatu, termasuk juga tentang pilihan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Terlahir dari keluarga yang sederhana, Habis, demikian ia selalu dipanggil, tidak menyurutkan semangatnya dalam mewujudkan impian . Tidak ada penghalang, kecuali Allah tidak mengizinkan, mungkin seperti itu keyakinan yang tertanam dari seorang Hasbiyallah. Mempunyai orang tua yang berprofesi sebagai guru ngaji dengan usia yang tidak lagi muda, memang pada awalnya menjadi pertimbangan yang cukup besar untuk mewujudkan cita-citanya. Mengingat penghasilan yang didapat tidak seberapa, sedangkan tempat yang menjadi impiannya untuk mencari ilmu membutuhkan biaya yang cukup banyak .

Laki-laki yang sekarang berusia 21 tahun ini tidak pernah memudarkan impiannya. Hasbiyallah juga tergolong sebagai salah satu murid yang mempunyai prestasi, sehingga ini semakin menguatkan keyakinannya untuk melanjutkan kuliah di Al-Azhar, Mesir. Prestasi ini dibuktikan dengan beberapa lomba yang dia ikuti di bidang kitab kuning.

Keberhasilannya dalam meraih juara tentu melewati banyak rintangan serta usaha yang lebih, seperti dia harus mengikuti bimbingan setiap malam hingga pukul 22.30 WIB,  di tengah padatnya kegiatan madrasah dan pondok . Keberhasilannya ini juga tidak lepas dari doa orang tua .

“Setiap saya test atau mau ikut lomba,  Bapak selalu meminta saya untuk menelponnya terlebih dahulu, untuk mendoakan saya. Dan saya juga percaya bahwa doa orang tua sangat saya butuhkan,” ungkapnya.

Juara Lomba

Namun selain keberhasilan yang berarti untuknya , ada satu kejadian yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan, yaitu ketika dia menjadi bagian dari 40 delegasi yang akan dikirim sekolahnya untuk mengikuti lomba MQK tingkat Kabupaten. Semua delegasi cukup membanggakan karena mampu meraih juara 1 sebanyak 25 anak , juara 2 sebanyak 2 anak dan juara 3 sebanyak 3 anak. Dirinya memang meraih juara 3, namun rasa kecewa justru menyertainya. Pasalnya, tidak seperti teman-temannya yang mendapat juara, karena bersaing dengan belasan orang. Namun ia mendapat juara 3 dengan jumlah peserta yang hanya 3 orang di bidang lomba kitab tersebut.  Dan ia menganggap ini suatu kegagalan. Ia merasa telah mengecewakan banyak pihak, salah satunya guru yang dengan sabar membimbingnya yaitu Pak Supirso.

Namun beberapa guru tetap memotivasi dia agar tidak terlarut dalam kekecewaan, karena memang bidang kitab yang dia ikuti cukup sulit dibanding yang lain. Apalagi mengingat waktu itu ia masih berumur 15 tahun, bahkan banyak madrasah yang tidak mengirimkan santrinya untuk mewakili perlombaan di bidang kitab tersebut. Setelah kejadian itu, ia kembali mengikuti bimbingan setiap malam hari. Belajar dari kegagalan membuatnya lebih semangat dan ini terbukti pada perlombaan berikutnya, ia mampu lebih baik. Hasil penghargaan lomba berupa uang ditabungnya.

Simak juga:  Abdul Haris Semendawai: Peran Pers Penting dalam Membantu Saksi dan Korban

Kebimbangan menghampirinya ketika memasuki kelas XII, karena  ini berarti ia akan menerima kenyataan yang mungkin saja membahagiakan atau mengecewakan. Sebab mimpinya untuk kuliah di Mesir akan dapat tercapai atau justru sebaliknya.

Di umur yang bisa dikatakan masih sangat membutuhkan arahan tentu Hasbiyallah tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah, apalagi keinginanya untuk kuliah di Universitas Al-Azhar  tersebut sangat kuat. Salah satu cara yang dilakukannya berkonsultasi kepada beberapa guru seperti Pak Supirso, Pak Syaifuddin dan Pak Musthofa yang telah membimbingnya selama mencari ilmu di pesantren tersebut .

“Guru-guru yang mengajar di pesantren ini juga banyak yang lulusan dari universitas Al-Azhar. Dan latar belakang mereka  hampir sama dengan saya yaitu ada kendala di bidang ekonomi, namun pada kenyataanya mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan di universitas tersebut hingga lulus. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menyerah, yang terpenting saya sudah berusaha semaksimal mungkin, masalah hasil serahkan pada Sang Kuasa,” ungkapnya.

Semangatnya menyala tatkala mendapat cerita dari guru-guru tentang proses perjalanan mereka dalam mewujudkan impian tersebut, bahkan lika-liku yang harus  dijalani untuk mewujudkan mimpi menimba ilmu di Mesir. Namun juga terkadang semangatnya sedikit meredup ketika mengingat perkataan  Ayahnya bahwa satu-satunya cara agar bisa kuliah di Mesir hanya dengan jalur beasiswa. Karena orang tuanya tidak mempunyai uang yang cukup untuk membiayainya. Sedangkan meraih beasiswa dengan saingan se-Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah.

Masa putih abu-abu telah berakhir, banyak siswa yang mengurus segala persyaratan untuk mendaftarkan diri di perguruan tinggi yang mereka inginkan. Bahkan ada yang bercabang, artinya mereka tidak hanya mendaftar di satu perguruan tinggi saja, hal ini untuk berjaga-jaga ketika mereka tidak lolos seleksi di perguruan tinggi yang pertama.

Namun tidak dengan Hasbi, dia hanya mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir. Banyak guru memberi saran agar dia tetap mendaftar di perguruan tinggi yang ada di Indonesia, karena bagaimana pun bukan hal yang mudah lolos seleksi di Universitas Al-Azhar Mesir ditambah seleksi yang dia ambil adalah jalur beasiswa.  Sampai suatu ketika dia di panggil oleh TU dan memintanya tetap mendaftarkan diri di perguruan tinggi Indonesia melalui jalur PBSB ( Program Beasiswa Santri Berprestasi ) dan lagi-lagi dia menolak .

Seperti santri lainnya dia mengikuti bimbingan pada malam hari yang diberikan oleh pihak sekolah untuk santri yang berkeinginan melanjutkan pendidikan di Mesir . Bimbingan ini bertujuan mempersiapkan santri untuk mengikuti seleksi yang dilaksanakan di Jakarta. Pemberangkatan ke Jakarta juga difasilitasi oleh pihak Madrasah, tentu ini sangat membantu karena jarak madrasah yang berada di kota Pati dengan Jakarta cukup jauh.

Simak juga:  Mantapkan Hati Menginjakku

 

Nilai Tinggi

Tiba waktu seleksi, rasa cemas dan lainnya bercampur menjadi satu. Hasbi sebisa mungkin tetap menenangkan dirinya karena dia tidak ingin kecemasannya akan memberi dampak buruk pada kefokusannya dalam mengerjakan tes seleksi. Tes seleksi ini ada dua jenis yaitu lisan (muhadatsah dan hafalan Alquran) dan tertulis . Ketika tahap wawancara penguji menanyakan bagaimana seandainya jika ia tidak mendapatkan beasiswa, pertanyaan semacam ini sering didengar ketika wawancara. Karena memang keadaan yang tidak memungkinkan untuk menanggung biaya sendiri dan harapannya hanya dengan beasiswa. Hasbi pun mengatakan, dia akan mondok lagi jika memang tidak lolos jalur beasiswa. Tidak ada dalam pikirannya untuk melanjutkan perguruan tinggi yang ada di Indonesia, walaupun jika dilihat peluang dia untuk mendapatkan beasiswa di Indonesia lebih besar. Keputusan yang jarang di ambil oleh sebagian besar orang, karena pada umumnya ketika seseorang tidak lolos di salah satu universitas mereka akan tetap berusaha ke universitas lain. Apalagi banyak universitas di Indonesia yang bisa di katakan bagus. Sambil menunggu pengumuman dia mengisi hari-harinya dengan posonan di Sarang, Rembang. Posonan sendiri yaitu kegiatan mondok atau nyantri di suatu pesantren pada bulan Ramadhan atau poso ( dalam Bahasa Jawa ) sehingga disebut posonan .

Di tengah-tengah mengikuti kegiatan posonan di Sarang , hasil seleksi itu keluar. Cukup mengagetkan memang, namanya tertera di lembar pertama dengan skor nilai yang cukup tinggi. Hal yang tidak pernah disangka sebelumnya, guru dan teman-temannya pun antara percaya atau tidak, karena Hasbi sendiri bukan lulusan terbaik di madrasahnya pada waktu itu. Namun usahanya ini cukup mengharumkan namanya dan pihak Madrasah .

Tepat pada puncak acara haul Pesantren, dia mendatangi Pesantren dengan niat sekadar bersilaturrahmi ke pihak Madrasah. Tanpa pernah mengira namanya disebut untuk menaiki  panggung dan bersanding dengan penasehat lembaga internasional untuk pendidikan Arab Saudi yaitu Syaikh Khalid Almahudi. Dengan tampilan sederhana yang selalu menjadi ciri khasnya dia naik ke panggung . Sifat ta’dhim kepada para guru serta doa orang tua yang selalu membersamai langkahnya telah mengantarkannya ke gerbang impiannya . Sekarang dia tercatat sebagai mahasiswa Al-Azhar, Kairo, Mesir. *** (Lilyk Aprilia)

 

          *Lylik Aprilia, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Dari Kelapa Parut Menuju Kairo Mesir

ADA kalimat yang benar-benar diyakini Ismail ketika ustadnya mengajar ngaji, “man jadda wajadda”. Kalimat tersebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *