Minggu , 9 Agustus 2020
Beranda » Humaniora » Ketika Ibu Pergi, Sebuah Kenangan
Ibu ketika bersanding bersama Ayah di pelaminan. (Foto: Ist)

Ketika Ibu Pergi, Sebuah Kenangan

BAGI  saya, tiada lagi masa yang paling menyakitkan di dunia tempat kita berpijak, melainkan ketika menyaksikan sebuah kepergian, mengantarkan kepulangan seseorang yang sangat berarti sepanjang hidup ini. Ialah Ibu, wanita terkasih yang amat sangat saya cintai, tak akan pernah terganti, untuk selamanya.

Saya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang luar biasa. Dibesarkan dengan cinta tulus dan kehangatan yang penuh suka cita. Ibu, adalah malaikat. Baik hatinya, tulus jiwanya, indah rupa dan budi pekertinya. Seolah semua hal baik melekat erat pada dirinya.

Ibu. Satu kata yang saya kira begitu berhasil menjabarkan seluruh makna kehidupan. Beliaulah orang pertama yang memperkenalkan saya pada dunia ini. Ibu mengenalkan saya pada sesuatu yang sulit dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, diraba oleh panca indra, namun dapat dirasa oleh kekuatan nyawa. Saya bersyukur memiliki seorang Ibu yang kuat, yang tak pernah lelah merawat saya dengan segenap jiwanya.

 

CintaIbu, Cinta yang Nyata

Sembilan belas tahun silam, saya dilahirkan ke dunia ini. Saya dibesarkan di tengah keluarga yang hangat dan berkecukupan. Saya tinggal di sebuah rumah kuno milik Mbah Akung dan Mbah Uti bersama dengan Ibu dan Adik perempuan saya. Sejak kecil, saya tidak tinggal satu rumah dengan Bapak. Ibu membesarkan saya dan adik saya seorang diri.

Ibu adalah guru pertama dalam hidup saya. Beliaulah yang memperkenalkan saya dengan huruf dan angka. Mengajarkan saya mengeja, mengaji, berhitung, dan membaca. Terlalu banyak kenangan masa kecil yang Ibu berikan, hingga saya tak mampu lagi untuk  menyebut dan menguraikan.

Ibu mengajarkan saya banyak hal. Sejak usia dini, sekitar tiga tahun, saya sudah bisa mengingat huruf dan angka dengan baik. Di usia empat tahun, saya sudah mulai lancar mengeja, dan di saat yang bersamaan Ibu juga sudah mengajari saya untuk mengaji. Memperkenalkan saya dengan huruf hijaiyah, dan angka arab. Karena ketelatenan Ibu dalam mengajari saya di usia emas itu, saya sudah dapat membaca tulisan dan  Alquran lebih cepat dibandingkan teman-teman seusia saya.

Berkat Ibu, saya tumbuh menjadi anak yang baik, aktif, dan pintar. Saat usia lima tahun, saya mulai masuk sekolah. Sejak saat itu, saya banyak meraih prestasi gemilang dan baik di bidang akademik yang membuat Ibu selalu tersenyum saat menerima laporan hasil belajar. Saya selalu meraih peringkat pertama di kelas, dan selama itu pula saya sering menjuarai berbagai jenis perlombaan.

Ibu adalah orang pertama yang selalu menyemangati saya. Dengan kelembutannya, beliau selalu membuat saya berani menghadapi sesuatu hal yang saya takuti, dan tak jarang saya berpikir bahwa saya tidak mampu untuk melewati. Tapi Ibu selalu berhasil, menjadikan saya tangguh dan mampu melampaui ketakutan itu.

Semakin saya tumbuh, pada usia anak yang sedang beranjak, saya justru menyukai hal yang jarang disukai oleh teman-teman seumuran saya. Saya suka belajar, apa saja. Saya jarang bermain dengan teman-teman saya karena saya menghabiskan waktu dalam sehari untuk mempelajari apapun. Ibu juga senang melihat saya menjadi anak yang patuh dan rajin.

Namun, dari kebiasaan belajar saya itu justru membuat saya berbeda dari yang lain. Saya tidak memiliki teman. Karena saya terlalu fokus dengan apa yang saya sukai dan saya tekuni. Saya selalu berhasil menduduki peringkat pertama di kelas, hingga ada satu teman yang tidak menyukai saya dan akhirnya ia pun memengaruhi teman-teman satu kelas untuk tidak berteman dengan saya. Hal itu berlangsung lama, sekitar enam tahun selama saya berada di sekolah dasar. Saya selalu melakukan banyak hal seorang diri hingga akhirnya terbiasa dilalui. Hanya Ibu yang membantu dan menemani. Ibu selalu mengatakan pada saya bahwa saya bisa melakukan segalanya dengan baik, walau tidak ada satu orang pun teman. Bagi saya, kehadiran Ibu adalah seorang teman yang tak mengenal ruang dan waktu. Ibu selalu ada kapanpun saya mau.

Karena terbiasa sendiri, secara tidak langsung banyak sifat yang kiranya kurang baik menjadi saya miliki. Cenderung tertutup dan enggan membuka diri pada lingkungan sekitar, saya sempat menjadi seorang anak yang individual dan egois. Saya hanya mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang saya sukai.

Hal tersebut justru sempat membuat Ibu menjadi was-was. Ibu selalu mendidik saya dan adik saya dengan sangat lembut hingga nyaris tak pernah marah. Ibu jarang menyuruh saya melakukan hal diluar kebiasaan saya, termasuk pekerjaan rumah. Ibu juga tidak pernah memaksa. Ibu selalu memenuhi apa yang saya butuhkan, tanpa pernah saya meminta. Karena hal itu, sifat ‘manja’ sempat menyelimuti kepribadian saya. Apa yang saya inginkan, harus selalu bisa Ibu wujudkan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IV : Resume Diskusi Kebangsaan PWSY Edisi 4

Hingga tiba pada suatu waktu, saat itu saya masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Saat itu saya sempat ‘ngambek’ dengan Ibu karena masalah sepele. Saya sempat tidak bicara dengan Ibu. Ibu pun diam saja. Saat itu saya pergi ke sekolah, dan ketika saya pulang Ibu tidak ada di rumah. Saya mencari Ibu dan menanyakan pada Mbah Uti di mana keberadaannya.

Tidak seperti biasanya, waktu itu seingat saya Ibu tidak pulang. Hati saya berkecamuk mengkhawatirkan Ibu. Tiba-tiba Mbah Uti memberitahu saya bahwa Ibu sudah berada di rumah sakit. Ibu mengidap kanker payudara stadium dua, langsung di operasi hari itu juga. Tanpa berpikir lama,saya langsung menyusulnya.

Di sana, di sebuah ruangan, saya telah melihat Ibu tergeletak lemas dan berbaring. Saya langsung menghampiri Ibu. Kata pertama yang terucap dari bibir saya ialah kata “Maaf”.  Saya merasa bersalah, lebih dari itu, saya merasa berdosa. Tidak seharusnya saya bersikap seperti itu kepada Ibu. Andaikan saya mengetahui hal ini lebih cepat, saya pasti tidak akan marah kepadanya. Saya menyesal.

 

Hangat Kasihnya

Betapa lembut hatinya, dengan senyum memaafkan, Ibu langsung membawa saya pada dekapannya. Ibu bilang, tidak apa apa. Kami berdua beradu airmata. Mata kita seolah sama-sama berkata tidak ingin kehilangan. Tidak lama setelahnya, Ibu di arahkan untuk masuk ke ruang operasi. Ibu tidak ingin saya menemaninya di sana. Ibu menyuruh saya pulang, dengan alasan saya harus bersekolah esok hari. Teringat jelas, kala itu, saya mengantar Ibu hingga ke depan ruang operasi. Sambil duduk, menunggu sebentar, hingga bunyi alat pemindai detak jantung terdengar sampai luar.

Tiga hari berlalu, hari keempat Ibu kembali pulang, ke rumah. Saya lega, Ibu baik-baik saja. Namun, hati saya teriris melihat Ibu berjalan tertatih dari ujung pintu hingga ruang tamu. Ibu tidak bicara banyak, Ibu berjalan dengan dipapah hingga menuju kamar.

Sangat jelas, ketika itu saya mengintip Ibu yang sedang tidur berbaring membelakangi pintu. Dalam hati, saya hanya bisa berucap, semoga setelah ini Ibu kembali sehat. Tak berapa lama, saya mendengar Ibu merintih kesakitan. Ibu sempat memanggil beberapa nama orang yang ada di rumah dari dalam kamar. Saya penasaran. Saat saya masuk ke kamar, saya kaget. Seluruh seprai menjadi merah, dan baju Ibu pun berlumuran darah.

Waktu itu, saya sama sekali tidak diperbolehkan untuk membantu Ibu. Mbah  Uti pun melarang saya. Saya melihat Mbah Uti memeras sprei hingga darah pun menetes pada sebuah ember hitam yang akhirnya terisi setengahnya. Saya tidak pernah menyangka akan seperti ini. Rasanya keadaan ini menjadi lebih berat dibandingkan dengan sebelum Ibu di operasi.

Hari berganti hari, keadaan Ibu berangsur membaik. Alhamdulillah. Ibu kembali beraktivitas dengan normal seperti biasanya. Walau tidak sekuat dulu. Sambil Ibu memulihkan kondisi dan kesehatan tubuhnya. Sejak itu saya merasa lebih tenang setiap kali melihat Ibu.

Satu bulan setelah operasi, Ibu langsung menjalani kemoterapi. Kontrol pertama, Ibu masih bisa menahannya, meski mual tidak bisa tertolak. Bulan-bulan selanjutnya, saya melihat Ibu bertambah pucat, setiap harinya. Badannya mulai mengurus, rambutnya perlahan mulai rontok, dan tak jarang merasa pusing dan mual. Namun Ibu selalu mencoba untuk kuat.

 

Kekuatan yang Luar Biasa

Selama masa sakitnya, Ibu selalu menguatkan dirinya. Ibu tidak pernah menunjukkan betapa sakit dan beratnya masa itu kepada saya. Ibu, selalu berusaha tetap menjadi seorang Ibu untuk saya dan adik saya. Meski kadang, secara sembunyi, beberapa kali saya kerap menjumpai Ibu menangis dan merintih kesakitan. Seolah rasa sakit itu tidak lagi dapat tertahan.

Ada satu hal yang akhirnya saya ketahui di tengah sakitnya Ibu. Ibu yang tidak pernah menunjukkan pertanda apapun sebelumnya, ternyata telah bercerai dengan Bapak sebelum Ibu operasi. Saya mengetahui ini ketika beberapa kali Ibu sempat pergi ke Pengadilan Agama. Ternyata surat cerai sudah dilayangkan jauh-jauh hari.

Ibu, tidak pernah menunjukkan apa pun perasaannya di depan kedua anaknya. Ibu juga tidak pernah bertengkar dengan Bapak di depan saya. Jika itu terjadi, maka saya melihat itu adalah sebagai suatu kebetulan. Dulu, saya ingat Ibu pernah menyampaikan kepada saya bahwa beliau tidak ingin jika sampai bertengkar dengan Bapak terlihat langsung oleh anak-anaknya. Hal ini sempat Ibu sampaikan kepada Bapak, tetapi mungkin tidak terlalu dihiraukan. Hingga hal itu pun terjadi.

Ibu selalu bersemangat untuk sembuh. Ibu yakin, pasti akan sembuh. Semangat Ibu untuk bertahan sangatlah besar. Mungkin, tidak semua orang yang mengalami hal serupa dapat setangguh dan setegar Ibu. Ibu selalu berusaha menempuh jarak jauh menggunakan kereta setiap bulannya untuk kemoterapi, karena setelah saya lulus sekolah dasar, kami memutuskan untuk pindah rumah.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XII: Wayang dan Kebangsaan

Setahun berlalu. Kemoterapi yang menjadi kewajiban Ibu setiap bulannya pun selesai. Setelah saat itu, saya kira semuanya berubah, membaik. Tapi ternyata tidak. Tiba-tiba, Ibu sering batuk. Awalnya Ibu merasa bahwa itu adalah gejala sakit biasa. Masuk angin, karena cuaca sedang tidak menentu. Semua Bulik (adik-adik dari Ibu) pun menganjurkan untuk memeriksakan kondisi Ibu.

Hasil ronsen memperlihatkan semakin bertambah parahnya penyakit Ibu. Paru-parunya sudah dipenuhi oleh bintik-bintik putih kecil di seluruh bagiannya. Keadaan Ibu mengkhawatirkan keluarga besar. Semua berpikir bahwa kemungkinan Ibu untuk sembuh total sangat kecil. Tapi Ibu selalu meyakinkan kepada semuanya bahwa apapun masih bisa diusahakan, termasuk kesehatannya.

Semakin hari, kondisi Ibu semakin menurun dan lemah. Tapi  Ibu terus berusaha untuk kesembuhan dirinya. Sejak saat itu Ibu terus berobat, hingga mencoba berbagai macam jenis pengobatan, termasuk pengobatan alternatif. Semua jalan Ibu tempuh. Ibu berobat hingga keluar kota. Saat itu, saya kerap mengunjungi Ibu namun hanya bisa di akhir pekan. Ibu selalu senang ketika saya datang. Seolah rindunya dapat terobati dengan tenang.

Karena semakin parahnya kondisi Ibu, dan semakin beragamnya pengobatan yang dijalani, Ibu membutuhkan pendamping untuk menemani Ibu. Mbah Uti sudah tidak mampu bepergian jauh, dan harus merawat saya di rumah. Akhirnya, demi kebaikan semua, saat itu diputuskan untuk Ibu kembali rujuk dengan Bapak.

Beberapa bulan berlalu, kira-kira sudah hampir setengah tahun berjalan. Kondisi Ibu bukan  malah berangsur membaik, namun sebaliknya. Setiap harinya keadaan Ibu semakin drop. Hingga membuat Ibu tidak bisa apa-apa lagi. Ibu hanya berbaring di tempat tidur, setiap harinya. Menyedihkan memang saat teringat hal itu. Saat sakitnya, Ibu tidak pernah meminta apa-apa. Terlihat dari matanya, hanya kepasrahan yang Ibu lakukan.

Semakin menurunnya kesehatan Ibu, membuat Ibu dilarikan ke ICU. Tidak ada lagi yang dapat Ibu lakukan selain beristirahat. Ibu sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya. Setiap hari selalu ada anggota keluarga yang bergantian untuk menjaga Ibu. Merawat, menyuapi, dan mendampingi Ibu setiap saat. Selama beberapa hari di rumah sakit, Ibu hanya meminta dituntun untuk senantiasa berdzikir, karena hanya itu yang Ibu minta dan Ibu bisa.

Semua keluarga sudah mengikhlaskan jika memang yang terbaik untuk Ibu adalah beristirahat dengan tenang. Hari itu, saat usia saya masih tiga belas tahun. Ibu menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Tidak banyak yang bisa saya jelaskan, kecuali perihal penyesalan yang begitu mendalam. Sebab saat itu, saya tidak ada di samping Ibu pada saat-saat terakhir menjelang kepergiannya.

Hingga saat ini, masih sangat jelas dalam ingatan tentang duka mendalam di hari itu. Hari dimana Ibu meninggalkan saya, dan kami semua, untuk selamanya. Saya mengantar Ibu hingga tempat peristirahatan terakhirnya. Lekat teringat saat terakhir saya melihat wajahnya. Wajah tenang saat kami semua mengantar kepergiannya. Sekarang, Ibu sudah tiada, dan beristirahat dengan tenang tanpa harus menanggung lagi semua rasa sakit yang selama ini tak tertahankan.

 

Pada Akhirnya, Kepergian

Tidak ada lagi kata yang dapat menjelaskan itu semua. Segala perasaan yang luruh menjadi satu, seolah mengatakan bahwa hanya penyesalan yang kini terus saya rasakan. Saya menyesal, sungguh menyesali banyak hal. Andai waktu bisa diputar, dan saya bisa mengetahui masa depan, sudah tentu semua hal baik akan saya persembahkan, untuk Ibu, sosok wanita yang tak akan pernah tergantikan.

Jika masih pantas saya berucap. Mungkin kata maaf tak akan cukup menjadi pengobat di kala duka dan lara yang selama itu Ibu pendam. Dan terimakasih tak akan pernah sanggup menggulirkan seluruh masa dan pengorbanan yang selama itu Ibu perjuangkan.

Dunia terasa runtuh saat menyaksikan kepergiannya. Rasanya, sudah tak ada lagi asa untuk melanjutkan hidup menyambut hari esok yang akan datang. Semua pilu, semua kelabu.

Kini, saya baru menyadari. Betapa berat dan sulitnya menjalani hidup tanpa Ibu selama ini. Tiada lagi rumah yang teramat nyaman untuk kembali pulang. Tiada lagi telinga yang begitu sabar untuk mendengar, dan tiada lagi dekap yang begitu hangat untuk menjelaskan betapa perih hati yang tak sanggup lagi tertahan atas sebuah kepergian.*** (Nadia Khairunnisa)

 

          * Nadia Khairunnisa, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Dari Kelapa Parut Menuju Kairo Mesir

ADA kalimat yang benar-benar diyakini Ismail ketika ustadnya mengajar ngaji, “man jadda wajadda”. Kalimat tersebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *