Senin , 30 Maret 2020
Beranda » Humaniora » Kethoprak, Upaya Memahami Jawa
Salah satu akting saya dalam pentas kethoprak di panggung kesenian Sekaten, Alun-alun Utara Yogyakarta. (Ft: dok)

Kethoprak, Upaya Memahami Jawa

MEMAHAMI Jawa, terutama yang berkaitan dengan kultur atau budayanya bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kesabaran, ketekunan, kesungguhan dan kehati-hatian dalam memahaminya. Karena Jawa itu tak sekadar nama suku, tak sebatas nama pulau, tak hanya sebutan untuk suatu bentuk budaya.

Tapi Jawa juga mencakup pengertian yang luas. Ada yang menyebut Jawa sebagai ajaran kehidupan. Di dalam ajaran kehidupan itu ada filsafat, pandangan hidup serta sikap hidup orang Jawa. Dan, kemudian tak sedikit pula para ahli yang membahas ajaran kehidupan itu dengan menyebutnya sebagai reliji Jawa.

Saya pernah membaca tulisan Niels Mulder di majalah BASIS edisi Desember 1973 tentang Javanisme (Pandangan hidup orang Jawa). Menurut Mulder, Javanisme atau pandangan hidup orang Jawa menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap narima terhadap segala peristiwa yang terjadi dan menempatkan individu di bawah masyarakat, dan masyarakat di bawah semesta alam.

Terus terang apa yang ditulis Niels Mulder itu semakin memperkuat keinginan saya untuk tahu lebih banyak tentang hal yang berkaitan dengan Jawa. Terlebih dengan apa yang dikatakan Mulder berikutnya di tulisannya itu.

Dilanjutkan Mulder, manusia hendaklah dalam keadaan seimbang tentram dengan jagad raya, jangan sekali-kali manusia itu ingin menaklukkan alam, jangan bersaing dan berambisi atau ingin mencapai sesuatu dengan jalan terlalu memperhatikan barang-barang materiil. Dimensi kehidupan yang sejati terdapat di dalam pengetahuan dan pengalaman mengenai hubungan antara hidup ini dengan Hidup sendiri, dengan Sang Hyang Ada.

Maaf, sesungguhnya saya tidak sedang ingin berbicara tentang ajaran-ajaran kehidupan Jawa atau reliji Jawa itu. Saya hanya ingin menegaskan, kalau apa yang dikemukakan Niels Mulder itu semakin mempengaruhi semangat untuk memahami dan mempelajari banyak hal tentang Jawa. Berbagai cara pun kemudian saya lakukan untuk bisa memahami Jawa tersebut. Salah satu di antaranya melalui kethoprak. Nah, saya sedang ingin bercerita tentang pengalaman mencoba memahami Jawa melalui seni kethoprak.

 

Drama Rakyat

Kethoprak? Apa itu kethoprak? Kethoprak itu salah satu bentuk teater tradisional berbahasa Jawa.

Simak juga:  We Ar{t}e Here, Pameran Lukisan di Tembi

Untuk jelasnya, dalam Lokakarya Kethoprak yang berlangsung di Yogyakarta tanggal 7 – 9 Februari 1974 disimpulkan definisi Kethoprak adalah drama rakyat Jawa Tengah (lihat: Handung Kus Sudyarsana, Kethoprak Kelilingan, dalam Soedarsono, Djoko Soekiman dan Retna Astuti (ed.), Gamelan, Drama Tari dan Komedi Jawa, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Ditjen Kebudayaan Depdikbud, 1984/1985).

Menurut Handung Kus Sudyarsana, pengertian Jawa Tengah dalam hubungan drama rakyat ini tidak mengikuti struktur pembagian wilayah pemerintahan, yang dalam ketentuannya Daerah Istimewa Yogyakarta tidak termasuk di dalamnya. Tetapi dalam pengertian etnologis, Yogyakarta termasuk Jawa Tengah.

Kapan saya mulai tertarik untuk menjadikan seni kethoprak sebagai salah satu cara atau alat untuk memahami Jawa? Ya, saya harus mulai berkisah dari tahun 1977, 1978 dan 1979 (persisnya saya lupa). Ketika itu di Alun-alun Utara Yogyakarta ada panggung Kethoprak Siswo Budhoyo dari Tulungagung.

Grup Kethoprak Siswo Budhoyo itu mengajak wartawan Yogya yang tergabung di dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk ikut bermain di pentas mereka. Saya yang ketika itu wartawan di Surat Kabar Berita Nasional ikut ditawari untuk ikut bermain di panggung kethoprak tersebut.

Ketika ditawari, saya perlu berpikir dua hari untuk memutuskan menerima ajakan ikut bermain kethoprak bersama Siswo Budhoyo. Karena saya pikir bermain kethoprak itu sama seperti bermain drama, yang perbedaannya hanya pada penggunaan bahasanya, tawaran itu saya terima.

Singkat cerita, saya pun ikut bermain kethoprak. Bermain kethoprak yang pertama kalinya dalam sejarah kehidupan saya. Tapi saya lupa apa judul lakon pentasnya waktu itu. Saya hanya ingat, memerankan Tumenggung Sabrang (mungkin maksudnya Tumenggung dari seberang). Dan, saya pun hanya sekadar pemain pelengkap saja. Sekadar buat ramai-ramai. Saya pun hanya diberi kesempatan dialog beberapa kalimat saja. Muncul di panggung pun tak lebih dari dua kali.

Walaupun hanya sebatas pemain pelengkap saja, terus terang saya sangat gembira dan bahagia. Betapa tidak. Karena itu pentas kethoprak saya yang pertama. Dan, gara-gara itu pula, saya mulai menyukai nonton kethoprak. Baik di panggung kethoprak maupun di layar TVRI Yogyakarta. Sejak saat itu, saya sudah mulai berpikir dan merasakan bahwa kethoprak bisa dijadikan cara untuk memahami Jawa lebih jauh lagi.

Simak juga:  Simak Buku (1): Memahami Jawa, Lewat "Manusia Jawa"

Tapi kesibukan-kesibukan kerja telah membuat saya kehilangan ruang dan kesempatan untuk mendalami kethoprak lebih dalam dan intens lagi. Saya hanya sempat menontonnya saja. Dua puluh tahunan lebih kondisi seperti itu berlangsung.

Barulah di tahun 2013 kesempatan itu muncul lagi. Kelurahan Tegalpanggung, tempat saya tinggal, mendapat kesempatan untuk pentas kethoprak di CT Square Yogya. Koordinator kesenian kelurahan mengajak saya untuk ikut bermain. Tentu saja ajakan itu saya terima dengan riang gembira. Keinginan saya untuk memahami Jawa melalui seni kethoprak melonjak lagi.

Lakon fragmen kethoprak yang dipentaskan di CT Square itu berjudul Tombak Kyai Bubrah. Naskahnya ditulis Candra Kusuma, yang sekaligus menyutradarainya. Dan, kebetulan di lakon ini saya mendapatkan peran yang lumayan penting juga, sebagai Kyai Bubrah.

Sejak 2013 itu setidaknya ada lima lakon kethoprak yang saya ikut bermain, baik bersama grup kethoprak Kelurahan Tegalpanggung maupun grup kethoprak Kecamatan Danurejan. Kebetulan semua pentas kethoprak yang saya ikut bermain itu naskahnya merupakan karya Candra Kusuma. Tak hanya penulis lakon, Candra Kusuma juga menjadi sutradaranya.

Seperti saya kemukakan di atas, motivasi saya ikut bermain kethoprak itu adalah untuk lebih mempermudah cara dan upaya memahami serta mempelajari Jawa. Jawa dalam pengertian yang luas. Jawa dalam konteks filsafat kehidupan, ajaran kehidupan, pandangan hidup, reliji, budaya serta beragam lainnya.

Bermain dan menyukai serta mempelajari beragam hal tentang seni kethoprak, merupakan salah satu cara dari sekian banyak cara lainnya yang saya lakukan demikian untuk bisa memahami Jawa sepenuhnya.

Walaupun saya sadar, semua itu bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Akan tetapi, semua itu sungguh telah membuat saya bahagia, dan merasakan punya arti dalam menjalani kehidupan. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (17/1/2020)

Lihat Juga

Gangguan Jiwa Bukan Berarti “Gila”

ORANG awam seringkali beranggapan gangguan jiwa selalu sama dengan “gila”, yang dalam bahasa medis disebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *