Jumat , 10 Juli 2020
Beranda » Humaniora » Ketegaranmu, Bahagiaku
Illustrasi (Foto: chaisplay.com)

Ketegaranmu, Bahagiaku

SAYA terlahir dari keluarga sederhana. Kehidupan yang keras sudah biasa terlalui. Saya memiliki dua kakak laki-laki, dan keduanya adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupan saya. Dan kali ini saya ingin membagikan kisah saudara laki-laki kedua saya. Namanya Ahlun, dia anak yang istimewa. Dengan segala kelebihan yang telah Allah berikan untuknya, saya merasa sangat bersyukur menjadi adik yang dikirim Allah untuk menjadi temannya. Saya biasanya memanggil dengan panggilan Abang.

Sejak kecil saya selalu menjadi teman baik yang selalu ikut kemana pun dia pergi. Karena saya sangat menyayanginya. Dari kecil dia sudah mendapatkan tantangan-tantangan luar biasa. Abang saya memiliki kelebihan yaitu bersikap tempramental. Namun, dia adalah orang luar biasa di dalam hidup saya. Sikapnya yang tempramental membuat orang tua saya khawatir kalau tidak ada Ayah atau Ibu dan saya yang menemaninya bermain.

Meskipun begitu, Abang saya adalah anak yang aktif dari kecil dan tak ada bedanya dengan anak yang lain. Walaupun saya sering mendapati Ibu merasa sedih jika ada orang tua lain yang secara tidak langsung mengatakan hal tidak baik tentang Abang. Saya selalu mengatakan pada Ibu, bahwa saya akan menemani Abang. Pada saat itu menurut saya, Ibu akan tenang ketika saya berusaha untuk menjadi dewasa padahal usia baru empat tahun. Saya sangat mencintai Abang saya. Bahkan kami sering dibilang adik kakak yang sangat akur.

Ketika pertama kali masuk sekolah dasar, Abang mulai kewalahan menghadapi semua tanpa saya. Satu sampai tiga hari, Ibu menemani Abang bersekolah bahkan sampai seminggu. Namun setelah itu Abang benar-benar tidak ingin sekolah lagi. Saat itu Ibu dan pihak sekolah berdiskusi mengenai keadaan Abang.  Pihak sekolah menawarkan untuk menyekolahkan Abang di sekolah luar biasa. Namun, karena Ibu juga seorang guru honorer yang memikirkan keadaan Abang. Ibu merasa Abang  masih mampu sekolah di sekolah biasa.

Sejak saat itu Ibu memutuskan untuk mengajari Abang di rumah. Dan hari-hari berlalu, Abang  mau untuk mulai masuk sekolah lagi. Selama dua bulan Abang sekolah seperti anak biasa. Dan tidak ada keluhan dari pihak sekolah. Namun lagi-lagi setelah dua bulan berlalu, Abang tidak ingin sekolah. Saat bersamaan Ibu merasakan kesedihan yang teramat dalam, karena salah satu dari teman-teman di tempat Abang bersekolah tertarik untuk selalu menggoda, atau menakalinya. Akhirnya Ibu hanya mengajari Abang di rumah sembari menunggu saya cukup umur untuk bisa sekolah bersamaan dengan Abang, meskipun usia kami berbeda jarak tiga tahun. Karena keuletan dan ketabahan Ibu, akhirnya Abang sekolah di tahun setelahnya. Dia benar-benar menghadapinya sendirian dan tanpa saya dan Ibu, karena usia saya saat itu belum sesuai syarat untuk masuk sekolah dasar.

 

Membela Abang

Satu tahun berlalu dengan begitu cepat dan lancar. Pada saat itu saya juga mulai masuk sekolah dasar. Saya kelas satu, Abang di kelas dua. Alhamdulillah, Allah memberikan nikmat berlebih untuk saya. Sejak kecil Ibu selalu memberikan motivasi agar saya menjadi adik yang sabar dan pintar. Saya selalu menjadi juara kelas dan sangat rajin mengikuti lomba berpidato dan mengaji. Setidaknya Ibu terhibur dengan hadirnya saya, setelah menghadapi perjalanan kehidupan yang berliku. Saya sering sekali terlibat masalah dengan teman-teman Abang. Saya ingat sekali pada waktu duduk di kelas empat. Saya mulai berani kepada siapa pun yang berani menyenggol atau mengganggu Abang. Waktu itu jam istirahat, saya mengantarkan bekal untuk Abang yang dibawakan Ibu. Niat hati ingin membuat Abang bahagia dengan mengejutkan dia dengan mendatanginya di kelas. Ketika sampai di kelas Abang, saya melihat Abang dilempari penghapus kapur oleh temannya. Abang terlihat menangis. Awalnya saya rasa itu hanya main-main, tapi ada murid perempuan bilang bahwa murid laki-laki itu memang sering memukuli Abang. Karena saat itu saya ada di situ dan menyaksikan semuanya. Rasanya saya mulai merasakan sesak yang menyakitkan di dada. Sulit untuk diucapkan pada siapapun bagaimana terlukanya saya melihat Abang yang dipermainkan orang lain. Karena saya juga masih kecil dan terlahir untuk melindunginya, saya lempar kembali penghapus papan itu dan mengenai bahu murid lelaki itu. Saya langsung dipukul. Tapi saya balas memukulnya. Tanpa menangis, saya mulai menyadari ternyata saya sangat berani bak superhero saat itu.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVII: Budi Politik

Bagi saya menghadapi kesulitan jauh lebih baik ketimbang harus melihat Abang disakiti atau pun dihina-hina. Hancur sekali rasanya hati. Hingga pada akhirnya Sekolah Dasar sudah terlewati Abang  dengan baik. Yang ada di dalam pikiran, Abang tidak akan dihina lagi selagi ia sudah besar, pada saat saya masih kelas enam SD. Ternyata Abang menyembunyikan rasa sakitnya diam-diam. Begitu saya masuk madrasah di tempat Abang bersekolah. Semua di luar pikiran saya, kalau banyak kakak-kakak kelas yang meminta uang jajan Abang atau yang sering dikenal dengan kata palak. Saya pun bertekad untuk menjadi perempuan yang kuat.

Mungkin bagi orang lain lucu melihat orang lain jelek, memiliki kekurangan dan tak sama dengannya. Dan mungkin bagi orang lain orang seperti Abang tidak ada gunanya. Tapi untuk saya, Abang adalah sebagian dari nyawa saya. Saya paling rapuh bila ada yang menyulitkannya. Paling tidak bisa melihat dia terluka atau tersakiti. Saya percaya Abang lebih baik dari mereka yang merendahkan dan menghinanya. Sekalipun Abang sering disakiti, yang paling hebat dia selalu menganggap orang lain selalu baik kepadanya. Bahkan saat ia ditipu. Pernah suatu hari, Abang ditipu oleh orang yang sangat dia sukai. Saya sudah berpikir dan merasakannya dalam hati bahwa kakak itu tidak baik. Dan benar ia meminjam handphone Abang, dan tidak pernah mengembalikannya dengan dalih-dalih sudah diberikan kepadanya.

Simak juga:  Falsafah Wanita dan Garwa, Kunci Sukses Tugas Ibu Rumah Tangga

 

Tak Rela Abang Diganggu

Saya berusaha untuk tidak ikut campur, karena Abang mulai dewasa dengan pertumbuhannya, dan Ibu juga tidak mempermasalahkannya. Akhirnnya masalah itu berlalu begitu saja. Sejak saat ia masuk Madrasah Tsanawiyah sikap tempramentalnya mulai berkurang dan sangat nyaris sempurna, bahkan seperti anak normal biasa. Saya sangat bahagia dengan selalu menceritakan keadaan Abang  kepada Ibu. Bahwa Abang bebas berbicara dengan temannya dan menimati hidup seperti anak-anak lain.

Kebahagiaan itu berlanjut sampai saya selesai dari Madrasah Tsanawiyah. Saya mengira Abang  akan merasakan kebaikan orang lain juga seperti dua tahun lalu. Ternyata masih saja ada yang menghina dan mengejeknya. Dia selalu dijadikan bulan-bulanan untuk bahan olok-olokan teman-temannya. Bahkan lebih parahnya keadaan itu tidak hanya menimpa Abang saya. Tetapi juga saya. Saat itu saya kelas satu di Aliyah. Saat yang lebih menyakitkan, saya memiliki teman sekelas, yang dengan secara gamblang menghina dan mengejek Abang di hadapan saya. Sampai emosi itu benar-benar tidak terbendung lagi.

Saat itu pelajaran Bahasa Inggris berlangsung, tapi dia dengan sengaja menghina Abang  di hadapan saya. Saya benar-benar  tidak tahan dan marah. Saya membanting meja di depannya. Ketika itu tidak ada hal yang jernih lagi dalam pikiran saya, sehingga tindakan bodoh itu terjadi. Hal tersebut menyebabkan saya masuk ruang BK dan menjelaskan keadaan apa yang terjadi sebenarnya. Setelah kejadian itu, tidak ada lagi yang berani memperlakukan Abang seperti bahan ejekan. Sampai Abang tamat sekolah semuanya berjalan dengan lancar.

Banyak hal yang terjadi, baik suka maupun duka. Namun hal yang paling mengharukan dalam hidup saya terjadi ketika mulai mendaftar kuliah. Kami selalu menghadapi banyak hal dengan bersama. Sulit rasanya bila harus memilih, tetapi pada akhirnya saya tetap mendaftar di perguruan tinggi. Abang mendorong dan selalu mendoakan saya. “Kamu harus lulus dan menjadi orang sukses,” kata Abang.    Alhamdulillahnya doa-doa Abang terkabul, dan saya lulus masuk Universitas Sunan Kalijaga. Ketika saya membereskan baju-baju, terdengar Abang berkata, “Jaga diri baik-baik ya. Dek.” Saya benar-benar terharu sekali pada saat itu. Dan ketika saya sudah sejauh ini, dialah orang yang paling merindukan saya setelah Ibu.

Siapapun kamu, bagaimana perjalanan hidupmu, jangan biarkan orang lain menetukan nasibmu. Tetaplah semangat, meskipun badai datang setelah itu hadir mentari yang begitu indah. Begitulah kehidupan ini.

“Terimakasih Abang, sudah menjadi teman terbaik dalam hidupku. Nanti kita cerita lagi…” *** (Mela Tri Wahyuni)

 

                       *Mela Tri Wahyuni, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *