Minggu , 29 November 2020
Beranda » Humaniora » Kesukaan Menyanyi Tumbuh, Berkat Pengalaman Manis Masa Kecil
Ketika menyanyi diacara BBM Jogja TV. (Foto: Ist)

Kesukaan Menyanyi Tumbuh, Berkat Pengalaman Manis Masa Kecil

SUNGGUH benar kalau ada yang mengatakan, pengalaman masa lalu akan selalu berkesan sampai kapan pun. Terlebih pengalaman-pengalaman manis, pasti akan selalu dikenang sampai tua. Ya, buat saya pribadi, pengalaman-pengalaman manis di masa kecil misalnya, imbas, pengaruh dan kenangannya masih terasa hingga hari ini. Apa yang kini saya lakukan, banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa kecil itu.

Di usia-usia senja seperti sekarang ini, kesukaan atau hobi menyanyi saya tak pernah hilang atau surut. Saya sadar, kesukaan menyanyi saya ini sesungguhnya merupakan imbas atau pengaruh dari pengalaman-pengalaman manis semasa kecil dulu. Pengalaman-pengalaman manis bersama keluarga, bersama Ayah dan Ibu.

Salah satu di antara sekian banyak pengalaman manis semasa kecil itu yang sampai hari ini masih tetap teringat jelas adalah setiap menjelang tidur Ibu selalu meninabobokan saya dengan lagu-lagu kesukaannya. Sepertinya, ketika itu saya belum bisa memejamkan mata, dan tidur, bila tidak terlebih dulu mendengarkan nyanyian dari Ibu.

Ya, di masa kecil dulu saya punya kebiasaan, menjelang tidur harus berada dalam pelukan Ibu. Setiap memeluk saya di atas tempat tidur, Ibu pasti membawa radio transistor. Ibu pun mengantarkan tidur sambil menyanyi, mengikuti suara penyanyi yang terdengar dari radio. Tak jarang pula Ibu menyanyi sendiri tanpa mengikuti lagu yang ada di radio transistor.

Oh, saya ingat, salah satu lagu dari sekian banyak lagu-lagu kesukaan Ibu kala itu adalah lagu Kasih Tak Sampai yang dinyanyikan oleh penyanyi idola tahun 60-an, Rahmat Kartolo. Lagu itu hampir selalu dinyanyikan Ibu bila ingin menidurkan saya. Ibu memang penggemar lagu-lagunya Rahmat Kartolo. Dan, lagu itu pun kini menjadi salah satu lagu kesukaan saya. Lirik-lirik lagu itu seperti terekam erat di benak saya.

 

         Dulu pernah kujanji padamu
         Cinta suciku hanya bagimu
         Percayalah duhai pujaanku
         Ingin kuhindar tapi tak kuasa

         Walau tak sampai cita-cita kasih
         Mencapai cita-cinta abadi                    

         ……………………………..

Penggemar Pat Boone

Ayah dan Ibu sama-sama penyuka lagu-lagu yang populer kala itu. Hanya bedanya, kalau Ibu penyuka berat lagu-lagu Indonesia, Ayah penyuka lagu-lagu Barat. Walaupun penyuka berat lagu-lagu Indonesia, tapi Ibu juga suka beberapa lagu Barat. Sehingga bila Ayah mendengarkan lagu-lagu Barat kesukaannya, Ibu juga ikut mendengarkan. Oh iya, Ayah dan Ibu sama-sama penyuka lagu-lagu dari  Gleen Miller Orchestra. Memang masa-masa itu Gleen Miller Orchestra sedang populer, terlebih ada film yang menopang kepopulerannya, yakni film The Gleen Miller Story.

Seingat saya, Ayah penggemar berat Pat Boone. Hampir setiap hari Ayah selalu memutar piringan hitam yang ada lagu-lagunya Pat Boone melalui Gramafon. Melalui gramafon yang diputar Ayah, sejak masa kecil itu saya sudah selalu mendengar lagu-lagu Pat Boone seperti Love Letters in the Sand, Remember You’re Mine, Stardust, April Love, He’ll  Have To Go, dan lain-lainnya lagi.

Simak juga:  Santrinya Tuhan dan Pusar Nabi Adam (Bedhol Negoro, 6)

Mendengarkan lagu-lagu Barat yang selalu diputar Ayah, termasuk lagu-lagu Pat Boone yang disukainya, merupakan kenangan manis yang tak bisa saya lupakan hingga hari ini. Seperti halnya Ayah dulu, sekarang pun saya juga menyukai lagu-lagu Pat Boone. Dengan menyukai lagu-lagu Pat Boone, saya pikir, itu merupakan salah satu cara untuk selalu mengenang Ayah. Mendengarkan lagu  Love Letters in the Sand misalnya, kenangan terhadap Ayah pasti muncul.

        

         On a day like today
         We passed the time away
         Writing love letters in the sand

         How you laughed when I cried
         Each time I saw the tide
         Take our love letters from the sand

         ………………

 

Komunitas Menyanyi

Pengalaman manis sering mendengarkan lagu-lagu di masa kecil itu, telah menumbuhkan kesukaan atau hobi menyanyi pada diri saya. Kesukaan menyanyi itu sudah tumbuh sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Pelajaran kesenian, terutama menyanyi, sangat saya sukai ketika di SD itu. 

Kesukaan menyanyi atau mendengarkan lagu-lagu terbawa sampai remaja, dan kuliah. Bahkan ketika sudah bekerja seusai lulus perguruan tinggi, kesukaan menyanyi dan mendengarkan lagu-lagu itu pun tak pernah berlalu. Bahkan ketika pensiun dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian [STPP], intensitas kesukaan menyanyi itu terasa semakin meninggi.    Karena tak lagi ada hambatan kesibukan kerja, kesukaan menyanyi itu pun saya wujudkan dalam aktivitas menyanyi di berbagai kesempatan. Di tahun 2005, bersama tujuh orang teman sering kumpul-kumpul buat acara dan bernyanyi. Kemudian saya merasa aktivitas kesukaan menyanyi itu akan menjadi lebih terasa manfaatnya bila disalurkan melalui komunitas menyanyi.

Simak juga:  Serat Sabda Tama Petunjuk Utama Kehidupan

Dan, dua tahun kemudian, tepatnya pada April 2007 membentuk komunitas menyanyi P2L3 [Paguyuban Pecinta Lagu-lagu Lama]. P2L3 merupakan komunitas menyanyi pertama yang saya ikuti. Berkumpul di dalam komunitas menyanyi, membuat semangat dalam meneruskan kesukaan menyanyi menjadi lebih meningkat. Karena banyak hal menyenangkan sekaligus manfaat yang diperoleh di dalam komunitas menyanyi.

Setidaknya di dalam komunitas menyanyi akan bertemu dengan sejumlah orang yang memiliki kesukaan atau hobi serupa, yakni menyanyi. Sahabat pun akan bertambah. Pergaulan pun akan meluas. Bisa berbagi wawasan, pengetahuan dan pengalaman dalam hal menyanyi. Menyadari banyak manfaat yang diperoleh di dalam komunitas menyanyi, selain di P2L3 saya pu kemudian masuk ke komunitas LaNosta, Sensasi, dan Bening.

Bergabung di dalam sejumlah komunitas tembang kenangan atau komunitas menyanyi, membuat aktivitas menyanyi menjadi semakin meningkat. Hal itu dikarenakan sering hadir dalam setiap pertemuan yang diselenggerakan komunitas-komunitas menyanyi tersebut. Selain menyanyi di pertemuan-pertemuan komunitas menyanyi, juga sempat beberapa kali tampil menyanyi di RRI Yogyakarta, Jogja TV, Radio Swara Kenanga, dan lainnya.

Kesukaan menyanyi di masa tua, sungguh merupakan hiburan yang sangat berharga. Betapa tidak. Menyanyi itu membuat rasa bahagia. Membuat hati senang dan gembira. Terlebih lagi, bila kesukaan menyanyi itu bisa menorehkan prestasi. Prestasi yang membanggakan dan membahagiakan.  

Ya, pada tahun 2009 saya mengikuti lomba menyanyi Eyang Kakung – Eyang Putri di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Dari babak penyisihan sampai final saya lolos. Dan, pada final yang dilaksanakan di gedung Pyramid, Bantul, dan disiarkan live RBTV, saya berhasil keluar sebagai Juara I Putri. Betapa saya bangga dan bahagianya, di usia tua masih bisa meraih prestasi dalam hal menyanyi. *** [Rapiningsih]

 

*** Rapiningsih, BSc, STP, lahir di Yogyakarta pada 11 April 1954. Pensiunan dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian [STPP] Yogyakarta ini merupakan ibu dari empat anak dan nenek delapan orang cucu. Bersama suaminya, Sumarno Rusmin, ia sekarang tinggal di    Cupuwatu, Purwomartani, Kalasan, Sleman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *