Sabtu , 8 Agustus 2020
Beranda » Humaniora » Kesan Indah Negeri Jiran, Malaysia
Bangunan Sultan Abdul Samad. (Foto: Alif)

Kesan Indah Negeri Jiran, Malaysia

JANUARI tahun 2019 akan selalu menjadi bulan paling mengesankan untuk saya. Saat itu saya berkesempatan menginjakkan kaki di negara tetangga yang biasa kami sebut dengan negeri jiran. Ya, awal tahun lalu menjadi pertama kalinya saya melakukan perjalanan keluar negeri yaitu ke Malaysia. Sebuah pengalaman yang selalu saya tunggu-tunggu untuk saya ceritakan kepada orang lain. Tentunya karena banyak sekali hal menarik yang saya alami selama berada di negeri orang. Maklum, sebagai anak dari keluarga sederhana dan tumbuh di kota kecil, tidak pernah terbayangkan saya mendapat kesempatan bepergian keluar negeri secepat itu. Bahkan saat itu, naik pesawat pun menjadi pengalaman pertama kali bagi saya.

Saya berangkat bersama Ayah dan Ibu, sebuah keuntungan menjadi anak bungsu yang memiliki jarak usia cukup jauh dengan ketiga kakaknya. Ketiga kakak saya sudah menikah dan hidup masing-masing, sehingga hanya tinggal saya yang masih tinggal bersama kedua orangtua saya. Mengajak saya dalam perjalanan ke Malaysia ini menjadi satu-satunya pilihan Ayah dan Ibu. Karena saat itu saya tengah berada di masa liburan kuliah dan kebetulan mendapat tugas untuk membuat video soft news tentang liburan. Sehingga saya diajak turut serta dalam wisata ini. Dan, wisata itu sekaligus menjadi moment yang sangat berarti antara saya dan orangtua. Itulah mengapa perjalanan ini saya anggap sebagai perjalanan yang berharga dan mengesankan.

Perjalanan dimulai pada 15 Januari 2019. Dimulai dari keberangkatan dari kota asal saya,  Temanggung, menuju ke Jakarta menggunakan bus malam. Kami berangkat dari terminal dengan diantarkan salah satu kakak saya dan suaminya. Barang bawaan kami cukup banyak, itu pun sudah ada barang yang terlebih dahulu dikirim ke rumah saudara kami di Jakarta.

Karena memang, kami akan menghabiskan waktu selama satu pekan di Malaysia nantinya. Perjalanan kami ke Jakarta ditempuh sekitar sepuluh jam dan nantinya kami akan beristirahat sebentar di rumah saudara kami yang berada di daerah Jakarta Timur.

Sampai di Jakarta, sekitar pukul setengah empat pagi tanggal 16 Januri 2019. singkat cerita, sekitar pukul lima sore kami check in di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk mendapatkan boarding pass.

Saat itu kami sudah memesan makanan di pesawat, sehingga  memang tidak berencana makan di Bandara mengingat waktu menunggunya pun tidak lama. Namun ternyata, ada pemunduran waktu keberangkatan pesawat dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat. Hal ini cukup menganggu kami, karena waktu pemunduran keberangkatan yang cukup lama menjadikan waktu makan juga mundur lama. Di sisi lain kami juga tidak mungkin makan di Bandara karena harganya yang mahal untuk porsi yang sedikit. Akhirnya kami hanya mengganjal perut dengan camilan yang dibawa. Barulah sekitar pukul sembilan malam, kami dipersilakan masuk ke pesawat. Saat itu baru saya sadari bahwa nomor tempat duduk saya dan orangtua berbeda baris. Saya berada di baris E, sedangkan Ayah dan Ibu berada di baris F. Tempat duduk saya sendiri berada di sebelah tempat duduk turis asal Timur Tengah (saya asumsikan begitu karena mereka berbincang dengan bahasa Arab).

Ada perasaan senang juga duduk di dekat turis Timur Tengah itu. Setidaknya saya dapat menyaksikan bagaimana orang Arab bergurau dengan bahasa Arab  yang kadang terdengar sakral, tapi kemudian diikuti dengan canda tawa mereka.

Saya juga melihat bagaimana orang di sebelah menggunakan handphonenya yang juga berbahasa Arab. Tulisan di handphonenya berawal dari kanan, ia juga mendengarkan lagu berbahasa Arab namun dengan genre rock. Semuanya terasa menakjubkan bagi saya, selain karena pengalaman pertama, juga membuka mata saya bahwa bahasa Arab tidak selalu sakral. Karena pada dasarnya bahasa Arab hanya salah satu media untuk berkomunikasi, sama seperti bahasa Indonesia. Tidak berselang lama, makanan datang, saya pun makan dengan lahap karena jujur ketika itu sangat lapar.

Kami sampai di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) sekitar pukul sebelas malam lebih. Kami harus melewati banyak jalan untuk kemudian sampai di bagian imigrasi dan dicek barang yang dibawa. Penjagaan Bandara Kuala Lumpur sangatlah ketat. Setelah lolos dari pengecekan, kami dijemput oleh teman Ibu saya yang kebetulan seorang supir taksi online di Kuala Lumpur. Kami telah memesan hotel melalui situs pemesanan hotel online yang berada di daerah Ampang. Hotel ini dipilih karena dekat dengan rumah teman Ibu saya yang lain. Memang cukup jauh dari KLIA, sekitar 13 kilometer. Namun teman Ibu yang supir taksi online tersebut tidak meminta dibayar sama sekali, padahal kami meminta bantuan pada dinihari dan cukup jauh.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

 

Sesampai di Malaysia

Sesampainya di hotel, ada sedikit cerita juga. Karena memesan melalui situs pemesanan online, kami hanya menunjukkan bukti pemesanan ke bagian resepsionisnya. Namun ternyata dari pihak situs tersebut belum memberikan konfirmasi ke pihak hotel, sehingga pada awalnya diminta menunggu terlebih dahulu. Beruntung kemudian pihak hotel berbaik hati dan akhirnya memberikan kunci kamar kepada kami, sehingga bisa beristiharat.

Sampai di hotel sekitar pukul tiga dinihari pada tanggal 17 Januari 2019, sedangkan pukul sepuluh pagi kami sudah akan dijemput teman Ibu yang rumahnya tidak jauh dari hotel.   Sebelum kami dapat beristirahat ternyata baru sadar bahwa handphone dayanya telah menipis. Barulah disitu saya tahu kalau stop kontak Malaysia berbeda dengan Indonesia. Di Malaysia memiliki tiga lubang, sedangkan Indonesia hanya memiliki dua lubang. Sehingga disitu kami tidak dapat mengisi ulang daya handphone dan harus menunggu pagi harinya. Beruntung handphone saya masih memiliki baterai yang cukup hingga pagi hari sehingga dapat digunakan untuk menghubungi teman Ibu yang hendak menjemput.  

Pagi harinya, sekitar pukul sepuluh kami dijemput dan diajak untuk menikmati sarapan khas Malaysia. Kami diajak ke suatu tempat makan bernama Kampung Baru, seperti pasar namun khusus untuk makanan siap makan, atau mungkin seperti kantin. Ternyata makanan di sana tidak jauh berbeda dengan masakan Padang di Indonesia, rata-rata terdiri dari makanan yang  mengandung banyak santan dan bumbu-bumbu khas Melayu. Yang menarik, ada juga makanan-makanan yang bernapaskan India, seperti roti canai dengan kuah kari. Namun pagi itu kami sarapan dengan makanan yang masih hampir sama seperti  makanan di Indonesia.

Ada fakta menarik di Kampung Baru ini, Pemerintah Malaysia mewajibkan orang yang berjualan di situ adalah orang Melayu asli Malaysia dan melarang etnis lain untuk berjualan di situ. Sehingga meskipun saya sempat beberapa kali bertemu dengan orang Indonesia di sana, mereka bukanlah pemilik dari tempat makan itu, pemiliknya tetap orang Melayu Malaysia.

  

Dataran Merdeka

Selanjutnya kami menuju ke Dataran Merdeka, suatu tempat yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Malaysia. Karena, di sinilah kata  “merdeka” dipekikkan oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu. Namun sayang, karena saat itu sedang ada perbaikan, kami tidak dapat berkunjung langsung ke Dataran Merdeka, melainkan hanya melihat dari seberangnya saja. Namun jangan salah, di seberangnya pun tetap ada bangunan iconic yang sangat cantik bernama Bangunan Sultan Abdul Samad.  

Selanjutnya, kami mengunjungi Masjid Nasional Malaysia, kalau di Indonesia seperti Masjid Istiqlal. Masjid ini didalamnya terdapat makam sosok yang dihormati di Malaysia dan juga ada lembaga seperti Majelis Ulama. Yang menarik adalah kita diharuskan menggunakan pakaian tertentu ketika memasuki masjid ini. Terlebih bagi perempuan yang menggunakan baju atau celana pendek diwajibkan untuk memakai jubah yang disediakan oleh masjid. Sehingga, ketika berada di dalam Masjid dipastikan aurat tertutup dan suci, karenanya alas kaki diwajibkan dilepas. Masjid ini luas dan terdapat kolam di dalamnya, namun bukan kolam yang diperuntukkan untuk berenang.

                                                                                         

Menara Kembar Petronas

Selanjutnya kami menuju ke KLCC atau Kuala Lumpur City Centre. Di tempat ini terdaat menara kembar yang sangat iconic, yaitu Menara Petronas. Ternyata tidak jauh beda dengan gedung-gedung tinggi di Jakarta, Petronas juga merupakan pusat kota yang dipenuhi orang-orang yang bekerja. Sehingga saat itu keadaannya sangat ramai karena merupakan hari kerja. Namun yang menarik ketika saat menyeberangi jalan, mereka tetap rapi dan tidak menyela apabila lampu lalu lintas belum menunjukkan warna merah.

Selanjutnya, saya menuju ke Masjid Jami’ yang terletak tidak jauh dari KLCC. Kali ini kami mencoba naik LRT, sebuah moda transportasi umum yang berbentuk kereta namun berada di atas tanah. Sehingga ketika kita melewati kota, akan terlihat seluruh pemadangan kota Kuala Lumpur yang indah. Selanjutnya kami sempat mengunjungi Mall di dekat KLCC, namun tidak banyak berbeda dengan Mall di Indonesia.

Kemudian kami diajak untuk menikmati makanan khas Malaysia yang merupakan adaptasi dari makanan India, yaitu roti canai. Saya memesan saus original rasa kari. Kemudian saya juga memesan bihun, hampir sama seperti bihun di Indonesia. Pesanan lain adalah teh tarik, yaitu minuman yang terdiri dari teh dicampurkan susu yang teknik pembuatannya dengan cara ditarik. Rasanya manis dan warna minumannya seperti kopi susu. 

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVII: Budi Politik

Keesokan harinya pada tanggal 18 Januari 2019, karena masih sangat lelah, kami memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana. Sehingga hanya berjalan-jalan di sekitar hotel dan mencicipi makanan-makanan khas Malaysia. Makanan yang dicoba antara lain nasi lemak, yaitu suatu makanan yang terdiri dari nasi, kuah, dan beberapa lauk seperti telur dan kacang, hampir seperti nasi uduk di Indonesia. Kami pun mencoba Martabak Malaysia, di sini martabak disebut sebagai Murtabak, karena merupakan adaptasi dari makanan India. Bahkan yang berjualan pun kebanyakan memiliki perawakan India. Murtabak ini memiliki banyak varian kuah, yang saya coba adalah varian kuah seperti gulai dan varian kuah berwarna merah muda yang rasanya manis, namun dilengkapi dengan irisan bawang Bombai. Murtabak di Malaysia juga memiliki potongan daging yang besar, dan ada juga pilihan daging kambing selain ayam dan sapi.

Hari ketiga, tanggal 19 Januari 2019, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar hotel, yaitu ke sebuah tempat bernama Batu Caves. Tempat wisata ini merupakan tempat ibadah agama Hindu yang sangat terkenal di Malaysia. Kami memesan taksi online untuk menuju ke sana, namun ternyata, Batu Caves tersebut sedang tidak menerima kunjungan karena digunakan untuk upacara keagamaan dan kegiatan ibadah agama Hindu. Karena hari itu bertepatan dengan hari Thaipusam yang dilaksanakan di Batu Caves dan dihadiri pemeluk agama Hindu dari berbagai negara. Sehingga, kami mengganti destinasi wisata ke Zoo Negara Malaysia. Seperti namanya, kami mengunjungi kebun binatang, sebenarnya agak kurang cocok mengingat kami bertiga sudah sama-sama dewasa dan sudah bukan masanya melihat-lihat binatang. Namun karena kami kurang mencaritahu tentang wisata di Malaysia, akhirnya  tetap mengunjungi kebun binatang tersebut.

 

Berkunjung Ke Melaka

Hari itu adalah hari terakhir kami di Kuala Lumpur, karena selanjutnya  akan mengunjungi teman Ibu saya yang berada di Melaka. Sehingga keesokan harinya pada 20 Januari 2019 kami dijemput oleh teman Ibu untuk bersama-sama berangkat ke Melaka. Melaka berjarak sekitar 150 kilometer dari Kuala Lumpur, dan kami menempuh perjalanan dengan mobil sekitar dua jam. Hal ini karena kami melewati jalan tol yang lancar. Yang menarik, jalan tol di Malaysia diperbolehkan untuk dilewati sepeda motor dan tidak dibebankan biaya alias gratis. Karena pengguna sepeda motor dianggap sebagai rakyat miskin di Malaysia, meskipun terkadang harga dari motor yang digunakan lebih mahal daripada mobil. Namun, masyarakat Malaysia sangat menghargai produkdalam negeri mereka. Mereka sangat mendukung dengan cara membeli produk dalam negeri. Salah satunya adalah mobil, masyarakat Malaysia kebanyakan menggunakan mobil dalam negeri dengan merk Perodua.

Di Melaka saya dan keluarga mengunjungi sebuah pantai bernama Pantai Klebang yang saat itu sedang digelar sebuah acara. Kemudian kami menginap di rumah teman Ibu yang merupakan orang Indonesia, berasal dari Malang, namun kemudian menikah dengan orang Malaysia, dan sudah sepuluh tahun tinggal di Malaysia. Kami menginap di sana untuk dua hari. Keesokan harinya pada 21 Januari 2019 saya mengunjungi sebuah masjid yang unik, yaitu Masjid Apung. Sebuah masjid yang berada di pinggir pantai dan sebagian bangunannya ada di atas air laut. Kemudian keesokan harinya pada 22 Januari 2019 saya mengunjungi Benteng Formosa yang ada di Melaka. Benteng ini menjadi pengingat perjuangan para pahlawan di Malaysia. Kemudian juga mengunjungi Tanah Merah, sebuah kawasan yang semua bangunannya berwarna merah dan dihuni oleh banyak orang keturunan China.

Sore harinya kami pulang ke Kuala Lumpur, menggunakan kendaraan bus. Terminal di Melaka pun sudah sangat canggih jika dibandingkan dengan terminal bus di Indonesia. Kursi dalam bus, terdiri dari tiga kursi yang terpisah menjadi dua kursi dan satu kursi. Dalam bus itu kami  bertemu dengan orang Indonesia, dari Yogyakarta.  Malam harinya kami sampai di Kuala Lumpur. Dan, malam itu, kami menginap di Bandara Kuala Lumpur, karena penerbangan kami esok harinya sangat pagi.

Tanggal 23 Januari 2019 pukul 07.00 pagi kami terbangke Jakarta. Dan, barulah tanggal 24 Januari 2019 kami pulang ke Temanggung. *** (Alifah Qonitah Imtinan)

 

   * Alifah Qonitah Imtinan, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *