Beranda » Humaniora » Kelas Online: Dilema Mahasiswa Menghadapi Keadaan
Ilustrasi pembagian masker untuk pengemudi ojek online perempuan. (Foto: Ist)

Kelas Online: Dilema Mahasiswa Menghadapi Keadaan

AWAL Maret tahun 2020 menjadi kepanikan tersendiri di pikiran Sinta. Selain dia sudah menjadi mahasiswa semester akhir, kemunculan pandemi baru-baru ini ini menambah beban pikirannya. COVID 19, atau yang biasa orang sebut virus corona semakin rata menyebar, termasuk di kota yang disinggahi.

Sinta, seorang mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Semester akhir membuat Sinta harus meluangkan waktu untuk berkuliah sambil bekerja dikarenakan tidak ada subsidi lagi dari orang tua.

Di semester akhir pula Sinta meluangkan waktunya untuk bekerja sambil mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Dia tidak mau berpikir ribet tentang skripsinya, karena bisa dikerjakan sambil bekerja. Untuk saat ini, pikiran Sinta terfokus pada pekerjaannya sebagai ojek online. Sebelum wabah ini meningkat drastis, upahnya sebagai ojek online dapat menutupi biaya kuliah dan biaya hidupnya di Yogya.

Mengingat pandemi ini berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat Yogyakarta, Sinta kehilangan banyak pelanggan. Keadaan ini membuatnya harus memikirkan pekerjaan lain untuk menghidupi dirinya sendiri di tanah rantau, mengingat tiket pesawat untuk pulang juga memberatkan dirinya. Padahal keluarga di rumah sudah khawatir dengannya.

Terlepas dari pekerjaannya, tidak bisa dilupakan bahwa Sinta adalah seorang mahasiswa. Dia berangkat ke Yogya dengan niat menuntut ilmu di bangku perkuliahan. Pada akhir semester ini, tugas akhir Sinta hampir selesai. Tuntutan untuk menyelesaikan perkuliahannya ini diharapkan juga agar dia bisa fokus ke pekerjaannya, meniti karir di jenjang yang lebih tinggi.

Simak juga:  Lansia Tegalpanggung Latihan Membuat Jamu

Cita-citanya pun mulia, tapi kebijakan di kampusnya menuntut untuk menunda kelulusan dikarenakan pandemi ini tidak bisa mempersilahkan Sinta untuk merampungkan sidang tugas akhirnya. Hingga akhirnya dia memilih untuk menunda kelulusan.

 

Perlu Biaya Lebih

Selain mahasiswa tingkat akhir, kebingungan juga terjadi di beberapa kalangan mahasiswa semester empat. Sebut saja Erik, seorang mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Di tengah pandemi yang marak di Indonesia, kebijakan kampus menambah beban pikiran. Kebingungan terjadi saat munculnya keputusan pengalihan kelas menjadi kelas online.

Erik bisa dikatakan berkuliah di Yogya dengan modalnya yang seadanya. Terlahir di keluarga sederhana tidak menghalangi niatan Erik untuk menempuh pendidikan tinggi. Namun seiring berjalannya kelas online, dia sadar bahwa memerlukan biaya lebih untuk mengikuti model kelas seperti itu.

“Minggu pertama berjalan sih tidak masalah. Tapi lama kelamaan kok malah tekor sendiri,” kata Erik pekan lalu.

Kuota internet menjadi kebutuhan baru dalam daftar kebutuhannya. Beberapa model kelas memang mengharuskan menggunakan model live stream yang menguras banyak kuota internet. Kini tekadnya mulai terkalahkan dengan keadaan.

Simak juga:  Pecah Kepala Khalifah

Erik juga mulai mempertanyakan pihak kampus sendiri dengan biaya kuliahnya. Melihat tugas pengganti kuliah sudah sangat menekan. Empat dari tujuh mata kuliahnya memberikan tugas setiap minggu. Jika terus berlanjut, bukan kuliah yang tersampaikan, melainkan hanya ujian setiap mata kuliah dan setiap minggunya.

Menurutnya yang dinamakan kelas dengan media internet itu bukan pemberian tugas yang terlalu banyak. Kelas seharusnya berisi dialektika dan diskusi yang menjadikan mahasiswa paham dengan ilmu yang dipelajari.

“Ya, seharusnya kalau seperti ini terus harus ada pengembalian dana UKT yang sudah terbayar. Kita kan hanya bertatap muka di kelas selama setengah semester, jadi ya kembalikan dong yang 50 persen. Kalau pun tidak bisa, tolong beri kita akses gratis untuk perkuliahan online seperti sekarang ini,” katanya lagi dengan wajah kecewa.

Ya, kuliah model online, ternyata tak menyenangkan juga. *** (Akhmad Mundhir)

 

*Akhmad Mundhir, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

KETIKA virus Corona atau kemudian dikenal dengan sebutan Covid-19 menerpa dan merebak di negeri ini, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *