Selasa , 29 September 2020
Beranda » Humaniora » Hobi Menyanyi Muncul, di Saat Mulai Kenal Cinta
Tampil menyanyi di Pro 1 RRI Yogyakarta. (Foto: Ist)

Hobi Menyanyi Muncul, di Saat Mulai Kenal Cinta

MASA-MASA duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama [SMP], merupakan awal masa-masa remaja yang paling menyenangkan dan berkesan. Begitu lepas dari status sebagai murid SD, kemudian menjadi murid SMP, maka masa-masa kanak-kanak pun seakan sudah terlepas dan berlalu. Dan, ketika berstatus sebagai siswi SMP, awal masa remaja pun tiba. Ou, betapa senangnya hati kala itu.

Kalau sebelumnya, sewaktu masih jadi murid SD, saya tak punya keberanian untuk menyanyikan lagu-lagu pop bertema cinta itu bila berada di rumah. Karena Ayah dan Ibu, pasti akan bilang, “Anak kecil kok nyanyi lagu-lagu cinta. Itu lagunya orang-orang dewasa. Lagu anak-anak saja.” Demikian pula jika dinyanyikan ketika berada di antara teman-teman sepermainan, pasti akan ada teman yang bilang, “Heh, jangan nyanyi lagu itu. Itu lagunya orang-orang besar.”

Akan tetapi begitu menjadi siswi SMP, semua sudah berbeda. Semua berubah. Berubah ke hal-hal yang menyenangkan. Buat saya, masa-masa di SMP memang masa-masa yang menyenangkan. Masa-masa yang berkesan dan penuh kegembiraan. Seakan apa yang tak bisa dilakukan semasa masih di SD, akan bisa saya lakukan ketika di SMP. Saya benar-benar merasa senang. Merasa bahagia.

Betapa tidak, ketika di SMP, saya sudah mulai memiliki keleluasaan untuk menyukai lagu-lagu populer yang berkisah tentang cinta, tentang kehidupan remaja, dan hal-hal serba indah lainnya. Tak hanya menyukai, saya pun memiliki keleluasaan dan keberanian pula untuk menyanyikan lagu-lagu tentang cinta itu, ketika sedang berada di rumah atau di mana pun. Tak lagi takut akan ditegur atau dimarahi Ayah dan Ibu. Tak lagi takut akan ditertawakan atau diolok-olok teman.  

Ya, di sekitar tahun 1976, saya mulai sukai menyanyi dan berdendang. Tak hanya menyanyi di rumah, di saat-saat senggang, atau di waktu sedang tidak belajar. Tapi juga, kalau ada kesempatan menyanyi di mana pun, misalnya di pesta ulang tahun teman, atau ketika berkumpul gembira bersama teman-teman, saya selalu ingin menyanyi. Saya ingin tunjukkan ke teman-teman, bahwa saya suka menyanyi.

 

Lagu John

Masa-masa di SMP itu memang masa-masa menyenangkan. Masa-masa mulai jatuh cinta. Masa-masa mulai mengagumi dan menyukai seseorang. Masa-masa belajar bagamana caranya membangun pesona diri, dan menarik perhatian orang lain. Belajar untuk bisa selalu terlihat cantik, dan menarik.

Kalau ada yang bilang, lagu-lagu kenangan itu selalu berhubungan dengan kisah cinta [tentu maksudnya kisah cinta di masa lalu], saya tak menolaknya. Saya sepakat dengan pernyataan itu. Ya, di masa-masa sedang belajar jatuh cinta itu, saya kebetulan sedang menyukai lagu John yang dinyanyikan oleh penyanyi Arie Koesmiran.

Arie Koesmiran kala itu memang termasuk salah satu dari sekian banyak penyanyi yang saya sukai. Hampir semua lagu-lagunya saya sukai dan hapal. Tapi lagu John yang dinyanyikan itu sangat berkesan buat saya. Ya, lagu itu penuh kesan, karena sering saya nyanyikan di kala bunga-bunga cinta remaja sedang bermakaran di hati. Sampai hari ini, saya masih hapal dan ingat secara jelas lirik-lirik lagu itu.

 

Simak juga:  Mendaki dan Menyanyi

         John

         John, kau bagai gelombang
         Kudiam kau datang
         Kukejar kau hilang
         Hei John, daku yang wanira
         Terjatuh kau cumbu rayu

         John, kejamnya hatimu
         Kudiam kau benci
         Kusapa kau benci
         Oh John, tiada satu pun
         Pemuda yang sepertimu

         Reff:

         Engkau seganas gelombang
         Bila kuabaikan dirimu
         Engkau menyakitkan  hati
         Bila luharapkan dirimu
         Apakah yang engkau inginkan
         Apakah yang engkau harapkan
         Dariku…..
         Katakanlah….
         Katakanlah….

 

Kesukaan atau hobi menyanyi saya memang tumbuh di masa SMP. Di tahun 1980-an hobi menyanyi itu pun semakin meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dan, di tahun 1980-an itu ada beberapa lagu yang saya sukai dan sangat berkesan. Lagu-lagu yang sering saya nyanyikan dalam berbagai kesempatan. Dua di antara lagu-lagu yang saya sukai dan berkesan itu adalah Antara Anyer dan Jakarta serta Apanya Dong

Saya sudah menyukai lagu Antara Anyer dan Jakarta, sejak lagu itu pertama kali dinyanyikan atau dipopulerkan oleh Atiek CB. Ya, lagu ciptaan Oddie Agam itu sebelum dipopulerkan oleh penyanyi asal Malaysia, Sheila Madjid, sudah terlebih dulu dipopulerkan oleh Atiek CB. Lagu Apanya Dong itu saya sukai karena iramanya yang gembira. Baik yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya, Titiek Puspa, maupun dinyanyikan Euis Darliah. Semuanya saya suka.

Sejak dinyanyikan Atiek CB, lagu Antara Anyer dan Jakarta sudah saya sukai. Kebetulan ada kesan dan kenangan khusus di dalam lagu itu. Jadi, ketika kemudian lagu tersebut dipopulerkan lagi oleh Sheila Madjid, saya masih tetap merasa lebih suka mendengarkannya lewat vokal Atiek CB. Di saat banyak orang memuji-muji vokal Sheila Madjid, saya biasa-biasa saja. Karena kesan dan kenangan atas lagu itu muncul saat masih dinyanyikan oleh Atiek CB. Ya, lirik-lirik lagu Antara Anyer dan Jakarta itu memang mengesankan.

 

         Antara Anyer dan Jakarta

         Deru sang ombak bersilir ke pantai
         Disambut alunan nyiur melambai
         Rembulan megah di atas mahligai
         Tersenyum melihat kita berdua

         Angin membawa lagu cinta
         Sejuta bintang bermain mata
         Seakan rela dua insan
         Di dalam skenarionya

         Antara Anyer dan Jakarta
         Kita jatuh cinta
         Antara Anyer dan Jakarta
         Kisah cinta tiga malam
         Kan kuingat selamanya
         Antara Anyer dan Jakarta

 

Simak juga:  Mempelajari Cinta dan Belajar Mencintai

Di Komunitas Perumahan

Kesukaan atau hobi menyanyi yang tumbuh sejak masa SMP itu ternyata terus bertahan sampai hari ini. Semangat untuk menyanyi itu tak pernah padam, tak pernah mereda. Hobi menyanyi itu terus menggelora sampai kuliah, kemudian menikah, punya dua anak, dan sampai punya cucu.

Ketika komunitas-komunitas menyanyi atau komunitas-komunitas tembang kenangan tumbuh dan bermunculan di Yogyakarta maupun di banyak kota lainnya, Ibu-ibu di komplek perumahan tempat saya tinggal, yakni Perumahan Sorosutan Indah juga tak mau ketinggalan. Ibu-ibu di komplek perumahan pun membuat komunitas untuk bernyanyi, yang diberi nama Sanggar Melati.

Saya oun menyambutnya dengan gembira. Karena merasa mendapatkan tempat untuk menyalurkan hobi menyanyi itu, sebagai warga di Perumahan Sorosutan Indah, saya pun bergabung di dalam komunitas Sanggar Melati. Tempat latihan di rumah Drs. Lilik DH dengan player Lilik Saggydoc.

Bermula dari komunitas menyanyi di komplek perumahan itu, saya pun mulai tertarik untuk mencoba menyanyi di komunitas-komunitas lainnya. Sekitar empat tahun lalu, saya mulai bergabung di komunitas Melody [Sanggar Melody]. Banyak pengalaman diperoleh selama ikut menyalurkan hobi menyanyi di Melody. Setidaknya terbuka wawasan-wawasan baru dalam mengembangkan aktivitas kesukaan menyanyi tersebut.

Tak hanya di Melody, kemudian saya pun bergabung di dalam komunitas Pelangi. Di dalam Pelangi, kesempatan menyanyi, terutama di Radio, semakin banyak diperoleh. Hal itu dikarenakan komunitas Pelangi telah memiliki jadwal rutin tampil menyanyi di Radio Swara Kenanga Jogja [SKJ]. Selain di Radio Swara Kenanga Jogja, juga sempat tampil menyanyi di Jogja TV, Pro 1 RRI Yogyakarta, dan Radio Arma Sebelas.

Di usia yang tak lagi muda seperti sekarang ini, banyak hal yang saya rasakan jika bicara tentang manfaat dari menyanyi dan bergabung di dalam komunitas menyanyi. Di antaranya, karena selalu menyanyi dan menghapal lirik-lirik lagu maka daya ingat akan senantiasa terjaga. Selain itu di dalam komunitas menyanyi akan terjalin tali silaturahmi dengan sesama.

Menyanyi membuat badan dan jiwa sehat. Dan, satu hal lagi, kalau nyanyi lupa bila sudah jadi nenek-nenek. Merasa tetap muda dan bugar. *** [Sri Sugiyanti]

 

*** Sri Sugiyanti,  lahir di Magelang, 11 Desember 1961. Ibu dua orang anak, dan nenek seorang cucu, yang lebih suka menyebut dirinya hanya sebagai ibu rumah tangga ini adalah seorang sarjana muda ekonomi. Bersama suaminya, Berliantoro SE, kini ia tinggal di Perum Sorosutan Indah, Sorosutan, Yogyakarta.

Lihat Juga

Menyanyi Sambil Membayangkan . . . . .

SAAT ini, menyanyikan sebuah lagu tidak diharuskan untuk hafal liriknya. Sudah banyak sekali fasilitas yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *