Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Hadapi Corona, Diam Berarti Melawan
Langkah melawan Corona. (Foto: okezone)

Hadapi Corona, Diam Berarti Melawan

KIRANYA beginilah judul yang cocok untuk saya gambarkan pada saat-saat seperti ini. Banyaknya pandemic yang mendesak kita untuk selalu melakukan social distancing. Diam dan tak kemana-mana, bukan diam tanpa melakukan apa-apa. Muncul pula tagar pada media-media social #dirumahaja.

Kita ketahui bahwa semua ini ulah virus yang tak jelas kapan berkhirnya.  Virus yang jika kita biarkan dampaknya kian memburuk. Virus yang jika ditantang justru malah kita yang akan kewalahan menghadapinya. Covid-19 itulah nama virus yang sempat bermutasi menjadi lebih kuat. Penyebaranya mulai dari negara China yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Setiap negara mempunyai potensi terserang virus ini, tergantung bagaimana negara itu menyikapinya.

Indonesia adalah negara yang terpaksa berpartisipasi melawan virus ini. Tercatat pada awal bulan Maret 2020, Indonesia mulai harus mempersiapkan senjata guna melawan virus Covid-19. Pada mulanya, penyebaran ini kita ketahui muncul tepatnya di daerah Depok, Jawa Barat, yang kemudian terus menyebar hingga ke daerah atau kota lain. Dan, jumlahnya yang positif maupun diduga terpapar virus itu terus bertambah dari hari ke hari.

Sungguh jumlah yang mengejutkan, karena belum genap satu bulan virus ini tiba di Indonesia, sudah hampir menyeluruh dan merata menjangkit di wilayah Indonesia. Sudah banyak imbauan yang diberikan Pemerintah kepada masyarakat Indonesia, mulai dari social distencing hingga lockdown pun juga pernah ditawarkan.

Dari sini saya mengambila sumsi, saat-saat seperti ini langkah diam adalah jalan terbaik untuk melawan. Diam adalah solusi paling solutif untuk mengurangi dampak yang kian memburuk. Diam adalah aktivitas paling bermanfaat bagi diri kita selebihnya bagi orang lain pula.

Layaknya Mahatma Gandhi pada saat perang melawan penjajah, kiranya posisi kita sama dengan perjuangan Mahatma Gandhi pada masa itu. Mengapa saya menganalogikan kejadian ini dengan perang yang pernah dipimpin oleh Mahatma Gnadhi? Mari kita telaah bersama.

 

Solusi Terbaik

Saat ini diam adalah solusi terbaik untuk kita lakukan, sama halnya dengan yang Mahatma Gandhi lakukan dahulu. Ia berperang dengan tanpa melawan, para pasukannya dibiarkan maju tanpa perlawanan. Akhirnya banyak media yang menyorot Mahatma Gandhi, lalu dunia mengecam penjajah yang menjajah India pada masa itu. Lalu, para penjajah pergi dan Mahatma Gandhi berhasil memenangkan perjuangan atau peperangan itu. 

Simak juga:  Apresiasi Karya di Ambenan Ijogading

Kita lihat, diam berarti melawan. Sesuai dengan judul yang saya tetapkan. Sekali lagi, diam berarti melawan. Diam tak kemana-mana, bukan diam tanpa melakukan apa-apa. Inilah titik point yang layak kita pahami bersama. Melawan virus ini bukan tugas Pemerintah saja, ini sudah menjadi tugas seluruh warga negara Indonesia. Pemerintah mengimbau, tenaga medis mengobati, dan kita mematuhi imbauan itu. Sungguh pembagian tugas yang tak adil. Mengapa? Tugas Pemerintah dan tenaga medis dirasa lebih berat dibanding kita, namun mereka menerima ketimpangan ini demi kemaslahatan masyarakat Indonesia. Nah, kita hanya tinggal diam di rumah, mencegah segala bentuk penularan, menghentikan segala laju penularan.

Untuk memperpanjang feature ini, dan sekadar menambah wawasan pembaca tentang topik ini, izinkan saya untuk meggambarkan situasi yang terjadi di daerah tempat dimana saya tinggal. Desa kecil yang sampai saat ini belum terindikasi virus Covid-19 (semoga tidak, semoga). Sedikit banyak dari kami masih melakukan kegiatan seperti biasa, berangkat ke sawah, ladang, pasar, kantor Kepala Desa, kebun, dan lain-lain. Itu semua bukan berarti mengabaikan imbauan yang diberikan Pemerintah. Melainkan mereka adalah pekerja lapangan, yang jika hari itu tidak bekerja maka hari itu juga tidak akan mendapatkan uang, dan otomatis tak bisa makan.

Kondisi sosial yang seharusnya sudah tak asing lagi bagi kita. Bukan sewaktu pandemic ini terjadi saja kita melihat ini, pada hari-hari biasa pun banyak dan sering melihat kondisi sosial yang begitu timpang. Inilah problematika yang tak lelah untuk kita desak ke Pemerintah guna menyamaratakan atau minimal bisa sedikit menyejahterakan masyarakat yang masih di bawah perekonomiannya.

 

Desa Sempu

Kembali ke situasi. Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, adalah daerah yang tengah saya tinggali saat ini. Sebuah desa yang tak terlalu jauh letaknya dari kota. Desa yang penduduknya juga bisa dibilang lumayan padat. Juga desa yang sama sekali tidak menyumbangkan ODP (Orang Dalam Pantauan) seorang pun ke tenaga medis. Luar biasa, karena yaa, memang mobilitas kami di desa belum terlalu tinggi. Mungkin inilah sebab kenapa desa kami masih aman dan terhindar dari virus Covid-19.

Simak juga:  PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

Terlepas dari itu, kami pun turut mengindahkan imbauan yang diberikan Pemerintah, walau tak sedikit pula masyarakat yang nekat pergi ke luar rumah. Namun, kiranya banyak juga masyarakat yang lebih nyaman mematuhi imbauan dibandingkan dengan yang mengabaikannya. Sempat juga beberapa hari lalu diadakan pemyemprotan cairan desinfektan yang diharapkan mampu menangkal terjangkitnya virus ini. Upaya demi upaya terus dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang. Sembari menunggu upaya serta solusi mengurangi dampak penularan, kami di Desa Sembu cukup berdiam diri di rumah.          Sungguh situasi yang menyenangkan bukan? Terbukti di desa kami tidak ada seorang pun yang tercatat ODP apalagi suspect, kami jauh dari kata itu. Kami juga berharap, apa yang dilakukan di sini juga dapat ditiru oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, agar  juga bisa ikut membantu menekan angka penularan yang terus melonjak.   

Harapan demi harapan terus digantungkan kepada semesta, yang sebenarnya isi dari harapannya itu cuma satu, yaitu agar semua ini bisa kembali seperti semula, dan kembali pulih. Bukan hanya pulih secara fisik dan keadaan lingkungan, tapi juga secara ekonomi. O iya, akibat adanya pandemic ini, nilai tukar rupiah menjadi sangat tinggi, hampir  Rp.17.000/USD. Maka dari itu dampak virus ini bukan hanya pada  sektor kesehatan (medis), melainkan sudah meranjak hingga ke sektor perekonomian. Masyarakat kelas menengah ke bawah makin kelimpungan dibuatnya.

Cepatlah pulih. Cepatlah kembali normal. Sebentar lagi umat Muslim menyambut bulan suci yang sangat ditunggu. Harga segala bahan pokok diharapkan bisa kembali seperti semula dan rupiah dapat kembali pada posisi yang normal. Seperti semula. 

Mari kita sama-sama berdoa dan berikhtiar, semoga semua ini dapat berlalu. Semoga semua ini bisa terlewati, dan semoga semuanya membuahkan hikmah yang dapat kita petik buah manisnya. Tetap jaga kesehatan, kebersihan dan ketertibannya. Ingat, dengan hanya diam di rumah, kita sudah banyak membantu Pemerintah, tenaga medis, dan orang di sekitar untuk mengurangi resiko penularan. *** ( Bunayya Fahmi Nurrosyad)

 

          * Bunayya Fahmi Nurrosyad, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Wong Jawa Ilang Jawane

KETIKA manusia pertama jatuh kedalam bujukan setan, penyebab utamanya , keinginan menyamai penciptanya. Buah di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *