Beranda » Humaniora » Gundah Gulana Corona
Pemeriksaan suhu panas seseorang kini ketat dilaksanakan di sejumlah tempat. (Foto: Antara)

Gundah Gulana Corona

SEPERTI tahun tahun sebelumnya, setiap pergantian tahun orang beramai-ramai merayakan. Membuat list harapan dan target di tahun mendatang. Tapi sayang, ada doa yang lupa dipanjatkan, tentang bumi dan makhluk di dalamnya. Entah karena kita terlalu egois sehingga hanya memikirkan diri sendiri atau terlalu optimis bahwa keadaan di luar diri ini akan baik-baik saja.

Tiba-tiba saja di awal tahun, dunia dikejutkan dengan berita yang pahit untuk ditelan. Ya, tepat tanggal 31 Desember 2019  Pemerintah China melaporkan kasus virus asing yang menimpa masyarakat China, dan virus ini sekarang dikenal sebagai Corona virus atau COVID-19. Satu persatu rencana yang telah dirancang itu tinggal wacana. Musibah datang tak terduga. Pemerintah China saat itu melapokan kasus tersebut kepada WHO. Dan pada tanggal 7 Januari 2020, China mengkonfirmasi bahwa mereka telah mengidentifikasi virus tersebut. Namun vaksin tak juga ditemukan. Hingga akhirnya korban pun berjatuhan. Kasus kematian pertama terjadi pada tanggal 11 Januari 2020.  Diduga kasus ini berawal dari pasar ikan di Wuhan, China.

Kasus ini menyebar keseluruh dunia. Diawali dengan Thailand, negara pertama yang mengkonfirmasi bahwa penduduk mereka terjangkit, menyebar ke Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, bahkan Indonesia. Indonesia terdeteksi dengan kasus pertama yaitu dua WNI positif corona pada tanggal 2 Maret 2020.

Corona  merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan manusia dan dapat menular dari spesies satu ke yang lain. Virus ini seperti virus lainnya dapat menyebar dalam air atau droplet yang keluar dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin. Satu kali batuk dapat menghasilkan 3.000 droplet yang mana partikel itu dapat mendarat pada orang lain atau pakaian dan tempat disekitar mereka. Virus ini akan bertahan selama sembilan jam. Dan dapat bertahan pada permukaan seperti kaca, besi, gagang pintu dan lainnya.

Karena virus yang menyerang pernapasan manusia maka gejala yang timbul tidak jauh berbeda seperti penyakit flu biasa. Sehingga sulit dibedakan antara gejala corona atau flu biasaMeskipun virus ini dapat menyebabkan kematian namun peluang untuk sembuh sangat besar. Tergantung imun tubuh masing-masing. Namun, para lansia dipandang yang rentan terinfeksi karena imun tubuh yang sudah berkurang.  

Simak juga:  Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

 

Aktivitas Banyak Dihentikan

Dengan kasus ini kematian terbayang-bayang dibenak setiap manusia. Seluruh aktivitas dihentikan, disarankan untuk rehat agar tetap sehat. Pemerintah masih bekerja keras, berharap agar kasus segera tuntas. Sekolah dan kampus dialihkan menjadi online, begitu juga dengan kerja dan rapat pejabat. Semua membatasi interaksi sosial. Demikian corona kedatangannya membuat gundah gulana. Banyak kasus harus tertunda, seperti  UN contohnya. Bukan hanya itu, wisuda, nikahan, bahkan pegelaran liga dunia juga harus ditunda.

Sesimpel itu, makhluk kecil tak kasat mata mampu menggagalkan segala rencana. Ia kecil tapi berpengaruh besar. Ia tak terlihat tapi sangat penting untuk ditanggapi. Masyarakat diharapkan agar selalu cermat, berdiam diri dirumah, bersama-sama menghambat penularan. Tapi apalah daya mereka yang tak bisa tetap di rumah. Pedagang  kaki lima tidak dapat tidur nyenyak, sibuk memikirkan bagaimana nasib esok hari, apa yang harus ditanak? Risau dengan uang sekolah anak.

 Karena penghasilan dari usaha sehari-hari, pergi pagi pulang petang demi mengais rezeki. Bahkan menurut mereka, bukan corona yang membuat mereka mati tetapi justru situasi. Dengan tidak adanya pemasukan perhari, tak tahu apa yang hendak dikonsumsi. Menurut mereka mati kelaparan lebih serius dari pada mati karena virus.

Indonesia negara berlandaskan gotong royong, nasib baik masih ada rasa kebersamaan. Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, begitu pepatah mengatakan. Mereka yang kaya raya membantu dengan menyisihkan hartanya, sedangkan mereka yang sederhana membantu di sepertiga malamnya. Dengan bersujud dan menengadah tangan kepada yang Maha Kuasa. Memohon ampun dan jalan keluar, mana tahu ini semua pertanda Tuhan telah murka.

Hingga saat ini di Indonesia lebih dari 70 korban meninggal dunia, dan ratusan positif corona. Entah sampai kapan akan berakhir. Tapi harapan kiita tentu secepatnya ancaman virus corona ini berakhir. Tempat-tempat umum semakin menunjukkan pentingnya kebersihan. Menambah pencuci tangan di setiap pintu masuk dan keluar. Masyarakat berebut masker dan disinfektan. Peduli dengan kebersihan.

Simak juga:  Menilik Dampak Virus Corona di Kampung Halaman

 

Ada Nilai Positif Juga

Selain dampak negatif yang dirasakan, ada hal positif yang secara tidak langsung dilakukan. Masyarakat menjadi tahu pentingnya menjaga kebersihan. Ya memang demikian, kita akan sadar jika sudah diberi pengalaman. Hidup bukan melulu soal pekerjaan, ada kesehatan yang perlu diutamakan. Hidup bukan sekedar untuk mencari makan tapi juga harus mempertimbangkan kebersihan dan kesehatan.

Begitu banyak yang resah, gundah, karena ini musibah. Kedatangannya tak pernah diundang. Kita hadapi saja, kita terjang. Kejadian ini akan menjadi sejarah baru dunia, peristiwa besar menjadi selingan selain pasar global. Manusia akan saling tolong-menolong, menggenggam erat untuk tidak terkubur karena virus.

Lalu apa yang bisa sama-sama kita lakukan yaitu dengan cara menyelamatkan diri kita tanpa merugikan orang lain. Aksi #dirumahaja mengajak untuk tetap mengisolasi diri di rumah agar tidak menyebar ke orang disekitar kita. Kita akhiri gundah gulana corona dengan sama-sama berkerja, membantu, dan menjaga. Ini bukan kasus kali pertama. Kita pernah menghadapi Mers dan Sars yang tidak jauh beda. Sama-sama bahaya. Meski tak semua jiwa bisa diselamatkan, tapi setidaknya meminimalisir kematian.

Hidup dan mati urusan Tuhan, jadi tak perlu dicemaskan. Yang perlu kita lakukan meningkatkan kewaspadaan. Mari sama-sama kita rangkul dan saling mengingatkan. Kita semua harus berpartisipasi, hilangkan egois, doakan semua makhluk di bumi agar kita semua bisa berkumpul lagi. Biarlah ini akan tetap abadi, untuk cerita yang akan kita kenang nanti.

Demikian gundah gulana corona, tahun 2020 yang tak akan pernah terlupa. Ia mengejutkan seluruh umat manusia. Untuk agenda yang tertunda, tak mengapa kita rancang kembali semua. Kita mulai hidup dengan perubahan yang baik.  Maka mulai saat ini ketika kita berdoa sisipkanlah doa untuk bumi dan isinya. Agar tak gundah lagi kita dengan yang akan tiba. Ini saatnya kita istirahat di rumah, berkumpul bersama keluarga.

 Bagaimana kabarmu? Semoga sehat-sehat saja, ya. *** (Alda Febrinela)

 

*Alda Febrinela adalah mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

KETIKA virus Corona atau kemudian dikenal dengan sebutan Covid-19 menerpa dan merebak di negeri ini, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *