Kamis , 22 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Gula Jawa, Penyambung Kehidupan di Wates, Matren, Pacitan
Gula Jawa produk Desa Matren, Pacitan. (Foto: Ist)

Gula Jawa, Penyambung Kehidupan di Wates, Matren, Pacitan

WATES, sebuah nama dusun yang terletak di Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Dusun ini masih menjadi bagian dari Desa Mantren. Selain Wates, dusun-dusun yang terdapat di Desa Mantren antara lain; Krajan, Juwono, Kebak, dan Klagen. Mungkin dusun-dusun ini kurang dibicarakan dan didengar oleh masyarakat oleh masyarakat Pacitan sendiri. Karena kawasannya  terletak di pelosok yang untuk menjangkaunya cukup lumayan jauh. Dari pusat kota jarak yang perlu ditempuh kurang lebih sekitar 30 km.

Untuk memasuki desanya harus melalui jalan tanjakan dank elokan yang tajam, jalannya pun sempit. Harus rela bergantian apabila berpapasan dengan kendaraan yang lain seperti, mobil truk angkutan barang dan yang lainnya. Jalan untuk menempuh desa ini memang sudah beraspal, namun sudah banyak jalan yang rusak dan berlubang akibat tergerus oleh air hujan.

Desa Mantren yang Dusun Wates ada di dalamnya memang kawasan pelosok jauh dari keramaian kota, namun dari desa inilah gula kelapa yang beredar di kota Pacitan berasal. Gula-gula ini malahan sudah beredar sampai di sekitar atau di luar kota Pacitan, seperti Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung serta kota lainnya di wilayah Jawa Timur.

Simak juga:  Derap Kebangsaan XXVI: Menjaga dan Merawat Perbedaan

Gula dari Desa Mantren ini juga terkenal dengan keasliannya. Jadi dalam proses pembuatannya belum ada campuran bahan-bahan lain seperti pemanis. Rasa manis dari gula kelapa ini benar-benar rasa manis asli dari sari bunga kelapa tersebut.

 

Nderes

Nderes  merupakan sebutan memanjat pohon kelapa yang tingginya sekitar lima meter lebih. Kegiatan nderes itu bertujuan untuk mengambil nira (sari bunga pohon kelapa). Bagi orang yang takut ketinggian atau pun orang yang belum pernah memanjat pohon kelapa tentunya akan sangat menegangkan. Namun karena masyarakat Desa Mantren, termasuk Dusun Wates ini sudah terbiasa, sehingga rasa takut pun hilang dengan sendirinya.

Biasanya pengambilan sari bunga pohon kelapa itu dilakukan setiap hari, pagi dan sore hari. Dilakukan demikian supaya hasil dari sari tersebut tetap bisa diolah dan hasilnya juga bagus. Karena bila sari bunga pohon kelapa itu pagi hari diambil dan sore harinya tidak atau pun bisa sebaliknya, maka sari yang dihasilkan kualitasnya menjadi jelek dan jika dimasak  akan menjadi lengket, rasanya bukan lagi manis tetapi asam.

Simak juga:  Kejarlah Karta Kau KuPenjara

Para pembuat gula di Dusun Wates dan dusun-dusun lainnya di Desa Mantren ini sebenarnya tahu bahwa harga gula yang mereka jual itu tidaklah sebanding dengan prosesnya. Proses yang dilakukan begitu memakan waktu dan bahan bakar yang sangat banyak. Selain itu mereka harus sabar dan tekun dalam melakukannya. Kendati demikian mereka tak sekalipun menyerah dan berhenti membuat gula kelapa. Karena menyadap nira (bunga pohon kelapa) hingga mengolahnya menjadi gula masih menjadi penyambung kehidupan yang belum tergantikan. Sehingga dari hasil penjualan gula tersebut kebutuhan hidup masyarakat di desa Mantren ini bisa tercukupi. ***  (Kibtatun Amalia Putri)

 

* Kibtatun Amalia Putri, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *