Minggu , 29 November 2020
Beranda » Humaniora » Gelar Akademik Bisa Dicabut Bila Terbukti Lakukan Plagiarisme
Ketika Webinar Penguatan Penelitian dan Publikasi Ilmiah bagi Mahasiswa Magister berlangsung. (Ist)

Gelar Akademik Bisa Dicabut Bila Terbukti Lakukan Plagiarisme

Prof. DR. H Faisal Ismail, MA. (Ist)
DI DUNIA akademik, tindak plagiat atau plagiarisme merupakan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Perbuatan tersebut diharamkan. Bahkan di dunia akademik, gelar akademik seseorang bisa dicabut atau dibatalkan bila terbukti gelar akademik itu diraih dengan melakukan tindak plagiarisme.
Seperti dikemukakan Prof. Dr H Faisal Ismail MA, guru besar UII Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sesuai etika akademik yang berlaku di dunia perguruan tinggi, segala bentuk tindak plagiat atau plagiarisme merupakan perbuatan tidak jujur, tidak fair. Juga merupakan perbuatan sangat tercela atau tidak terpuji yang harus dijauhi dan dihindari oleh siapa pun, kapan pun, serta di mana pun.

Kepada peserta webinar tentang Penguatan Penelitian dan Publikasi Ilmiah bagi Mahasiswa Magister yang diselenggarakan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin 9 November 2020, Prof. Faisal Ismail mengingatkan jika tindak plagiat atau plagiarisme itu diketahui dan dapat dibuktikan, sebuah hasil penelitian atau tesis yang ditulis oleh mahasiswa bersangkutan dapat ditolak dan dibatalkan. Bahkan jika gelar akademik sudah ‘terlanjur’ diberikan oleh fakultas atau universitas yang bersangkutan, gelar akademik itu bisa dicabut dan dibatalkan.
“Nah, sudah pasti hal ini sangat perlu disadari oleh setiap mahasiswa khususnya dan kalangan akademisi pada umumnya agar tidak terlibat ke dalam tindak plagiat atau plagiarisme,” kata Prof. Faisal Ismail.

Simak juga:  Sehat di Usia Tua, Tergantung Makanan di Usia Muda

Harus Baru dan Aktual

Sebelumnya di webinar itu, Prof. Faisal Ismail yang juga mantan Dubes RI untuk Kuwait dan Bahrain tersebut menekankan topik, judul atau tema penelitian yang ditulis oleh mahasiswa dalam proposal penelitiannya dan kemudian diajukan ke Ketua Jurusan dan timnya harus bersifat baru serta aktual.
Menurutnya, bersifat baru dalam arti berbeda atau tidak sama dengan hasil-hasil penelitian terdahulu yang telah dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa sebelumnya.
“Ini berarti bahwa proposal penelitian yang diajukan oleh mahasiswa itu tidak bersifat copy paste atau sekadar mengulang-ulang penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa sebelumnya. Hal ini untuk menghindari duplikasi yang mengarah kepada tindak plagiat,” tegasnya.

Dikemukakan Prof. Faisal Ismail, untuk meyakinkan Ketua Jurusan dan Tim Preview bahwa topik, judul atau tema penelitian yang diajukan oleh mahasiswa dalam proposal penelitiannya itu bersifat baru, mahasiswa sudah diberikan cara untuk melakukan studi atau telaah terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya.
Dengan melakukan telaah secara fair, benar dan akurat, lanjutnya, mahasiswa tersebut sesuai dengan tata cara dan prosedur akademik dipersilahkan untuk mengajukan topik, judul atau tema penelitian baru yang berbeda dengan penelitian mahasiswa-mahasiswa sebelumnya. Jika sudah dipastikan tidak ada masalah lagi, tentu Ketua Jurusan dan Tim Preview menerima dan menyetujui proposal penelitian yang diajukan mahasiswa tersebut.

Simak juga:  Duta Bahasa Yogyakarta Terpilih sebagai Duta Bahasa Nasional 2017

 

Kapasitas Kepandaian

Keberhasilan penelitian yang dilakukan seorang mahasiswa atau peneliti, menurut Prof. Faisal Ismail, pada akhirnya terpulang dan sangat ditentukan oleh kapasitas kepandaian, kecakapan dan keterampilan mahasiswa atau peneliti bersangkutan dalam melakukan aktivitas penelitian yang menjadi minat, bidang studi dan disiplin keilmuannya.
Proposal penelitian, katanya, memang harus ditulis dan dirancang bangun dengan tepat, akurat, baik dan benar sesuai tata cara dan prosedur penelitian yang berlaku di perguruan tinggi.

“Seusai dengan tugas dan fungsinya, dosen metode penelitian memang sudah sepatutnya mengajar, memberi wawasan, memberi bimbingan dan arahan serta melatih para mahasiswanya untuk memedomani dan melakukan penelitian dengan segala metode, tata cara dan prosedur penelitian yang sudah dibakukan,” tandas Prof. Faisal Ismail. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *