Jumat , 10 Juli 2020
Beranda » Event » Gangguan Jiwa Bukan Berarti “Gila”
Kegiatan Workshop Stop Pasung. (Foto: Ist)

Gangguan Jiwa Bukan Berarti “Gila”

ORANG awam seringkali beranggapan gangguan jiwa selalu sama dengan “gila”, yang dalam bahasa medis disebut dengan gangguan psikotik atau skizofrenia. Padahal gangguan jiwa psikotik atau skizofrenia hanya ada 0,27 persen jumlahnya di masyarakat. Selebihnya, 8,3 persen justru gangguan jiwa yang lainnya.

Pernyataan menarik seputar gangguan jiwa ini dikemukakan DR dr Warih Andan Puspitosari, M.Sc,SpKJ (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam Workshop Stop Pasung yang diselenggarakan Dinas Sosial Kota Yogyakarta, Kamis (6 Februari) di Gedung TP PKK, Komplek Balaikota Yogyakarta.

Jadi, menurut DR Warih Andan Puspitosari, gangguan jiwa bukan berarti selalu yang disebut “gila” atau secara medis disebut skizofrenia itu. Karena sesungguhnya, gangguan jiwa yang selain psikotik/skizofrenia justru 30 kali lebih banyak di masyarakat. Hanya sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum mengenalinya.

Meski jumlahnya relatif kecil bila dibandingkan dengan gangguan jiwa yang lain, namun menurut DR Warih Andan, gangguan jiwa psikotik/skizofrenia yang dipandang sebagai gangguan jiwa berat itu selalu diutamakan penanganannya.

Pengutamaan terhadap gangguan jiwa psikotik/skizofrenia dikarenakan dampaknya yang berat, biaya kesehatannya tinggi, risiko penelantaran tinggi, dan risiko pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) juga tinggi. Pasung atau perbuatan memasung penderita gangguan jiwa skizofrenia itu merupakan tindakan yang melanggar HAM.

Simak juga:  Kethoprak, Upaya Memahami Jawa

 

Gangguan Persepsi

Siapakah sebenarnya yang bisa disebut sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa berat atau psikotik/skizofrenia itu? Di depan peserta workshop, DR Warih Andan Puspitosari menjelaskan, penderita gangguan jiwa berat tersebut sudah menderita kronis atau menahun lama. Kemudian mengalami gejala-gejala psikotik, insight atau kesadaran sakitnya sangat buruk, serta mendapat stigma atau penilaian  negatif dari diri sendiri dan lingkungan. Dan, apa yang dialami atau diderita itu mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan.

DR Warih menguraikan, orang yang menderita gangguan jiwa berat atau Orang Dengan Skizofrenia (ODS) itu mengalami ketidakmampuan menilai realitas, pembicaraan yang kacau, mengalami gangguan persepsi atau halusinasi serta gangguan isi pikiran (waham/delusi). Selain itu mengalami penurunan fungsi peran, dan perilaku yang kadang kacau.

Masyarakat, kata pakar gangguan jiwa dari UMY ini, juga masih suka memberikan stigma yang tidak menyenangkan kepada penderita skizofrenia tersebut. Mengapa mereka mendapat stigma? Stigma itu muncul karena penampilan penderita ODS yang kurang bersih, perilaku yang aneh dan tidak biasa, selalu berhalusinasi, serta memiliki risiko menciderai diri sendiri maupun orang lain.

 

Penyebab Gangguan Jiwa

Apa penyebab seseorang bisa menderita gangguan jiwa? Menurut DR Warih Andan Puspitosari, penyebab gangguan jiwa itu sangat multifaktor. Artinya, berbagai faktor saling mempengaruhi. Ada tiga faktor yang saling mempengaruhi, yaitu faktor biologi, faktor psikologi dan faktor sosial.

Simak juga:  Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa : Persatuan, Kebangsaan dan Integrasi Nasional

Faktor biologi misalnya dikarenakan perubahan zat kimia di otak, trauma, infeksi otak, dan lainnya. Kemudian faktor psikologi, di antaranya kepribadian, cara penyelesaian masalah, dan lainnya. Sedang faktor sosial dikarenakan masalah psikososial, konflik, dan lainnya juga.

Dikemukakan, gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan (medis) yang sama dengan penyakit-penyakit lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada alat tubuh yang mengalami gangguan, yang berbeda-beda di antara masing-masing penyakit.

Pada gangguan jiwa, alat tubuh yang mengalami gangguan adalah otak. Padahal otak itu yang mengatur pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Terjadi ketidakseimbangan zat kimia dalam otak sehingga membuat fungsi otak untuk berpikir, berperasaan, bertingkah laku menjadi terganggu. Akibat kondisi itu maka pikiran, perasaan dan tingkah laku penderita gangguan jiwa menjadi tidak normal atau tidak wajar seperti ketika dalam kondisi sehat.

Oleh karena itu, seperti  dikatakan DR Warih Andan Puspitosari, orang yang mengalami gangguan jiwa memerlukan penanganan medis untuk memperbaiki ketidaknormalan fungsi dalam otaknya agar bisa normal kembali. Sehingga pikiran, perasaan dan tingkah lakunya menjadi normal seperti semula. Disamping itu, orang yang menderita gangguan jiwa perlu untuk dikenali dan dibawa ke petugas kesehatan. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Pekerjaan Sosial Bukan Mengambil Alih Masalah

PEKERJAAN sosial merupakan suatu cara untuk menolong seseorang, kelompok, atau pun masyarakat dengan memberikan bantuan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *