Selasa , 14 Juli 2020
Beranda » Humaniora » FEATURE, dari Fakta, Kepekaan hingga Imajinasi
Kapal dan perahu-perahu si dermaga, obyek yang selalu menarik untuk penulisan feature. (Foto: SEA)

FEATURE, dari Fakta, Kepekaan hingga Imajinasi

KEBANYAKAN wartawan berlomba memburu peristiwa untuk dijadikan berita. Tetapi, ketika peristiwa itu diperoleh, kemudian disajikan dalam bentuk berita ke khalayak pembaca, hampir tidak ada yang berbeda di antara mereka.

Demikian pula halnya ketika ada lima wartawan dari media pers yang berbeda bersama-sama meliput peristiwa peresmian jembatan yang baru selesai dibangun, maka sudah dapat diduga mereka akan menyajikan berita dalam pola yang sama. Ketika berita tentang peresmian jembatan itu dimuat di media pers mereka masing-masing, maka yang ditemukan pembaca adalah sajian dan informasi yang sama.

Bila kita termasuk salah seorang di antara kelima wartawan tersebut, kenapa tidak menyempal dari pola ‘sajian bersama’ seperti itu? Kenapa tidak kita buang saja sikap konvensional tersebut? Kenapa kita tidak mencari alternatif pilihan lain? Kenapa tidak kita cari potret yang berbeda? Kenapa tidak memilih feature atau berita kisah?

Dalam ‘bisnis koran’, perbedaan pada sajian bisa dijadikan alat untuk bersaing. Dan feature bisa menjadi senjata paling handal serta jitu untuk unggul dalam ‘pertempuran’ merebut pasar.

Sayangnya hanya sedikit wartawan atau jurnalis yang tertarik dalam dunia penulisan feature. Persoalannya sederhana saja. Karena menulis feature atau berita kisah jauh lebih ‘rumit’ dibanding menulis berita straight news yang lugas, singkat dan apa adanya.

Membuat berita langsung atau straight news itu memang mudah. Jika kita menguasai sistem penulisan piramida terbalik dan rumus 5 W – 1 H, serta memiliki sedikit kemampuan merangkai kalimat, maka kita pun bisa menjadi ‘tukang’ pembuat berita.

Sementara untuk membuat feature, tidak cukup hanya sekadar itu. Tidak cukup hanya berbekal rumus 5 W – 1 H saja. Feature memerlukan kepekaan, kecermatan dan kemampuan penulisnya dalam memainkan imajinasi yang berangkat dari fakta-fakta nyata.

 

Karangan Khas

Apa sih feature?

Batasan arti atau definisi dari feature sangat luas dan beragam. Para ahli komunikasi mempunyai pengertian-pengertian tersendiri, walau pada dasarnya sama menuju ke arah satu pemahaman. Bila di-Indonesia-kan, maka feature dapat diartikan sebagai berita kisah atau karangan khas.

Kenapa disebut berita kisah? Jawabnya sederhana saja, karena bentuk tulisan ini lebih banyak menekankan pada unsur ‘kisah’ dari suatu obyek penulisan. Dan disebut karangan khas, karena feature memiliki sifat khusus, yakni memberikan hiburan si samping informasi.

Simak juga:  Kesan Indah Negeri Jiran, Malaysia

Fungsi surat kabar atau media pers lainnya sudah jelas. Selain memberikan informasi, menyampaikan kontrol sosial, juga mendidik dan menghibur.

Menghibur bukan dalam arti menyajikan tulisan-tulisan atau informasi-informasi mengenai jenis hiburan yang disenangi masyarakat. Akan tetapi, menghibur dalam pengertian menarik perhatian pembaca dengan menyuguhkan hal-hal yang ringan di antara sekian informasi berita yang ‘berat’ dan serius.

Pembaca memerlukan ‘menu selingan’ lainnya. Menu selinagan itu adalah feature. Karena feature selain menyuguhkan informasi serius, juga memberikan waktu kepada pembaca untuk tertawa, tersenyum, atau mungkin pula terharu. Di samping tidak menutup kemungkinan pula dapat membuka pemikiran-pemikiran atau wawasan baru yang tentunya sangat bermanfaat bagi pembacanya.

Feature merupakan tulisan yang mampu menjangkau beragam warna kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Rasanya bagai tidak ada satu pun warna kehidupan yang tak dapat dijangkau penulisan feature.

Obyek penulisan feature tersebar luas. Sejak dari gedung-gedung kondominium sampai ke perkampungan penduduk yang paling kumuh. Dari kehidupan mewah seorang konglomerat sampai ke derita seorang gelandangan yang kelaparan.

Akan tetapi, secara garis besarnya feature terbagi dalam berbagai jenis. Antara lain human interest feature, feature kisah kehidupan seseorang (biografi), feature sejarah, feature perjalanan, feature ilmu pengetahuan, feature mengenai duka cita dan bencana, serta feature perjuangan kehidupan.

 

Bagaimana Menulisnya

Walau disebut sebagai ‘menu selingan’, membuat atau menulis feature tidak ada semudah dan seringan kesan atau arti dari feature itu sendiri.

Hal utama yang harus di perhatikan seseorang manakala ia akan memulai menulis feature, apakah ia benar-benar memiliki kepekaan berpikir yang dalam terhadap apa yang akan ditulisnya.

Apabila rasa kepekaan yang dalam terhadap obyek penulisan itu tidak dimiliki, sudah sepantasnya niat untuk menulis feature tersebut dibatalkan saja. Karena sudah dapat dipastikan si penulis akan mengalami kerepotan dalam memaparkan apa yang ingin dipaparkan dalam tulisan tersebut.

Simak juga:  Gotong-royong Melawan Berita Bohong

Selain memiliki kepekaan yang dalam dan tajam terhadap apa yang ada serta terjadi di sekelilingnya, penulis feature juga dituntut untuk memiliki pengalaman kehidupan luas. Sehingga dengan kepekaan pikiran dan kekayaan pengalaman, ditopang kemampuan dalam menulis, si penulis akan dapat mengembangkan daya imajinasinya untuk membawa pembaca benar-benar terlibat dan masuk ke dalam tulisannya.

Berbeda dengan berita biasa atau straight news, feature tidak terikat dengan aktualitas. Peristiwa-peristiwa yang terjadi berpuluh-puluh tahun lampau, masih dapat dijadikan obyek penulisan feature yang menarik.

Feature memiliki gaya atau cara penulisan dengan struktur bebas. Feature tidak terpaut pada gaya atau sistem ‘piramida terbalik’, yang bagian menarik atau menonjol diletakkan pada bagian atas atau teras berita. Tetapi feature lebih banyak (selalu) menggunakan sistem ‘piramida tegak’. Dalam ‘piramida tegak’ ini, bagian yang paling menonjol dan dramatis bisa diletakkan pada bagian akhir tulisan.

Di dalam penulisan berita ada tiga bagian utama yang harus diperhatikan, yakni pembukaan (lead), tubuh (detail) dan penutup. Demikian pula halnya di dalam penulisan feature. Hanya perbedaannya, pada feature – pembukaannya merupakan bagian tulisan yang menarik perhatian pembaca. Sedang tubuh tulisan berisikan detail peristiwa dan klimaksnya terletak pada bagian akhir.

Feature akan terasa dekat dengan pembaca, apabila pengungkapan ‘suasana’nya dilakukan dengan mengetengahkan dialog atau percakapan-percakapan. Gaya penulisan yang narasi (berbicara) juga amat mendukung menariknya suatu feature. Bahkan cara penulisan feature dapat dilakukan juga dengan mencontoh gaya penulisan cerpen.

Biasanya banyak pembaca yang senang terhadap gaya penulisan feature yang menyerupai cerita pendek. Perbedaannya tentu saja jika cerpen mengetengahkan fiksi, sedangkan feature menyajikan fakta dan kenyataan atau non-fiksi.

Hal lain yang tidak bisa diabaikan, seorang penulis haruslah memiliki daya imajinasi yang kuat. Tanpa memiliki daya imajinasi yang tinggi, penulis feature tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan featurenya.

Perlu juga diingat, feature yang berhasil adalah feature yang dapat memberikan sentuhan emosi kepada pembacanya. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

Tulisan ini telah dimuat di cahayakatablog.wordpress.com (19/3/2020)

Lihat Juga

Wartawan Mulai Bersaing dengan Robot

DI era 4.0 sekarang ini dalam dunia komunikasi, manusia tidak hanya berhubungan dengan sesama manusia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *