Minggu , 9 Agustus 2020
Beranda » Humaniora » Elon Musk, Miliarder ‘Gila’ Impiannya Menembus Langit
Elon Musk. (Foto: net)

Elon Musk, Miliarder ‘Gila’ Impiannya Menembus Langit

WAKTU kecil, Elon Musk adalah seorang anak yang sangat fokus. Bahkan kelewatan fokus. Dan dia suka membaca. Ketika berusia 10 tahun, dia telah membaca hampir semua buku di toko buku dekat rumahnya.

Saking seringnya tenggelam dalam dunianya sendiri, dia sering tidak dapat mendengar orang lain berbicara dengannya. Akibatnya, kedua orang tuanya maupun dokter mengira dia memiliki masalah pendengaran. Sehingga, dia diminta menjalani operasi untuk menghilangkan amandel. Demi meningkatkan pendengarannya.

Elon Musk hidup dalam kegelapan di masa kecilnya. Ayahnya berperilaku sangat jelek terhadapnya. Namun, tidak banyak detail publik dalam hal ini. Tetapi dari usaha Elon Musk untuk berusaha memutuskan hubungan dengan ayahnya, dan sangat ingin melarikan diri, dari Afrika Selatan datang ke Amerika Serikat. Bisa diketahui betapa masa kecilnya tidak bahagia dan jarang kasih sayang.

Ketika masih kecil, badannya sangat pendek. Sehingga sering di-bully sama teman-temannya. Bahkan, pernah dilempar dari tangga. Akibatnya dia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu.

Perjalanan hidupnya sangatlah sulit. Baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Mungkin membaca adalah cara terbaik baginya untuk melarikan diri dari kenyataan.

Dengan nama panjang Elon Reeve Musk, ia lahir pada tanggal 28 Juni 1971, di Pretoria, Afrika Selatan. Dia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Ayahnya berkebangsaan Inggris kelahiran Afrika Selatan yang dikenal sebagai seorang insinyur bernama Errol Musk. Ibunya adalah ahli dalam soal diet asal Kanada-Inggris bernama Maye Musk.

Elon Musk menghabiskan masa kecilnya di Afrika Selatan dan pada usia 9 tahun, ia mendapatkan hadiah komputer pribadi pertamanya, Commodore VIC-20. Semenjak itu, Elon Musk langsung tertarik pada pemrograman dan mulai mempelajarinya sendiri. Pada usia 12 tahun, ia mendapatkan uang sebesar US$500 (Rp7 juta) dengan menjual game komputer Blastar (penembak mirip Space Invaders), yang ia ciptakan sendiri.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Pemuda, Jangan Layu Sebelum Bersemi

Pada tahun 1989, Elon Musk pindah ke Kanada ke kerabat ibunya. Setelah memperoleh kewarganegaraan Kanada, Elon Musk pergi ke Montreal. Pada awalnya, ia bekerja di pekerjaan bergaji rendah dan hampir setahun terhuyung-huyung di ambang kemiskinan.

 

Pindah ke Amerika Serikat

Elon Musk telah belajar di Ontario selama dua tahun dan akhirnya, mimpinya menjadi kenyataan, pada tahun 1992, ia pindah ke Amerika Serikat. Dia mampu pindah ke Amerika Serikat setelah menerima beasiswa dari The University of Pennsylvania.

Ketika Elon Musk beranjak remaja, ia mulai aktif menyerap literatur filosofis dan keagamaan. Namun pelajaran yang paling berharga, ia akhirnya pelajari dari buku Douglas Adams ‘The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy.

Elon Musk menemukan bahwa manusia harus memperluas batas kesadarannya untuk belajar mengajukan pertanyaan yang tepat, dan dia telah menemukan pertanyaannya: hal-hal apa yang akan berdampak besar pada masa depan nasib manusia?

Elon Musk berpendapat bahwa ada hal yang berdampak besar dalam masa depan manusia, diantaranya adalah internet, transisi ke sumber energi terbarukan, dan kolonisasi ruang. Dia ingin mencoba berkontribusi dalam ketiganya.

Pada waktu remaja, setelah dua hari berada di fakultas Universitas Stanford, ia memutuskan keluar. Hal tersebut ia lakukan untuk mencoba peruntungan dengan ide yang dimilikinya, yaitu mendirikan perusahannya sendiri yang bernama Paypal. Namun, pada akhirnya ia ditendang dari perusahaan yang ia rintis dari nol itu.

Simak juga:  Abad Samudera dalam Angan-angan

Pada saat itulah ia memulai membaca buku untuk belajar cara membangun roket. Dia menyadari bahwa membeli sebuah roket itu terlalu mahal. Jadi, dia memutuskan untuk memulai SpaceX perusahaan untuk membangun roketnya sendiri dengan uangnya sendiri. Sementara itu, ia juga ikut mengembangkan sebuah perusahaan mobil listrik bernama Tesla.

Namun, sayangnya peluncuran tiga roket pertamanya gagal dan meledak hingga menyebabkan kedua perusahaannya SpaceX dan Tesla kehabisan uang. Akan tetapi, pengalaman pahit tersebut tidak menghentikannya, dan pada saat peluncuran roket keempat-lah akhirnya berhasil.

Kini Elon Musk adalah seorang CEO dan CTO SpaceX, kepala arsitek produk Tesla Motors, ketua Solar City, dan salah satu pendiri PayPal. Elon Musk juga terlibat dalam pengembangan sistem transportasi berkecepatan tinggi yang dikenal sebagai Hyperloop. Elon Musk berinvestasi dalam proyek-proyek yang dapat mengubah dunia.

Tidak hanya seorang pengusaha, tetapi dia juga seorang penemu, inovator, dan insinyur. Elon Musk secara pribadi berpartisipasi dalam merancang mobil listrik dan pesawat ruang angkasa.

Elon Musk adalah pengusaha kedua di Silicon Valley (yang pertama adalah James H. Clark) yang berhasil menciptakan tiga perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$1 miliar (setara Rp14 triliun) untuk PayPal, SpaceX, dan Tesla Motors.

Elon Musk mendedikasikan dirinya untuk ruang dan teknologi energi alternatif. Ia bermain dengan beberapa aturan yang berbeda dan melakukannya dengan cukup sukses. Mimpinya yang terbesar saat ini adalah untuk mengirim manusia ke planet Mars dan menjadikan planet Mars bisa ditinggali oleh satu juta manusia. *** (Taufik Rahman)

 

* Taufik Rahman, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *