Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Di Balik Peringatan “Hadeging Karaton”
Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta keluarga dalam acara Sapa Aruh Sewindu UUK DIY. (Foto: Ist)

Di Balik Peringatan “Hadeging Karaton”

SETIAP TAHUN  Kota  Yogyakarta  senantiasa memperingati ulang tahunnya. Lantunan doa dan harapan biasanya terdengar menggema dari dalam Kraton Yogyakarta. Doa dan harapan ini senantiasa berkembang semenjak pendiri Kraton Yogyakarta yakni Pangeran Mangkubumi masih muda. Oleh karena itulah dalam rangkaian peringatan ‘Hadeging Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat’ perlu diaktualisasi kembali semangat yang mengemuka.

Dinaungi Pohon Pamrih (Preh) di pinggir Sungai Bengawan Solo, Pangeran Mangkubumi mengasah ketajaman pikir, kepiawaian otak, dan kekuatan raga untuk berharap dalam doa agar bumi Jawa dan orang Nusantara terbebas dari penjajahan. Menggunakan wahana Kiai Blumbang, cincin bermata berlian sebagai tanda ikatan batinnya dengan Yang Diatas, Pangeran merumuskan pembebasan diri manusia dari jerat duniawi.

Semua itu diwujudkan dalam seni tata kota, maupun dalam pemerintahan, atau pun dalam wujud tata busana dan kesenian serta kebudayaan.

Di dalam menata kraton dengan tata kotanya, Pangeran Muda itu tidak meninggalkan keselarasan dengan alam, lingkungan, manusia, maupun juga keselarasan dengan Maha Penciptanya.

Ini bisa dimaklumi bila kita mau meneliti mengapa dari Kraton hingga Tugu ada Alun-alun Utara, Dlanggung Pangurakan, Malioboro, Margatama, Margamulya. Kemudian di situ ada pasar Beringharjo, Bangunan Kepatihan, hingga Tugu Putih.

Di sepanjang jalan itu pada awalnya tumbuh pohon asem dan gayam sebagai manifestasi ketentraman dan dan ketenangan. Artinya bahwa manusia yang senantiasa menginginkan ketenteraman dan ketenangan harus bisa membaca simbol yang diterakan oleh pendahulunya, terutama pendiri Kraton ini yang membebaskan diri dari nafsu duniawi. Sayang jalan dan simbol-simbol yang menyertainya tidak lagi bisa dimengerti oleh mereka-mereka yang mengendalikan kekuasaan di wilayah ini. Sehingga filosofi dasar dari tata kota ini sudah berubah dari nuansa spiritualitas yang khas ketimuran, menjadi nuansa materalitas khas Barat. Akibatnya lagi keduniawian semakin merajai pembangunan di kawasan ini.

Simak juga:  SDN Lempuyangan 1 Panen Piala dalam Kejuaraan MB Piala Raja VIII

Nama-nama tempat seperti Gandalayu, Pingit, menyimpan misteri kehidupan yang pantas direnungkan kembali apabila manusia memang mau membebaskan diri dari jeratan tawaran duniawi.

Dari tata pemerintahan di Kraton sendiri Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I menggariskan aturan yang sangat demokratis. Dari busana antara abdi dalem yang nota bene bukan pembantu, tetapi terlebih aparat kraton dari ‘jajar’ kepangkatan paling rendah hingga perwira disamakan dengan busana pranakan kalau di dalam kraton. Demikian pula soal bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa Bagongan. Bahasa Bagongan ini merupakan bahasa yang demokratis, tidak menunjukkan adanya jabatan yang lebih tinggi dan rendah, semua dianggap sama martabatnya.

Dalam soal tari Sultan Hamengku Buwono lebih lagi mengguratkan nasehat yang sangat dalam maknanya di dalam kehidupan. Tarian keperwiraan yang bersemangat, greget, nyawiji, sengguh, ora mingkuh  menjadi pedomannya.

Artinya bahwa jika hendak membangun diri (kraton dalam arti mikro), manusia harus mempunyai ‘greget‘, sebuah semangat yang dilambari dengan tujuan menuju kemerdekaan sejati. Tekad itu harus dibarengi dengan semangat ‘nyawiji’ bersatu dengan lingkungan, sesama, maupun dengan Tuhannya. Semangat menyatu dengan alam ini memberikan dampak pada kehidupan bahwa akhirnya ‘suket godhong jadi rowang’. Kemudian disertai dengan semangat yang mengedepankan jati diri dengan kata ‘sengguh’. Kepercayaan diri yang kuat membawa kekuatan yang membuat manusia kadang luar biasa. “Janma tan kena kinira”. Kemudian dilandasi pula oleh semangat ‘ora mingkuh’ artinya semangat untuk bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang dikerjakannya.

Simak juga:  Min Haitsu Yogya La Yahtasib

Kriteria yang dikedepankan oleh pendiri kraton Kasultanan Yogyakarta bukan didasarkan pada kepentingan materi semata, tetapi justru demi kemerdekaan sejati manusia.

Aspek demokrasi sungguh menonjol di dalam pewarisan semangat kraton Kasultanan Yogyakarta ini. Seperti misalnya kalau ada orang protes rakyat kecil yang berbusana putih-putih di tengah ringin kurung dengan jalan ‘pepe’, raja pasti memperhatikan. Hal ini membuktikan bahwa raja pun mengakui bisa salah dalam menata masyarakatnya. Oleh karena itulah sebenarnya di sini kita diajak kembali merenungkan makna kemerdekaan sejati yang harus dibangun selaras dengan nafas peringatan ‘Adeging Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat’ yang diperingati dengan lantunan doa dan pengharapan. Untuk bisa bebas dari berbagai jeratan duniawi dalam pengembaraan manusia di dunia ini.

Membangun diri sendiri akhirnya tidak lepas dari membangun dunia sekelilingnya yang kemudian berdampak pada pembangunan masyarakat. Semangat ini kemudian menggema menjadi semangat yang lebih besar lagi “Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi, dan hamemayu hayuning bawono.”  Semua itu harus diwujudkan dalam semangat nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Artinya semangat bersatu jiwa raga, bersatu padu, golong gilig, menyatu  baik diri dengan lingkungan, alam, masyarakat maupun Allahnya, untuk bersemangat, membangun dunia, dengan keyakinan diri yang tinggi serta mampu bertanggungjawab dengan baik.(Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Menyanyi, Indah dan Menyenangkan

DUNIA musik sudah saya kenal sejak kecil. Ya, mulai Sekolah Rakyat (sekarang SD) kelas 5 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *