Beranda » Humaniora » Dari Kelapa Parut Menuju Kairo Mesir
Ismail di Kairo. (Foto: Ist)

Dari Kelapa Parut Menuju Kairo Mesir

ADA kalimat yang benar-benar diyakini Ismail ketika ustadnya mengajar ngaji, “man jadda wajadda”. Kalimat tersebut tertulis dalam bahasa Arab dan tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak, banyak sekali film atau cerita yang menggambarkan hebatnya kekuatan kalimat tersebut. Begitu pula dengan Ismail yang sangat meyakininya, ia jadikan motto hidup dan semangat dalam perjuangannya menuntut ilmu.

Ismail yang sehari-harinya selalu dipanggil Mail itu merupakan salah satu santri sebuah Pondok Pesantren di pesisirJawa Barat. Daerah yang terkenal sebagai kawasan pesantren yang menyatu dengan masyarakat sekitar. Bertempat di sebuah desa dengan keadaan penduduk yang belum terjamah modernisasi, sesuai dengan kultur pesantren dalam mendidik santrinya, tradisional dan sederhana.

Terhitung tiga tahun Mail belajar di pesantren tersebut, sebelumnya ia belajar di pesantren tak jauh dari tempat tinggal orang tuanya, daerah Tegal Jawa Tengah. Sejak kecil, Mail dikenal rajin belajar ilmu agama, orang tua dan gurunya selalu senang melihatnya mengaji. Sampai ketika ia masuk ke jenjanjang sekolah menengah atas, kemudian memutuskan untuk pergi mesantren di daerah Jawa Barat. Tak banyak bekal yang ia bawa, ibunda yang kesehariannya hanya berjualan kelapa parut dan sayur mayur di pasar tidak pula memiliki biaya untuk bekal sang anak. Namun, hal itu tak menyurutkan niat Mail.

Hari-hari dilalui Mail di pesantren. Segala aktivitas madrasah, diniyah,dan lain-lainnya ia ikuti dengan baik. Tidak ada waktu luang baginya, jika ada ia akan memanfaatkannya untuk belajar atau hanya untuk mengistirahatkan diri. Di mata teman-temannya mail dikenal sebagai anak yang baik, disamping humoris dan sangat humble, tak heran ia memiliki banyak teman baik di sekolah maupun di pesantren.

 

Mengimpikan Sejak Lama

Hingga sampai di penghujung masa sekolah menengah atas, ia mulai mengalami kebingungan dalam meraih apa yang ia cita-citakan. Mayoritas teman-temannya berlomba mendaftarkan diri di perguruan tinggi favorit. Serupa dengan hal itu, Mail memiliki keberanian lebih dalam bermimpi. ketika yang lain hanya bermimpi ingin memasuki perguruan tinggi favorit dalam negeri, Mail bermimpi dapat berkuliah di Kairo Mesir.

Mimpinya berkuliah di negeri piramid ini sudah ada sejak lama, ia yakin akan ada jalan untuk mencapai itu semua selagi ia mau mendekati Tuhan sebagai pemilik semesta. Tak sedikit dari teman-temannya yang meremehkan mimpi Mail. Dengan keadaan ekonomi keluarga yang di bawah rata-rata finansial keluarga lain, kerap jadi alasan mereka meremehkan mimpi mail. Anggapan bahwa mimpi itu tidak akan pernah terjadi dan hanya akan menjadi omong kosong semata sering ia dengar dari rekan belajarnya. Namun ia tetap yakin dengan mimpinya, ia berdoa siang dan malam. Usahanya harus lebih keras dan juga doanya terhadap Tuhan harus lebih sering.

Simak juga:  Sultan Nuku, The Lord of Fortune

Jika cita-cita dan mimpi harus tercapai dengan uang, jelas saja mimpi Mail hanya sebatas mimpi. Namun, sistem kerja semesta berbeda, segala usaha akan dibayar setimpal. Mail sangat sadar bahwa biaya belajar di luar negeri terhitung mahal, untuk transportasinya saja terkesan sangat melangit. Namun ia tetap yakin bahwa akan ada banyak jalan menuju roma, termasuk banyak cara agar ia mampu belajar di Kairo tanpa harus memaksakan keadaan keluarga.

Selepas pengumuman kelulusan sekolahnya, angin segar menanggapi mimpi Mail. Adanya beasiswa kuliah ke luar negeri oleh Kemenag membuat Mail bersenanghati. Ia merasa Tuhan menjawab doanya selama ini. Akhirnya ia pulang ke kampung halamannya dengan tekad akan mengikuti seleksi beasiswa tersebut.

Adabnya dalam menuntut ilmu dan ta’dim terhadap guru sangat tinggi, sebelum berpamitan pulang ke kampung halaman karena memang masa belajar di pondoknya sudah selesai mail pergi meminta maaf kepada guru-gurunya. Ia juga meminta doa agar mimpinya dimudahkan sang Maha Kuasa.

Sesampainya di rumah ia sampaikan niat baiknya melanjutkan pendidikan di luar negeri kepada orang tuanya. Ibunya sangat senang Mail bercita-cita mulia, namun hatinya juga sangat sedih karena merasa tidak mampu membiayai keinginan anaknya.  Begitu pun dengan bapaknya, sang bapak dengan tegas melarang cita-cita mail, bapaknya berfikir bahwa keadaan keluarganya sangat sulit untuk mewujudkan mimpi itu.

Tidak jarang perdebatan terjadi ketika Mail berusaha menyakinkan orang tuanya. Bapaknya tetap ingin Mail di rumah saja dan bekerja untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya. Sang ibu tidak dapat berbuat apa-apa karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan. Akhirnya Mail memutuskan mencari waktu yang tepat untuk membujuk mereka kembali.

Simak juga:  Wajah Gadjah Mada (Bedhol Negoro, 4)

 

Sempat Membantu di Pasar

Beberapa bulan sebelum seleksi, hari-harinya diisi dengan membantu ibu di pasar. Ia berjualan kelapa parut untuk keperluan memasak sementara sang ibu berjualan sayur-mayur. Dalam waktu senggang berjualan ia sempatkan membaca kitab-kitab dan berlatih berbahasa Arab. Ia berusaha menyiapkan diri untuk seleksi Timur Tengah tersebut.

Sesekali ibunya melirik, memperhatikan semangat sang anak. Dengan takut tertangkap basah mail saat memperhatikannya sang ibu memilih diam-diam dan melihatnya dari kejauhan. Hatinya mungkin menangis, bersyukur namun meringis.

Beberapa waktu sebelum seleksi Timur Tengah, Mail berusaha meyakinkan orang tuanya kembali. Ia tidak mau pergi tanpa restu dari orang tuanya. Baginya restu orang tua adalah hal yang sangat penting juga kekuatan yang sangat besar.  Setelah perdebatan dan upaya pemahaman dari Mail akhirnya ibu dan bapaknya merestui.  Dengan kesepakatan jika Mail tidak lolos seleksi ia akan tetap bekerja membantu keluarga.

Mail pergi dengan hati senang karena restu orang tua. Sepanjang jalan mulutnya tak henti berdoa lirih. Tangannya bertasbih dan hatinya bergetar menyebut asma Allah. Tahap seleksi ia lalui, dengan persiapan yang telah ia lakukan membuatnya tak banyak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal seleksi yang diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah, karena memang beasiswa ini adalah beasiswa full yang sangat didambakan pelajar muslim di mana pun. Selepas mengerjakan soal ia berdoa kepada Tuhan, memasrahkan hasilnya dan berjanji dalam hati untuk menerima apapun hasilnya.

Selang beberapa minggu setelah seleksi, melalui laman website Kemenag Mail melihat pengumuman hasil seleksi. Dan ternyata namanya tertera dengan jelas. Dengan spontan ia langsung sujud syukur dan memeluk erat sang ibu, mereka larut dalam tangis bahagia. “Akhirnya man jadda waajadda ku terbukti dengan sangat nyata, terima kasih Tuhan  yang Maha Esa atas segala doa yang terkabul dengan segera,” hatinya menyeru. ***  (Dewi Sinta Nuriyah)

 

                    *Dewi Sinta Nuriyah adalah mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.           

 

Lihat Juga

Ketika Ibu Pergi, Sebuah Kenangan

BAGI  saya, tiada lagi masa yang paling menyakitkan di dunia tempat kita berpijak, melainkan ketika …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *