Kamis , 22 Oktober 2020
Beranda » Kesehatan » Covid-19 dan Serangkai Kisah Mewaspadainya
Penyemprotan disinfektan di Desa Rancamaya, Banyumas. (Foto: LRS)

Covid-19 dan Serangkai Kisah Mewaspadainya

SABTU (14/03/2020) pagi itu, saya mendengar dari teman satu kos, bahwasanya mulai hari Senin (16/03) untuk menindaklanjuti Surat Edaran  Menteri  Pendidikan dan Surat Edaran Menteri Agama tanggal 9 Maret 2020, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, akan mengganti perkuliahan tatap muka menjadi perkuliahan online.

Saya pun cukup kaget. “Kuliah online? Mengapa? Apakah sudah separah itu wabah Covid-19 di Indonesia, Yogyakarta khususnya?” pertanyaan tersebut terlontar begitu saja.

Ternyata, di beberapa grup Whatsapp, persoalan tersebut sudah banyak diperbincangkan oleh teman-teman kuliah saya. Bukan hanya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beberapa kampus di Indonesia juga sudah membuat surat edaran terkait kebijakan perkuliahan online tersebut, bahkan surat edarannya pun sudah menyebar di media sosial.

Hal itu membuat saya semakin bertanya-tanya di tengah pemberitaan pandemi Covid-19 ini. Seperti kecemasan teman satu kos saya, Riska, mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika. “Lah mengko laprake kepriwe? Fisika lur, etung-etungan nek ora paham kepriwe? [red- Lah nanti laporan praktikum nya (Laprak)  bagaimana ya? Apalagi Fisika, kan hitung-hitungan, kalau tidak paham bagaimana?] ucap mahasiswa asal Banyumas tersebut, sembari ada cemas di wajahnya.

“Oh iya yah, emang mata kuliah apa aja, Ris? Ya Allah jadi takut, kira-kira sampai kapan ya wabah ini?” timpal Latifah, teman kos saya lainnya.

Riska pun menimpali, “Salah satunya mata kuliah Fisika, Matematika, Mekanika, dan Listrik Magnet 1, semoga segera berakhir, Ya Allah. Aamiin.”

“Aamiin.. aamiin,” sahut kami semua.

Saya dan teman-teman pun segera mengecek pemberitaan dari pelbagai sumber media. Salah satunya dilansir dari pikiranrakyat.com, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Kasus Virus Corona, Achmad Yurianto menyebut, sudah ada 96 pasien positif Covid-19 hingga Sabtu (14/03). Ia juga menambahkan bahwa data 96 kasus positif virus corona ini adalah hasil tracing yang dilakukan pemerintah.

Sembari menunggu surat edaran kampus, saya dan teman-teman kos memutuskan untuk memesan makan siang melalui ojek online, dengan alasan mengantisipasi adanya virus Covid-19 serta sudah mulai takut untuk berpergian keluar rumah.

Menjelang pukul 14.00 WIB, Surat Edaran nomor: 53 tahun 2020, tentang kebijakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terkait pencegahan penyebaran Covid-19, mulai beredar di beberapa grup Whatsapp saya. Surat tersebut terhitung sejak tanggal 16 Maret-30 April 2020, namun kebijakan tersebut masih akan dievaluasi secara periodik oleh pihak kampus.

Pesanan makan siang kami pun sampai. Setelah membayar secara tunai [red-uang kertas] dengan driver ojek online tersebut, untuk mengantisipasi dalam pemutusan rantai virus Covid-19, saya segera mencuci tangan menggunakan sabun, sebisa mungkin sesuai dengan protokol ahli kesehatan. Karena, saya membaca dari berberapa pemberitaan, bahwa uang kertas merupakan salah satu benda yang beresiko menularkan Covid-19.

Salah satu poin dari surat edaran tersebut adalah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di lingkungan UIN Sunan Kalijaga tetap dilaksanakan dengan sistem pembelajaran online atau penugasan. Kegiatan praktik (laboratorium, praktik lapangan, KKN, dan sejenisnya) dilakukan penjadwalan ulang atau diganti dengan metode lain yang sesuai dengan perkembangan keadaan.

“Btw [red-by the way] kuliah onlinenya masa lama banget? Dari tanggal 16 Maret-30 April,” celetuk Latifah, di sela-sela makan kami.

Riska pun menimpali “Iya, astaghfirullah al-‘azim, mungkin mendingan mudik aja nggak si? Toh, sekarang bisa kuliah di mana aja, ya mending kuliah dari rumah. Kumpul sama keluarga, makan terjamin,” timpalnya.

Kami yang akhir-akhir ini sedang merasakan homesick, tanpa pikir panjang memutuskan untuk mudik atau pulang ke rumah. Berdasarkan informasi dari berbagai berita dan media sosial, menurut Bupati daerah kami, kampung halaman kami nyatanya masih aman, belum ada masyarakat yang terinfeksi Covid-19.

Keluarga di rumah pun, nyatanya mewanti-wanti kami agar segera pulang. Bahkan, teman saya Latifah, dalam sehari bisa berkali-kali di kirim pesan Whatsapp hingga di telepon, oleh Ibu maupun adiknya.

Selain itu, kami juga mengkhawatirkan akan ada kebijakan Lockdown seperti yang terjadi di beberapa negara terjangkit Covid-19. Bahkan, tagar lockdown sempat menjadi tranding topik di twitter, warganet meminta pemerintah segera melakukan lockdown untuk antisipasi meluasnya penyebaran virus Covid-19 tersebut.

 

Di Kos atau Mudik?

[Dering telepon berbunyi] ternyata dari gawai Latifah. Ia pun segera mengangkatnya.

“Assalamualaikum, Mah,” ucapnya, sembari menatap saya dan Riska.

Sayup-sayup terdengar suara dengan nada cemas seorang ibu, yang terus menanyakan kabar anaknya.

“Mau pulang ke rumah aja kan?! Jangan naik transportasi [red-kereta], dijemput aja ya!” suara di gawai itu.

Beberapa orang memang menganjurkan kami, maupun mahasiswa perantauan lainnya untuk tidak mudik. Salah satunya Faiz, Dosen Prodi Sosiologi Agama yang oleh mahasiswa dengan kerap dipanggil sebutan “Cak”.

“Kalau pada mau pulang saya khawatir, karena di Yogya sudah ditemukan, khawatirnya kalau kalian pulang menggunakan kendaraan umum rentan terpapar virus,” ungkapnya melalui story whatsapp (sw). Hingga timbul kecemasan dan pergolakan batin pada kami.

Simak juga:  Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

Senin (16/03) seperti biasa, setiap Senin jadwal kuliah saya memang tidak ada, alias libur. Pagi itu saya masih bersantai, sembari mengecek twitter “Tranding pagi ini apa ya?”

Tagar #dirumahaja ternyata memuncaki trending topik regional Indonesia pagi itu, netizen kembali saling mengingatkan untuk terus berhati-hati, supaya wabah Covid-19 tidak semakin meluas.

Matahari mulai meninggi, cuaca di Yogya pun semakin panas, bahkan kami hingga menyalakan dua kipas angin. Hari ini pertama kalinya kelas online dimulai, di kamar saya ada dua orang teman yang tengah sibuk dengan laptop dan gawainya masing-masing. Sedangkan saya masih sibuk menelusuri time line di twitter guna mencari informasi terkait virus corona ini.

Selasa (17/03) akhirnya kedua teman kos saya pulang ke rumah masing-masing, mereka mengantisipasi kepulangannya menggunakan kendaraan pribadi. Batin saya semakin bergejolak, antara pulang dan tidak.

Pasalnya, di tengah keriuhan wabah Covid-19 ini saya di kos sendiri. Sedangkan orang tua di rumah terus menanyakan perihal keadaan dan kepulangan saya.

“Memungkinkan buat mudik nggak? Naik kereta kira-kira aman? Jangan lupa jaga kesehatan dan kebersihan ya!” kurang lebih begitu, selalu, setiap harinya Ibu menyapa saya di whatsapp.

Berselancar di media sosial menemani keseharian saya. Bahkan keluar kos hanya memang ada keperluan penting saja, seperti membeli makan dan minum.

Ketika membuka grup whatsapp, ternyata banyak teman-teman saya yang dilema perihal pulang atau tidak, terutama mereka yang berasal dari luar Jawa. Pasalnya, kuliah online hanya berlangsung sampai 30 April 2020. Jika tidak ada perubahan setelah tanggal tersebut harus masuk kuliah seperti biasa.

Namun ketika mengkonfirmasi, pihak kampus belum bisa memastikan karena semua tergantung situasi dan kondisi.

“Fokus berdoa saja supaya wabah ini cepat selesai dan jangan kemana-mana kalau bukan keperluan yang mendesak,” ucap salah satu Dosen UIN.

Jumat (20/03) di tengah riuhnya berita Covid-19 ini, saya terus mencari informasi terkait prosedur yang baik ketika pulang menggunakan kereta. Hingga informasi yang saya peroleh dari website dan media sosial , yaitu PT KAI terus berupaya dalam berbagai cara untuk mencegah penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan melakukan penyemprotan disinfektan dan pembersihan secara rutin pada rangkaian kereta penumpang.

Selain itu, KAI juga melakukan pembersihan setiap hari, terutama area stasiun yang sering disentuh oleh penumpang. Bahkan, PT KAI membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Virus Corona.

Setelah membaca informasi tersebut, saya menjadi yakin untuk pulang, serta tak lupa berikhtar, dengan mengikuti prosedur yang ada.

Hari itu saya bangun sebelum subuh, guna mempersiapkan barang yang saya bawa pulang. Saya cukup membawa laptop, buku catatan kuliah, satu baju alias gamis, dan tentunya uang untuk membeli tiket kereta. Barang yang sekiranya tidak begitu penting dan bisa diakses di rumah, tentu saya tinggal di kos saja.

Kebetulan hingga pada pagi itu saya belum menemukan handsainitaizer serta masker, saya bingung dan takut. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk, “Ke kos jam berapa nih? Jadinya naik kereta yang jam berapa?” tanya Ilham, teman saya yang akan mengantar ke stasiun.

Saya pun teringat, beberapa hari yang lalu ia becerita, katanya masih memiliki beberapa persedian masker.

“Jam 7 udah di kosku, bawain masker jangan lupa!” jawabku.

Selang beberapa puluh menit, Ilham sampai di kos. Kami segera menuju ke  Stasiun Lempuyangan. Sesampainya di stasiun, kami memarkir motor, serta membayar dua ribu rupiah untuk parkir. Kali ini Stasiun Lempuyangan tidak seramai biasanya, mungkin karena faktor virus Covid-19 ini.

Saya lihat beberapa orang sudah menggunakan masker. Stasiun juga sudah menerapkan social distancing. Terlihat dari kursi di ruang tunggu, yang sudah diberi tanda silang menggunakan selotip atau perekat berwarna kuning, agar calon penumpang tidak bisa duduk di kursi yang diberi tanda tersebut.

Pagi itu saya berniat naik kereta Jayakarta, namun karena terlalu mendadak dan beberapa gerbong sudah penuh, saya menunda keberangkatan. Hingga memutuskan memilih kereta Bogowonto jurusan Stasiun Lempuyangan-Stasiun Purwokerto.

Menggunakan aplikasi KAI Access saya memesan tiket secara go-show atau dua jam sebelum keberangkatan kereta. Mengantisipasi kerumunan, saya memilih gerbong kereta yang sekiranya masih banyak yang kosong, kemudian saya membayar tiket tersebut melalui Bank/Atm sejumlah Rp. 65.000,-

Pukul 09.30 WIB saya mempersiapkan diri untuk chek-in, cukup membawa tiket yang sudah tercetak serta kartu identitas (KTP).

“Nih maskernya,” kata Ilham, sembari memberikan masker kepada saya.

“Wah, makasih banyak,” ucap saya dengan berbinar-binar.

Ditemani Ilham saya menuju tempat chek-in, sesampainya ditempat. Saya menyerahkan tiket dan KTP, sebelum benar-benar masuk ada satu tahap tambahan, yaitu pengecekan suhu tubuh. Karena salah satu gejala Covid-19 adalah suhu tubuh diatas 38°c.

Simak juga:  Dr. Handrawan Nadesul: Peran Matahari Terhadap COVID-19

Petugas pun menodongkan alat cek suhu tersebut tepat pada dahi saya.

“Bagaimana, Pak? Saya aman kan?” ucap saya secara spontan dan was-was.

Petugas tersebut pun menimpali, “Aman Mbak, naik satu derajat aja, Mbak nggak boleh naik keretanya,” ucapnya sembari tersenyum, dan mempersilakan saya masuk.

Selama diperjalanan, saya sempat membuat status di instagram. Berupa video yang menampakkan saya menggunakan masker serta keadaan gerbong kereta yang cukup lengang. Selang beberapa menit, teman saya Rifqi Maldini mereplay status saya.

“Dapat masker dimana fi?,” tulisnya pada pesan instagram.

Ternyata Yogya sudah benar-benar krisis masker, dan banyak sekali teman saya yang juga sedang mencari benda tersebut.

Pukul 13.45 WIB kereta sampai di Stasiun Purwokerto, meskipun hujan tak henti saya terus berucap syukur. Setelah itu, karena hujan tak kunjung reda, saya pun sudah tidak sabar untuk sampai rumah.  Dan karena orang rumah tidak ada yang bisa menjemput, disebabkan  jarak yang cukup jauh juga, saya memesan taksi.

Saat di perjalanan sembari basa-basi, Pak Supir pun bercerita. Bahwa adanya virus Covid-19 dan anjuran di rumah saja membuat perekonomian semakin melemah. “Apalagi supir kaya gini, Mbak,” ungkapnya.

 

Di Kampung Halaman

Dengan perjalanan kurang lebih 25 menit, taksi pun sampai di depan gang rumah saya. Tak lupa saya membayar ongkos taksi tersebut sesuai argo yang berjalan.

Sesampainya di depan rumah, saya disambut hangat oleh Ibu dan tetangga. Namun, untuk mengantisipasi apakah saya membawa virus (carrier) atau tidak, saya tidak langsung menyalami mereka.

Saya langsung menuju kamar mandi, untuk bersih-bersih dan setelah itu baru menyalami Ibu.

Malam harinya, Bapak saya megingatkan. “Nanti laporan loh ke Bu Bidan, kan habis perjalanan dari luar kota, besok pagi ya nggak papa,” katanya.

Sabtu (21/03) pukul 06.00 WIB saya bergegas menuju rumah Bu Sukaesi, bidan terdekat dari tempat saya. Di sana saya diperiksa apakah ada gejala atau pun sesuatu yang dirasa.

“Alhamdulillah tidak ada,” kata saya.

Bu Bidan pun menyarankan agar saya benar-benar mengisolasi mandiri di rumah selama beberapa hari, dan sebisa mungkin alat makan tidak bersama dengan anggota keluarga yang lain. Setelah di data saya pun diperbolehkan pulang.

“Tidak usah khawatir, yang penting jangan lupa jaga kesehatan dan kebersihan sesuai prosedur ya, kalau ada apapa WA ibu saja,” ucap Bidan Sukaesi.

Rancamaya, desa dengan keramahan dan kerukunan masyarakatnya. Itulah salah satu yang saya rindukan ketika di perantauan. Ketika saya keluar rumah ternyata sudah tertempel pamflet pencegahan virus Covid-19 di setiap jendela rumah.

Bahkan pagi ini, ketika tulisan ini dibuat (Jumat, 27/03) saya berkesempatan berbincang-bincang dengan aparat Pemerintah Desa, Pak Waryono, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa.

“Pemerintah dengan cepat membentuk tim satgas anti corona dengan tindak lanjut berupa sosialisasi melalui sebaran info di internet melalui Whatsapp, Facebok dan lain-lain, serta menempel pamflet di setiap rumah,” jelasnya.

Pak Waryono juga menambahkan, dalam mengantisipasi penyebaran virus corona ini, pemerintah desa terus berupaya untuk menjaga kebersihan dan menghimbau masyarakat untuk tetap di rumah saja jika memang tidak ada kepentingan untuk keluar rumah.

Bagi masyarakat yang kurang bisa mengakses televisi maupun internet, Pemerintah Desa bekerjasama dengan tim satgas tak segan untuk melakukan sosialisasi dengan berkeliling desa, berupa publikasi menggunakan kendaraan roda empat, tak lupa juga menggunakan bahasa yang lebih mudah supaya dipahami masyarakat [Jawa ngoko dan krama alus].

“Disamping publikasi secara keliling, kita juga bekerjasama dengan para kader kesehatan desa melalui grup online maupun door to door supaya bergerak di wilayah masing-masing,” ucapnya.

Upaya pencegahan lain yang terus dilakukan Pemerintah Desa adalah penyemprotan disinfektan pada tempat keramaian atau fasilitas umum yang biasa didatangi banyak orang.

“Minggu depan Insya Allah akan ada penyemprotan kembali, supaya jangkauan lebih luas,” imbuh Pak Waryono.

Di akhir perbincangan kami, beliau menitip pesan kepada masyarakat Desa Rancamaya khususnya, agar selalu waspada dan tidak boleh menganggap remeh serta tidak lupa untuk berikhtiar.

“Mengimbau kepada masyarakat, supaya harus dalam kondisi tenang, perbanyak berdoa. Bahwa semuanya kembalikan kepada Allah Swt, terus ikhtiar supaya bisa mengantisipasi agar tidak menyebar s, tidak hanya di Desa Rancamaya tetapi juga ecara nasional,” pungkasnya. *** (Lutfiana Rizqi Sabtiningrum)

 

          * Lutfiana Rizqi Sabtiningrum, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Kembali ke Gotong-royong

ADANYA wabah pandemi Covid-19 yang memporak porandakan kehidupan sosial di Indonesia ini seolah menyadarkan kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *