Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Budaya Ngopi dan Sejuknya Lereng Merapi
Suasana mengasyikkan ngopi di Lereng Merapi. (Foto: Zia)

Budaya Ngopi dan Sejuknya Lereng Merapi

JAUH sebelum merebaknya kedai kopi kekinian, ngopi sebenarnya sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Tradisi minum kopi di Nusantara bisa dilakukan pada pagi hari saat senggang, pada siang hari, bahkan sampai malam. Budaya “ngopi”  di Indonesia akrab dilakukan oleh orang tua sebagai teman obrolan ataupun rutinitas mereka melepas  penat dengan cara meminum kopi. Konon, kopi dianggap dapat menyegarkan tubuh dan menghilangkan rasa letih dan kantuk.  Kegemaran  “ngopi” kini mulai ramai dilakukan  remaja, mungkin karena banyaknya pikiran dan tugas  sehingga  mereka butuh penyegar tubuh, ini lebih baik daripada   mereka  lari ke minuman keras yang jauh berbahaya. Tradisi  minum kopi   sekarang  bukan  saja  disukai  orang  tua saja, anak-anak muda  rupanya mulai memasukkan tradisi “ngopi” ini dalam aktivitas favoritenya.

Seiring dengan kebiasaan nongkrong di kedai kopi yang kembali marak, menjamurnya kedai-kedai kopi kini hadir dalam konsep desain yang menarik. Seolah berlomba menyajikan tempat yang paling instragamable kalau kata anak millenial. Ya, munculnya berbagai kedai kopi dengan desain yang menarik ini tidak lepas dari peran para generasi muda yang menjadikan kebiasaan nongkrong di kedai kopi tidak hanya sebagai ruang untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, namun juga untuk meningkatkan eksistensi diri dengan memajang foto di kedai kopi yang kemudian diunggah di akun sosial media mereka.

Kalau anda berkunjung ke Yogyakarta, tidak sulit untuk menemukan kedai-kedai kopi yang kekinian. Mulai dari warung kopi ala mahasiswa hingga coffe shop yang paling unik konsepnya dapat anda temukan dengan mudah. Namun, jika anda berkunjung ke sisi utara kota Yogya, tepatnya di daerah sekitar area Wisata Lava/Volcano Tour Merapi. Terdapat satu warung kopi yang mengusung tema tradisional, dalam artian, pengolahan biji kopi yang masih menggunakan cara tradisonal, yaitu dengan menyangrai kopi menggunakan wajan dari tanah liat dan berbahan bakar kayu.

Simak juga:  Kisah Kopi Dari Mintaraga Pakasi Di Antara Puisi dan Musik

Dulunya, pemilik warung menekuni bidang perkebunan kopi. Namun erupsi merapi pada tahun 2010 menghancurkan perkebunan kopi miliknya. Hingga akhirnya ia memiliki ide membuat usaha warung kopi merapi. Untuk menghemat pengeluaran,sang pemilik warung menggunakan material-material bekas erupsi merapi yang ada disekitar lokasi untuk membangun warung tersebut. Disini, pengunjung dapat menikmati seduhan biji kopi yang ditanam langsung di tanah vulkanik lereng Gunung Merapi.

 

Dusun Petung, Kepuharjo

Ada dua pilihan jenis kopi yang ditawarkan,yaitu kopi robusta dan kopi arabica. Suasana di Warung Kopi Merapi cukup sejuk. Sesekali terdengar suara jeep pembawa wisatawan lava tour dan truk pembawa pasir. Bila cuaca sedang cerah, sembari menikmati kopi, pengunjung akan disambut dengan view gagahnya Gunung Merapi dengan jelas dari tempat ini. Anda bisa menyeduh kopi sambil menyaksikan sisa-sisa keganasan gunung api paling aktif di dunia.

Warung Kopi Merapi terletak di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Bagi  anda yang ingin  berkunjung ke warung  kopi ini bisa melalui Jalan Kaliurang ke utara hingga sampai perempatan  Pakem,  lalu ambil arah Cangkringan. Beberapa kilometer, ada papan petunjuk menuju  Wisata Lava Merapi  dan   Petilasan   Rumah Mbah Maridjan. Setelah melewati pos retribusi Wisata Lava Merapi, ambil arah kanan menuju Desa Petung hingga beberapa ratus meter melewati area perkampungan Desa Petung, akan terlihat bangunan dipinggir jalan dengan tulisan  Kopi Merapi. 

Bagi pencinta kopi, atau sedang berlibur ke Yogyakarta dan ingin mencari tempat nongkrong dengan suasana alam, tidak ada salahnya mencoba berkunjung ke Warung Kopi Merapi. Selain suasananya yang sejuk, harga makanan maupun minuman di tempat ini pun tidak akan membuat kantong anda kering karena menu yang ditawarkan cukup terjangkau, yaitu mulai  Rp 4000,- hingga Rp  12.000,-. Selain menu kopi robusta dan arabika, anda bisa memesan makanan pendamping seperti gorengan mendoan, pisang goreng, tahu susur, bakwan, dan tersedia juga menu mie instan sebagai makanan beratnya. Tersedia juga menu teh, wedang jahe, wedang secang dan susu hangat.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VI: Pariwisata untuk Kesejahteraan Rakyat

 

Meja dari Bebatuan

Untuk yang hobi berswafoto, tempat ini juga layak untuk dipamerkan di akun sosial media. Dengan view gagahnya gunung Merapi,  suasana lereng yang sejuk dan bebatuan vulkanik tentunya akan membuat foto  terkesan sangat natural. Keunikan lain dari Warung Kopi Merapi ini juga terdapat pada meja kusinya. Jika biasanya warung kopi menggunakan furniture meja  kursi dengan bahan dasar kayu,  di sini akan menemukan meja kursi  yang terbuat dari bebatuan vulkanik, semakin  menarik bukan?

Untuk fasilitas umum yang ada di Warung Kopi Merapi, terdapat parkiran untuk mobil dan motor, mushola dan toilet. Sebagai informasi, tempat ini berdekatan dengan tempat wisata yang relatif baru, yaitu The Lost World Castle, dan juga Stonehenge. Sekalian berwisata bisa mampir ke Warung Kopi Merapi.

Dari  secangkir kopi kita dapat berkenalan dengan orang  lain, tak memandang usia, saling  bertukar pikiran.  Dari secangkir kopi timbul  kejernihan otak, timbul ide kreatif nan unik, misalnya filosofi tentang sebuah kopi dalam kehidupan. Sebuah tradisi bangsa Indonesia yang benar-benar berlandaskan sila ke-3,  Persatuan Indonesia. Kopi menyatukan, tak memandang darimana  kamu berasal. *** (Ziadatul Fauziah Aryati)

 

          * Ziadatul Fauziah Aryati, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Kenalkan Kopi Nusantara melalui Event Ngopi Bareng KAI

Selasa (30/1) Direktur Utama KAI Edi Sukmoro membuka acara “Ngopi Bareng KAI – Enjoy Your …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *