Kamis , 9 April 2020
Beranda » Event » Batu Ibu di Bulan Purnama
Aurelia Theresia Whydharti, Pritt Timothy dan Warih Wisatsana. (Foto: Ist)

Batu Ibu di Bulan Purnama

‘Batu Ibu’ kumpulan puisi karya Warih Wisatsana, yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 102,  Senin, 9 Maret 2020, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Warih Wisatsana adalah seorang penyair yang kini tinggal di Bali, dan sehari-harinya di Bentara Budaya Bali. Puisi2nya diterjemahkan kedalam bahasa Belanda, Jerman, Inggris, Portugal dan Perancis. Buku puisi lainnya yang sudah terbit Ikan Terbang Tak Berkawan Penerbit buku Kompas, 2003) dan May Fire and Other Poems (Lontar, 2015).

Selain Warih Wisatsana, selaku penyair yang akan membacakan puisi2 karyanya. Akan tampil beberapa pembaca puisi, yang memiliki profesi lain, dan sudah terbiasa tampil di panggung, dan juga beberapakali tampil di Sastra Bulan Purnama, Pritt Timothy misalnya, selain dikenal sebagai penyiar radio sejak tahun pertengahan 1970-an, dia juga dikenal sebagai pemain film, dan telah  main dalam sejumlah film Indonesia di antaranya, Marsinah, Anne Van Jogja, Gong, Drupadi, Preman In Lovw, Roman Picisan, Sang Kyai, Negeri 5 Menara, AADC 2 dan sejumlah judul film lainnya.

Pembaca lain seorang dosen di Fakultas  Ekonomi dan Bisnis UGM,  Nurul Indarti. Ia, Nurul, sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Pembaca yang lain, Ni Made Purnamasari, yang sehari-harinya menjadi kepala Bentara Budaya Yogyakarta. Selain itu akan tampil para pembaca lain, Aurelia Theresia Whydharti, Rita Ratnawulan Genitta, Yuli Rukmini, Daniella dan Kentik.

Joshua Igho, penyair dari Magelang akan mengubah puisi karya Warih Wisatsana menjadi lagu. Dalam peluncuran buku puisi ini, puisi Warih yang berjudul ‘City Solitude’ yang sudah dibuat dalam bentuk dance poetry video oleh Vanesa Martida, yang durasinya 3 menit akan diputar untuk mengawali Sastra Bulan Purnama edisi 102.

Simak juga:  Obor dan Dupa Dalam Puisi Di Tembi

Wisnu Dermawan, seorang koreografer, dan sedang menempuh S2 di ISI Yogya akan mengkreasi puisi Warih, yang berjudul ‘Kaki Candi’ dalam bentuk tarian, dengn penata musik Ahmad Nurkholik, pemusik Ricky O. Hermansyah, dengan dua penari Muhlis dan Marentine.

Para pembaaca puisi karya Warih, yang sudah memilih judul puisi untuk dibacakan, Nurul Indarti akan membaca puisi berjudul ‘Amsal Sebuah Patung’, Aurelia akan membacakan puisi ‘Kaki Candi’ , Daniella, seorang duta museum akan membacakan puisi berjudul ‘Memorabilia’. Para pembaca yang lain, akan membacakan puisi dalam judul yang berbeda dan diambilkan dari buku puisi ‘Batu Ibu’.

Selama ini, Sastra Bulan Purnama menampilkan penyair dari berbagai kota, dan mereka selalu meluncurkan antologi puisi karyanya sendiri. Tidak jarang, antologi puisi bersama dari sejumlah penyair yang berasal dari kota-kota yang berbeda juga meluncurkan antologi puisi bersama.

 “Namun, tidak hanya puisi yang dibacakan dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, buku kumpulan cerpen, seperti bulan Februari 2020 beberapa perempuan cerpenis yang menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul ‘Firdaus yang hilang’ juga diluncurkan di Sastra Bulan Purnama”, ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Simak juga:  Pameran Gonjang-ganjing Kesetiaan

Sejak diselenggarakan pertamakali Oktober 2011, Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan, telah menampilkan puluhan penyair dari berbagai kota,dan dari usia yang berbeda-beda. Serta telah menerbitkan beberapa antologi puisi bersama.

“Anggap saja, Sastra Bulan Purnama adalah satu ruang untuk menampilkan karya sastra dalam bentuk pertunjukkan, apapun penafsiran terhadap karya sastra itu, boleh dibacakan,  dimusikalisasikan, dibuat dalam bentuk film, diolah menjadi satu drama. Pendeknya, bagaimana karya sastra dipertunjukkan”, ujar Ons Untoro. (*)

Lihat Juga

Poetry Reading From Home Sastra Bulan Purnama Digital

Poetry reading from home menandai Sastra Bulan Purnama edisi 103, yang tidak memungkinkan digelar secara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *