Beranda » Pariwisata » Kuliner » Bangga Jadi Anak Bakul Gebleg
Gebleg, makanan khas Purworejo. (Foto: Ulfah)

Bangga Jadi Anak Bakul Gebleg

Suatu kebanggaan untuk saya, sekarang dapat mengenyam pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta berkat jasa kedua orangtua saya. Walaupun teman-teman saya di Yogya kebanyakan mereka anak orang kaya yang mata pencahariannya terbilang kece, tapi kedua orangtua saya tak kalah hebat juga. Saya pun tidak pernah malu mengakui bahwa saya anak tukang gebleg.

Banyak dari mereka yang pertama kali mengenal saya, menebak dan mempercayai bahwa saya anaknya orang berada. Mungkin penilaian mereka didasarkan pada penampilan saya yang cenderung rapih, bersih, baju kinclong, dan harum mewangi. Akan tetapi, realitanya memang saya wong deso, berangkat dari keluarga sederhana. Orang tua saya memang mengajari dan membiasakan anak – anaknya untuk berpenampilan rapih dan bersih. Padahal, jika dinilai dari sederetan tetangga bahkan satu desa pun kami tergolong keluarga harapan.

Walaupun demikian, lantas tidak memutus semangat orangtua saya untuk berjuang demi masa depan anak-anak mereka. Tentu semangat saya pun akan selalu berkobar dengan melihat bagaimana kerasnya perjuangan orangtua menyejahterakan anak mereka. Sampai kapan pun saya tetap bangga, bahagia, dan bersyukur lahir menjadi anak dari kedua orangtua saya.

 

Susahnya Membuat Gebleg

Alhamdulilaah, tidak seperti di film-film yang malu karena latar belakang keluarga harapan. Saya bahkan tidak malu dengan pekerjaan kedua orangtua saya ini. Dan yang membuat mata saya terbelalak adalah adik saya pun tak merasa minder atau rendah diri karena pekerjaan orangtua kami. Walaupun terkadang ada yang bercanda dengan nada mengejek adik saya itu, tapi dia dengan tegas mengatakan bahwa bakul binggel atau bakul gebleg is okkee!

Saya masih ingat, sudah dua kali lebaran jualan orangtua saya sangat laris. Bahkan kami sekeluarga bekerja semua, ya semuanya ikut nimbrung mengolah gebleg ini. Mulai mengupas ketela yang dilakukan semua anggota keluarga, ada Abah, Umi, saya, adik saya, kakak saya, dan tentunya Mas ipar saya. Tak hanya satu atau dua kilo ketela yang kami kupas, kalau sedang lancar orderan ya bisa sampai 20 kilogram ketela. Setelah dikupas, kami anak-anaknya  mencusi ketela sampai bersih, sedangkan Abah memarut ketela dengan parut elektrik, dan nantinya diteruskan Umi untuk diperas. Air perasan ketela kami ambil dan diamkan selama satu malam agar jadi tepung tapioka lewat proses pengeringan sinar matahari langsung. Lalu, Umi mulai memasak ketela peras dengan tungku batu bata selama 30 menit.

Nah, proses selanjutnya adalah proses yang sangat kami tunggu-tunggu. Lagi-lagi kami bekerjasama untuk memproduksi gebleg ini. Abah membuat adonan gebleg yang panas dengan bumbu rahasia yang telah ditakar dengan perbandingan sedemikian rupa oleh Umi. Lalu diteruskan dengan dibentuk seperti angka delapan yang dilingkarkan oleh Umi, Kakak, dan Kangmas. Proses terakhir adalah pengemasan menggunakan mika atau besek yang saya dan adik lakukan.

Simak juga:  Dolalak Terinspirasi Serdadu Mabuk

Lahir dan berangkat dari anak bakul gebleg yang bahkan nenek saya pun bakul gebleg adalah suatu kebanggaan bagi kami. Mengapa demikian? Dari sinilah saya bisa merasakan bagaimana susahnya mencari receh. Dari susah itu, saya tahu bagaimana harus menghormati dan menghargai pengorbanan Abah dan Umi memeras keringat demi kami. Tahu bagaimana dan kapan harus membelanjakan uang. Tak seperti teman-teman lain yang bisa dengan secepat kilat mendapat kiriman uang dari orang tua ketika mereka minta. Dari Abah dan Umi, saya memiliki banyak pengalaman. Pengalaman yang dalam seputar menghargai kehidupan. Bagaimana indahnya menghargai, menghormati, dan menyayangi.

Bahkan ketika saya sudah sampai pada titik sekarang, di mana saya sudah semester IV di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, Abah dan Umi tak lantas redup semangat membanting tulang. Saya terkadang berpikir bagaimana susahnya mereka mengatur keuangan untuk uang saku kuliah saya dan biaya sekolah adik. Tak hanya itu yang membuat saya melek akan menghargai kehidupan. Satu hal lagi yang hebat, makan pun kami masih cukup bahkan lezat dan bergizi yang tentunya itu sesuai porsi kemampuan kami. Kata Abah, rezeki berkah adalah rezeki yang selalu dicukupkan oleh Allah untuk hamba-Nya. Sejak tahu hal itu, saya menyadari bahwa berkah itu sungguh indah nan nikmat.Kebutuhan manusia memang tak ada cukupnya. Tapi, satu yang pasti, jika manusia qonaah, berkah akan melimpah. Merasa ayem, adem, tentrem inilah filosofi yang selalu di pegang oleh orang di kampung.

 

Makanan Khas Purworejo

Lucunya lagi, orang tuaku juga tidak lahir dan berangkat dari orang tua yang kaya. Bisa berdiri sampai sekarang, dengan usahanya sendiri. Kata orang, anak-anak Abah itu cerdas, hehhee. Mengapa begitu? Karena kami sering dipercayai sekolah untuk mewakili lomba dan menjadi juara kelas bahkan sekolah. Bukan bermaksud sombong, hanya saja apa yang keluarga kami alami bisa menjadi motivasi untuk orang lain. Kerasnya kehidupan kami yang membuat anak-anak Abah semangat untuk belajar. Mungkin ini kelebihan kami, pengetahuan, tidak dengan uang yang melimpah.

Simak juga:  Ahad Legi, Jangan Lupa Pasar Sor Jati

Hal yang tak pernah saya lupa akan pesan Abah, “Kita tak hanya bisa belajar dari pohon kelapa, tapi juga bisa belajar dari pohon ketela. Coba perhatikan, semua elemen pohon ketela memiliki manfaat. Daunnya bisa untuk sayur, lalapan, bahkan gorengan. Jelujur daun atau tangkainya bisa untuk makan kambing. Batangnya pun malah bisa menghasilkan kehidupan baru. Tak bermodal banyak, cukup tancapkan pada tanah, nanti hidup. Asalkan kamu mau memberinya minum saja. Bahkan yang paling bawah, akar atau umbinya saja bisa dimakan. Dan hebatnya lagi semua itu bisa manjadi sumber nafkah untuk kamu, adik, dan Umimu.”

Saya tak membayangkan bagaimana jika saya dilahirkan dengan kondisi yang pada mulanya kaya. Tentu saya tak akan bisa merasakan dan paham bagaimana kerasnya perjuangan hidup orang kampung menafkahi keluarganya hanya dengan ketela. Tak apa jika pada suatu ketika saya dan adik saya dibilang anak bakul bodoh yang diartikan bahwa makanan khas gebleg dipelesetkan menjadi gebleg atau bodoh. Sering dihomonimkan memang, gebleg bisa berarti makanan khas Purworejo, tapi bisa juga berarti bodoh (gebleg sebutan bodoh untuk orang Jawa Tengah). Menjadi candaan teman-teman, “heh anak e bakul gebleg lewat”, dalam pengucapan homonim bodoh maksud mereka. Allah kasih posisi saya yang dulu supaya di posisi sekarang saya bisa lebih memahami orang lain.

Duh, jadi rindu Umi dan Abah di kampung. Sudah beberapa bulan ini saya tidak pulang karena suatu hal. Rindu kebersamaan kami menerima banyak orderan hingga kami sibuk bersama, bukan sibuk sendiri. Rindu makan gebleg kala hujan tiba dengan ditemani teh hangat buatanku. Canda Abah yang selalu mendominasi. Selalu saja Umi kami yang beliau godai. Lelah kami dari sibuknya membuat gebleg lantas pudar karena kebersamaan ini.

Ah, sekali lagi saya rindu makan gebleg bersama keluarga di kampung. Betapa tidak, gurih bumbu gebleg begitu terasa ditambah dengan kenikmatan bumbu pecel. Sensasi kriuk renyah gebleg hangat menjadi candu siapa saja yang menggigitnya. Kombinasi rasa original gurih bawang putih dengan pedas manisnya bumbu pecel membuatku tak henti-hentinya menyantapnya. Indah bukan jadi anaknya bakul gebleg? Kebersamaan dan rasa syukur pasti dapat, apalagi geblegnya? Makan tiap hari saya. *** (Ulfa Anisatus Solikhah)

 

          * Ulfa Anisatus Solikhah, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Kyai Sadrach, Padukan Budaya Jawa ke Nilai-nilai Kristiani

BAGI umat Kristiani di Purworejo, Jawa Tengah, dan sekitarnya, Kyai Sadrach adalah nama dan sosok …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *