Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Asal Usul Nama Gunung Tambalan
Makam Kyai Tambal dan Nyai Tambal. (Foto: Ist)

Asal Usul Nama Gunung Tambalan

Kedengarannya nama ini memang aneh, Tambalan. Apalagi untuk nama sebuah bukit Gunung Tambalan berlokasi di Desa Tambalan, Kauman, Karanggede Gilangharjo. Pandak Kabupaten Bantul. Kalau kita telusuri dari Kota Yogyakarta, melalui jalan bantul, kita terus ke selatan sekitar 14 km, akan sampai perempatan Palbapang. Kita belok kanan masuk jalan arah Srandakan. Setelah 1 km, kita memasuki jalan desa, lewat pasar tradisional nJodok terus saja keselatan 1 kilometer, belok kanan masuk ke persawahan. Nah ditengah persawahan itulah adanya Gunung Tambalan, yang sebenarnya lebih tepat disebut bukit.

 

Sejarah kyai Tambal sang penghulu Kraton Plered

Alkisah pada masa pemerintahan kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati yang keratonnya di Kotagede, memiliki putrra RM Jolang, yang ketika menggantikan sebagai raja, bergelar Sultan Hanyokrowati. Suttan Hanyokrowati wafat ketika sedang berburu di Hutan Krapyak, digantikan putranya Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Pada penerintahan beliau, kraton mataram dipindahkan ke Plered. Sultan Agung digantikan putranya yang bergelar Sri Sunan Amangkurat Agung. Sunan Amangkurat Agung menpunyai 2 permaisuri. Permaisuri Kulon yang berputera Raden Mas Rachmad dan Permaisuri Kulon yang berputera Raden Mas Darajat. Permaisuri wetan berasal dari Kajoran, yang konon merupakan keturunan Ki Ageng Giring.

Diantara dua putranya itu, Raden Rachmad yang ditunjuk sebagai Putera Mahkota, dengan gelar Adipati Anom. Namun, ketika salah satu selir Sri Sunan Roro Hoyi diganggu oleh Raden Rachmad, gelar putera mahkota dicabut dan diserahkan kepada Raden Mas Darajat, yang bergelar Pangeran Puger.
Pada tahun 1677, Kerajaan Mataram Plered diserang Trunajaya dari Madura yang didukung oleh Panembahan Romo dari Kajoran. Karena serangan itu, Sunan Amangkurat Agung terpaksa menyingkir kebarat, hingga akhirnya mesanggrah di Tegal Arum, Kabupaten Tegal.
Karena Trunajaya dibantu keluarga Kajoran, Sunan merasa kecewa dan mencopot kedudukan putra mahkota, dan mengembalikan kepada Adipati Anom yang menyertaimya ke Tegal. Sunan Amangkurat Agung akhirnya mawat dan dimakamkan di Tegal Arum.

Pangeran Puger tetap berada di Plered dan melakukan perlawanan terhadap Trunajaya. Namun karena kekuatan yang tidak berimbang, Pangeran Puger kalah dan menyingkir ke desa Kertowulan. Disitu Pangeran Puger mengangkat diri sebagai raja, bergelar Sultan Ing Alaga. Setelah menguasai Plered dan merampas kekayaannya, Trunajaya kembali ke markasnya di Madiun dan hanya meninggalkan pasukan kecil penjaga kraton. Kesempatan itu digunakan oleh Pangeran Puger yang kemudian berhasil merebut Kraton Plered. Salah satu abdi kesayangan yang membantu perjuangan Pangeran Puger adalah Kyai Tambal yang kemudian diangkat sebagai Penghulu Istana.
Ketika wafat, kyai tambal dimakamkan disebuah bukit di desa, yang kemudian oleh masyarakat setempat disebut Gunung Tambalan, Pangeran Puger sendiri kelak berhasil menjadi raja Kartasura, bergelar Sunan Paku Buwono dan merupakan Sunan Pakubuwono I.

Simak juga:  Membaca Pohon-Pohon di Bulan Purnama

Yk. Akhir April 2020
Iman Santosa Kudasedarmo.

Lihat Juga

Blues Rindu di Bulan Purnama

Buku puisi bejudul ‘Blues Rindu’ karya Langston Hughes, yang diterjemahkan Krisbudiman, seorang pengajar di Program …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *