Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Ahad Legi, Jangan Lupa Pasar Sor Jati
Suasana di Pasar Sor Jati. (Foto: Millenia)

Ahad Legi, Jangan Lupa Pasar Sor Jati

JIKA berbicara tentang Yogyakarta maka yang muncul adalah kekhasan budaya yang masih lestari, lingkungan yang nyaman dan masih asri, serta keramahan orang-orangnya. Dengan kondisi seperti itu maka tidak dipungkiri Yogyakarta menjadi incaran para wisatawan domestik maupun manca negara yang ingin menikmati keindahan daerahnya sekaligus sebagai edukasi juga tentang kearifan lokal di dalamnya.

Terbagi menjadi empat Kabupaten dan satu Kota, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki ciri khas masing-masing di setiap kabupatennya. Kabupaten Bantul contohnya,  teeletak di bagian selatan Yogyakarta kurang lebih 24 menit dari pusat Kota Yogyakarta. Kabupaten ini memiliki ciri kearifan lokal yang banyak tersebar di seluruh kawasan desanya. Salah satu kearifan lokal yang ada di kabupaten ini adalah Pasar Sor Jati.

Pasar Sor Jari adalah pasar tradisional hasil gagasan masyarakat Giriloyo. Sebuah desa yang terletak di sebelah timur Kecamatan Imogiri. Pasar ini dibangun dari gagasan masyarakat Giriloyo yang awal mulanya membangun sebuah bendungan sungai di sebelah hutan jati. Setelah proses pembangunan bendungan sungai selesai, masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk membuat lapak yang berjajar di sepanjang sungai guna menjajakan jajanan bagi para pengunjung bendungan baru itu. Semakin lama semakin ramai pengunjung yang datang, akhirnya muncul gagasan oleh para warga untuk membuat sebuah pasar tradisional di area hutan jati sebelah bendungan tersebut.

Melalui Gotong Royong

Melalui gotong royong masyarakat Giriloyo yang difasilitasi Pemerintah Kelurahan Wukirsari maka dibangunlah Pasar Sor Jati di area tempat atau lahan yang awalnya kurang menarik. Tempat itu kemudian dikemas sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi destinasi wisata yang menarik dan bernilai jual tinggi. Semua elemen desa terlibat dalam proses pembangunan Pasar Sor Jati ini. Mulai dari kalangan bapak-bapak, ibu-ibu rumah tangga, orang lanjut usia, pemuda-pemudi semua ikut berkontribusi dalam terciptanya Pasar Sor Jati.

Simak juga:  Pasar Beringharjo, Riwayatnya Dulu

Dengan konsep masa lampau yakni menghadirkan kembali nuansa kehidupan masa lalu seperti dengan setting tempat yang layaknya di tengah hutan jati, Pasar Sor Jati ini juga dikemas dengan mengembalikan kembali konsep pasar masa lampau yaitu seperti lapak-lapak yang terbuat dari gubuk bambu dan beratapkan daun kelapa kering. Alat-alat penjualannya yang serba tradisional, seperti wadah jajanan yang menggunakan batok kelapa dan dedaunan sebagai pembungkus makanan atau minuman. Makanan dan minuman yang dijajakan pasar tradisional ini juga merupakan layaknya makanan khas pedesaan Yogyakarta, seperti berbagai jajanan pasar antara lain kacang godhok, tiwul, gedhang godhok, lontong sayur, mangut , sate kere, megono, dhawet, dan masih banyak lagi.

 

Bayar Pakai Uang Kayu

Selain tempatnya yang berada di wilayah hutan jati, Pasar Sor Jati ini juga memiliki keunikan tersendiri dalam kegiatan transaksi jual beli di dalam pasar tradisional. Jika pengunjung ingin menikmati beragam kuliner yang ada dalam pasar ini maka pengunjung dapat membelinya dengan alat tukar pembayaran berupa kepingan kayu. Sebelum pengunjung membeli jajanan di pasar tersebut maka terlebih dahulu harus menukarkan uang rupiah dengan kepingan kayu tersebut di stand penukaran uang. Satu kepingan kayu di hargai sebesar dua ribu rupiah saja.

Untuk menemani pengunjung saat menyantap  jajanan yang telah dibeli, di dalam kawasan pasar juga terdapat panggung hiburan yang berada sudut sentral pasar. Panggung hiburan ini biasanya diisi oleh pertunjukan musik dari komunitas sekitar Yogyakarta, pertunjukkan tari, dan lain-lain. Pengisi acara tidak harus dari komunitas tersebut, tetapi dari masyarakat sekitar sampai dengan pengunjung pun boleh untuk menampilkan bakatnya di panggung gembira ini. Dengan adanya panggung hiburan ini membuat suasana di dalam pasar menjadi semakin meriah, pengunjung tidak hanya datang untuk membeli jajanan pasar tetapi juga sekaligus berekreasi menyaksikan pementasan-pementasan yang ditampilkan di Pasar Sor Jati ini.

Simak juga:  Harga Pangan Pokok di Yogyakarta Stabil

Pengunjung Pasar Sor Jati selain dari masyarakat sekitar kawasan pasar, banyak juga pengunjung dari berbagai wilayah yang jauh. Mulai dari masyarakat kalangan pedesaan, perkotaan, hingga orang-orang penting pernah hadir ke pasar ini. Selain perorangan pengunjung pasar ini juga berasal dari komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Pasar Sor Jati tidak buka setiap hari seperti pasar pada umumnya, pasar ini memiliki agenda tersendiri dalam pembukaan pasar. Pasar buka setiap Ahad legi dalam penanggalan pasaran Jawa atau pada penghitungan harinya adalah setiap 35 hari sekali, dalam dua bulan sekali pasar ini akan dibuka untuk umum.

Dibuka pada pukul  06.30 pagi sampai pukul 12.00 siang Pasar Sor Jati selalu ramai pengunjung dan biasanya makanan sadah ludes terjual sebelum jam waktu pasar di tutup. Kendati makanan sudah habis, pengunjung masih tetap menikmati hiburan yang disuguhkan. Untuk biaya masuk Pasar Sor Jati ini pengunjung hanya dibandrol harga untuk pengamanan kendaraan saja, dengan perincian harga dua ribu rupiah untuk sepeda motor, tiga ribu rupiah untuk mobil, dan seribu rupiah saja untuk sepeda.

Adanya Pasar Tradisional Sor Jati ini diharapkan sebagai wujud pelestarian kearifan lokal zaman dahulu yang ramah lingkungan, konsumsi makanan alami tinggi gizi, lebih dekat dengan alam, dan saling tegur sapa. Sehingga diharapkan generasi muda khususnya dapat tetap merasakan sekaligus melestarikan hal tersebut agar tidak tergerus oleh zaman modern. *** (Millenia Qurrotun Aini)

 

          * Millenia Qurrotun Aini, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Dari Kelapa Parut Menuju Kairo Mesir

ADA kalimat yang benar-benar diyakini Ismail ketika ustadnya mengajar ngaji, “man jadda wajadda”. Kalimat tersebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *