Sabtu , 20 April 2019
Beranda » Humaniora » “Zaman Edan” Munculkan Pemimpin “Bhatara kala”
Kepala Bhatara Kala di Candi Jabung Paiton Probolinggo Jawa Timur. (ft. wikipedia)

“Zaman Edan” Munculkan Pemimpin “Bhatara kala”

RANAH politik di jagad pewayangan sedang mengalami masa-masa sulit dan penuh dengan beragam persoalan.  Jagad pewayangan yang semula iklim politiknya sejuk, penuh kedamaian, penuh sikap toleransi, rukun, guyub dan nyaris tanpa persoalan, tiba-tiba memasuki suatu masa yang disebut “zaman edan”. Zaman edan adalah masa-masa penuh kerusakan, kehancuran, kebobrokan dan kemerosotan moral. Masa di mana hancurnya rasa kebersamaan dan kerukunan. Masa berkobar dan membaranya api kebencian, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Tak ada lagi toleransi antar sesama. Sikap toleransi hancur. Tapi yang berkembang justru sikap intoleransi.

Di jagad pewayangan, para Dewa tidak hanya tokoh suci tapi juga “tokoh politik” atau “elit politik” yang dihormati, disanjung, dan berwibawa. Kata-katanya selalu dipatuhi dan jadi panutan. Perilakunya senantiasa dijadikan teladan dalam kehidupan. Nah, datangnya “zaman edan” bermula dari berkembangnya virus politik di kayangan, tempat para Dewa bermukim. Tak semua virus politik yang berkembang itu virus politik positif, tapi justru banyak yang virus negatif. Justru virus politik negatif itulah yang melanda sebagian Dewa. Bahkan, tak tanggung-tanggung, virus politik negatif itu telah melanda atau mengenai Bhatara Guru, tokoh Dewa yang sangat dimuliakan.

Virus negatif itu benar-benar dahsyat. Bayangkan, Bhatara Guru, tokoh Dewa yang dimuliakan dan sangat dihormati itu tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi sosok kejam, beringas, brutal, suka memaksakan kehendak, mengancam, bahkan tak segan-segan menempuh jalan kekerasan demi mencapai tujuan. Sosok Dewa yang semula santun, bijak, tenang dan penuh wibawa itu, mendadak mau menghalalkan berbagai cara. Bahkan tak segan-segan mau melakukan dengan kekerasan, serta tindakan-tindakan penuh kezaliman, demi tujuan serta keinginannya tercapai.

Virus politik itu memang berbahaya sekali. Perilaku Dewa yang sebelumnya penuh kebaikan, jauh dari kecacatan, bisa berubah sebaliknya secara drastis. Dewa yang mengajarkan ajaran-ajaran kebaikan dan pedoman kehidupan yang luhur, dalam waktu relatif singkat justru melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran kebaikan dan pedoman kehidupan yang diberikannya. Dewa itu pembuat hukum dan aturan-aturan kehidupan, tapi virus politik telah membuatnya melanggar hukum dan aturan-aturan yang dibuat itu.

 

Tak Mampu Kendalikan Nafsu

Tersebutlah kisah, gonjang-ganjing politik terjadi di jagad pewayangan. Gonjang-ganjing itu terjadi gara-gara Bhatara Guru, Sang Dewa yang dimuliakan, tidak mampu mengendalikan nafsunya. Virus politik yang melandanya membuat Bhatara Guru tidak mampu mengendalikan kobaran nafsunya yang tiba-tiba membara dahsyat.

Dikisahkan, Bhatara Guru pada suatu hari melakukan perjalanan di marcapada. Sebagai Dewa yang dimuliakan, Bhatara Guru memang sering melakukan perjalanan atau kunjungan ke marcapada. Dia melakukan hal itu demi untuk melihat apakah para penghuni marcapada benar-benar hidup dalam kedamaian, ketenteraman dan sejahtera. Dia tak sendiri, tapi ditemani Bhatara Narada, Dewa yang dituakan.

Simak juga:  Islam, Wayang dan Indonesia

Dalam perjalanan itu, di luar dugaan Bhatara Guru menyaksikan suatu peristiwa yang benar-benar menarik perhatiannya. Peristiwa itu adalah peristiwa pemerkosaan yang dilakukan gandarwa terhadap peri. Tindak perkosaan itu terjadi secara brutal. Penuh ancaman. Penuh kekerasan. Sang peri menolak keras, tapi gandarwa tetap memaksa. Gandarwa tak bisa lagi mengendalikan nafsu birahinya yang dahsyat. Ia terus memaksa. Memaksa dengan kejam, brutal dan sadis.

Sang peri tidak mau tunduk begitu saja. Peri melawan dengan sekuat tenaga yang dimilikinya, dan meronta-ronta untuk melepaskan diri dari ancaman gandarwa. Tapi perlawanannya sia-sia. Gandarwa jauh lebih kuat dibanding sang peri. Akhirnya benteng pertahanan sang peri itu pun jebol juga. Dia kalah, dan tak berdaya. Dan, dengan masih tetap meronta-ronta, ia pun diperkosa oleh gandarwa. Meskipun berhasil menggagahi, tapi wajah gandarwa berdarah, penuh luka cakaran dari sang peri.

Peristiwa pemerkosaan yang dilakukan gandarwa terhadap peri itu ternyata sangat berkesan sekali di hati Bhatara Guru. Adegan demi adegan dalam peristiwa pemerkosaan itu ternyata telah terekam secara detail di hati dan pikiran Bhatara Guru. Hatinya benar-benar terusik. Virus politik benar-benar telah merubah perilakunya. Virus politik telah membuat dirinya sebagai Dewa terhormat, tak mampu mengendalikan nafsu birahinya yang tiba-tiba menggelora. Ketika birahinya menyala, ia pun langsung teringat kepada istrinya di kayangan, Dewi Umayi. Ia pun cepat-cepat menyudahi perjalanannya di marcapada bersama Bhatara Narada. Ketika Bhatara Guru memutuskan untuk segera kembali ke kayangan, meskipun perjalanan di marcapada belum lagi selesai, Bhatara Narada yang menemaninya tak mampu mencegah.

Setibanya di kayangan, birahi Bhatara Guru semakin menggila. Ia cepat-cepat, berlari menuju Dewi Umayi. Kebetulan istrinya, Dewi Umayi memang sedang di dalam kamar. Kebetulan ketika itu ia sedang terlentang di atas peraduannya tanpa sehelai kain pun menutupi badannya. Ketika itu Dewi Umayi sedang merasa kegerahan karena udara yang panas. Melihat istrinya, Dewi Umayi, dalam kondisi seperti itu, nafsu birahi Bhatara Guru semakin tak terbendung lagi. Birahinya menyala-nyala dahsyat.

Dewi Umaji terkejut. Tanpa rayuan, tanpa basa-basi, Bhatara Guru langsung saja memeluknya, dan berusaha melampiaskan nafsu seksnya. Dewi Umayi memang layak terkejut. Karena hal seperti itu belum pernah dilakukan Bhatara Guru saat ingin menyalurkan keinginan  birahinya. Ia selalu sopan, santun, penuh rayuan, dan romantis. Tapi kali itu tidak. Semuanya berubah. Bhatara Guru berubah. Dewi Umaji berusaha dengan lembut meminta Bhatara Guru untuk membersihkan diri terlebih dulu, tapi permintaan itu ditolak.

Simak juga:  WAYANG, INSPIRASI TANPA BATAS: Memburu Sarangnya Wayang

Bhatara Guru memaksa dan mengancam. Dewi Umayi menolak, karena tak mau diperlakukan dengan paksaan dan ancaman seperti itu. Bhatara Guru marah. Dewi Umayi pun marah. Virus kotor itu telah membuat Bhatara Guru kalap, dan zalim. Ia memaksakan kehendak. Dewi Umayi melawan. Maka terjadilah perseteruan di antara mereka, tidak saja perseteruan melalui kata-kata, tapi juga secara fisik.

Bhatara Guru sudah kehilangan sikap kedewaannya, demikian juga istrinya, Dewi Umayi, tak lagi mengesankan sebagai perempuan terhormat di kayangan. Mereka saling memaki. Saling berteriak kasar. Sehingga kemudian akibat perbuatannya itu, Bhatara Guru dan Dewi Umayi berubah menjadi raksasa. Setelah berubah menjadi raksasa, Bhatara Guru semakin beringas. Akhirnya, keinginan Bhatara Guru itu tak mampu dibendung lagi oleh Dewi Umayi. Dewi Umayi kalah, dan Bhatara Guru pun berhasil melampiaskan keinginan nafsu birahinya itu.

 

Bhatara Kala

Hubungan seks yang brutal dan sadis itu ternyata membuahkan hasil. Dewi Umayi hamil. Setelah tiba waktunya Dewi Umayi pun melahirkan. Ternyata bayi yang dilahirkan Dewi Umayi itu berwujud bayi raksasa, yang kemudian diberi nama Bhatara Kala. Bhatara Guru dan Dewi Umaji tak bisa menolak kenyataan itu. Karena ketika hubungan suami-istri itu terjadi keduanya berubah wujud menjadi raksasa, akibat nafsu dan amarah yang tak terkendali.

Kehadiran Bhatara Kala ternyata telah membuat tatanan kehidupan di marcapada dan kayangan hancur dan porak-poranda. Kedamaian, ketenteraman, keindahan dan kedamaian di mayapada atau marcapada, dengan kehadiran Bhatara Kala mendadak sirna. Tatanan kehidupan benar-benar hancur. Persatuan hancur. Rasa kebangsaan hancur. Rasa kebersamaan dan keberagaman hancur. Sikap toleransi juga hancur. Semua dihancurkan oleh Bhatara Kala.

Demikianlah, dalam jagad pewayangan, Bhatara Kala memang merupakan tokoh atau sosok yang selalu diidentikkan dengan “zaman edan”, yaitu zaman yang penuh kesemerawutan dan kehancuran.

Nah, berhati-hatilah, jangan sampai gonjang-ganjing dan hiruk-pikuk politik di jagad apa pun memunculkan masa yang disebut “zaman edan”. Karena “zaman edan” hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin sekelas Bhatara Kala, yang justru hanya menimbulkan kekacauan dan kehancuran. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Memahami “Wayang Kulit Wong” Kraton Surakarta

Wayang Kulit Wong sebuah karya klasik empu wayang di Jaman dulu yang diorientasikan bagi pementasan. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *