Selasa , 16 Juli 2019
Beranda » Humaniora » Wartawan, Profesi yang …..
Suasana Diskusi Kebangsaan ke-20 di Bintaran Yogyakarta (27/10/18) yang diliput jurnalis media cetak maupun elektronik (ft. Ist)

Wartawan, Profesi yang …..

SAYA tidak tahu persis, apakah ini bermanfaat atau tidak bagi Anda. Semestinya saya harus yakin, ini bermanfaat. Tapi khawatir, mungkin ada yang berpendapat apa yang dikemukakan ini tidak terlalu bermanfaat, atau bahkan tidak bermanfaat. Baiklah, singkat kata, andai tidak bermanfaat, anggap saja ini sebagai sekadar sobekan kertas berisi catatan yang bisa dibuang kapan saja.

Saya sadar, tak semuanya suka dengan profesi wartawan atau jurnalis. Maaf, walau mungkin tak suka, cobalah luangkan waktu Anda sebentar saja untuk menyimaknya. Saya hanya ingin sekadar berbagi pengalaman, pengetahuan atau pemahaman yang diperoleh dari proses perjalanan kehidupan selama ini. Profesi saya sebagai wartawan atau pekerja media, ditopang pengalaman sebagai pengajar mahasiswa, sangat berperan besar dalam pengalaman dan pengetahuan tersebut.

Berprofesi sebagai wartawan, membuat saya berhubungan dengan banyak orang. Itulah asyiknya menjadi wartawan, karena akan selalu bertemu atau berhadapan dengan banyak orang, yang masing-masing memiliki sikap, karakter dan perilaku berbeda satu sama lain. Ya, bertemu dengan beragam orang, yang status sosialnya berbeda-beda. Dari pejabat tinggi sampai ketua RT. Dari jenderal sampai Linmas atau Hansip di kampung-kampung. Dari pengusaha kaya sampai pencari barang rongsokan. Dari artis top sampai pengamen jalanan. Dari perempuan terhormat, sampai (maaf) perempuan yang ‘menjual diri’.

 

Berkat Buku Psikologi

Berhadapan atau berbicara dengan banyak orang yang beragam karakter, perilaku dan status sosialnya berbeda-beda itu bukanlah hal yang mudah. Sungguh tak mudah, karena semuanya tidak bisa diperlakukan secara sama. Agar tidak menemui hambatan ketika berhadapan dengan beragam karakter, perilaku dan status sosial masing-masing orang itu, maka saya pun berusaha membaca banyak buku tentang psikologi, yang berkaitan dengan kejiwaan serta karakter manusia.

Simak juga:  Jurnalisme Menghukum (4): Membangun Opini Menyesatkan

Berkat membaca buku-buku psikologi itu, saya pun mendapat sedikit ‘ilmu’ tentang bagaimana menghadapi orang lain. Pemahaman yang tak seberapa tentang ilmu jiwa, sikap, perilaku dan karakter manusia itu, sungguh sangat membantu kelancaran pekerjaan saya sebagai wartawan ketika bertemu dengan narasumber, dan masyarakat luas dengan status sosial maupun kulturnya masing-masing.

Ternyata dari membaca buku-buku yang berkaitan dengan kejiwaan dan karakter manusia itu tidak hanya bermanfaat dalam kelancaran kerja profesi saya sebagai wartawan, tetapi juga sangat bermanfaat dalam aktivitas pergaulan dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Saya pun kemudian memiliki pemahaman tentang bagaimana cara berhadapan dengan orang yang pura-pura bersikap santun, halus, padahal sebenarnya tidak. Juga orang-orang yang tampak ramah, padahal hanya basa-basi. Orang-orang yang bergaya bersih dan jujur, tapi penuh kepalsuan. Orang-orang yang suka bicara tentang kebenaran, tapi dia penuh kebohongan. Orang-orang yang terkesan menunjukkan sikap baik, tapi sebenarnya seseorang yang munafik. Orang-orang yang mengesankan rendah hati, tapi sesungguhnya penuh keangkuhan. Dan, banyak lainnya lagi.

Nah, ada manfaat lainnya, yang saya pandang sebagai sesuatu yang sangat berharga. Saya bisa menanamkan keyakinan dalam hati, bahwa sikap, perilaku, dan karakter manusia itu memang beragam. Tapi bila kita bisa mensikapinya dengan baik, hidup tetap terasa indah.

         

Sikap Menghormati

Pelajaran berharga yang saya peroleh dari kerja menjadi wartawan adalah keharusan untuk menghormati, menghargai dan menyimak dengan seksama apa yang dikatakan oleh narasumber. Maksudnya tentu narasumber yang diwawancarai, atau siapa pun yang ditemui. Siapa pun dia, apa pun profesi dan status sosialnya. Pejabat, jenderal, lurah, pengusaha besar, pedagang kakilima, bankir, penyanyi, pensiunan, tukang pijat, penarik becak, penjual angkringan, bahkan sampai mucikari dan pelacur sekali pun. Semua harus diposisikan sama. Tak boleh dibeda-bedakan. Semua harus dihormati dan dihargai. Semua gayanya, sikap dan kata-katanya harus disimak dengan seksama.

Simak juga:  Kolomnis itu Beda dengan Jurnalis

Hal yang tak boleh dilakukan wartawan adalah membantah atau menyanggah kata-kata dari narasumber atau orang-orang yang diwawancarai. Begitulah yang dulu selalu saya lakukan. Apa pun yang dikatakan narasumber atau orang yang diwawancarai, saya dengar dan catat dengan seksama. Walaupun ucapannya tidak benar, saya tak boleh membantahnya. Bagaimana pun gaya atau tingkahnya, juga saya simak dan hadapi dengan senang hati. Saya harus tetap menunjukkan rasa senang, rasa hormat, dan penuh perhatian.

Kalau pun ingin membantahnya, saya cukup membantah dalam hati saja. “Ah, kata-katamu ngawur. Bohong. Omonganmu hebat, tapi keliru dan palsu semua,” kata-kata seperti ini misalnya, hanya saya ucap di dalam hati.

Sikap seperti itu terus terbawa dalam hidup saya. Saya selalu berusaha menaruh rasa hormat kepada siapa pun. Apakah dia orang baik atau orang jahat. Orang hebat atau sok hebat. Orang kaya atau sok kaya. Pembuat masalah atau bukan. Provokator atau bukan. Suami setia atau peselingkuh. Istri setia atau pengobral cinta, atau perempuan yang terkesan lembut, santun dan solehah, tapi……

Ya, saya harus hormat kepada siapa pun. Siapa pun dia. Karena sadar, saya sendiri pun bukanlah orang yang sempurna.

Walau tak sedikit hal pahitnya, tapi buat saya, wartawan tetap profesi yang mengasyikkan. Bila Anda tak sepakat, silakan. Anda bisa saja mengatakan yang lainnya, misalnya, “Wartawan, profesi yang………”. Silahkan pilih sendiri lanjutannya. ***  (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Tragedi Udin & Khashoggi, Kelakuan Pecundang Selalu Terulang

Ketika wartawan Harian Bernas Yogyakarta Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin (32) dianiaya seseorang di depan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *