Rabu , 20 Februari 2019
Beranda » Peristiwa » Wajah-Wajah Wartawan Dalam Drawing Si Us
Vincensius Dwimawan di Pendopo Tembi Rumah Budaya (ft. Ist)

Wajah-Wajah Wartawan Dalam Drawing Si Us

Wartawan memotret wajah orang, atau wartawan meliput pameran seni rupa, merupakan hal biasa. Bahkan bisa dikatakan itu adalah pekerjaannya. Tetapi wajah wartawan digambar oleh seorang perupa dan dipamerkan di Gallery Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, mungkin baru kali ini dilakukan.

 

Siapa wartawan itu?

Ada banyak wartawan, sekitar 70 wartawan dari berbagai usia dan tidak semua tinggal di Yogya, tetapi pernah berproses di Yogya sebagai wartawan dan sekarang tinggal di kota-kota yang berbeda, ada yang tinggal di Jakarta, Bekasi, Depok, namun kebanyakan tinggal di Yogya. Mereka tergabung dalam satu komunitas yang menamakan diri Paguyuban Wartawan Sepuh, yang disingkat menjadi PWS, dan komunikasi hariannya dilakukan melalui group WA.

Mereka datang dari media yang  berbeda, tidak hanya media cetak, tetapi termasuk  elektronik dan audiovisual. Mereka yang tergabung dalam PWS kebanyakan sudah pensiun, namun masih ada yang aktif sebagai wartawan, atau memiliki kegiatan lain, misalnya pengajar, pengacara dan lainnya.

Adalah Vincensius Dwimawan, yang akrab dipanggil Si Us. Ia berasal dari Yogya, sekolah di SMSRI  dan diteruskan semapai STSRI ‘ASRI’. Lama tinggal di Yogya, dan akhirnya merantau di Jakarta masuk di media cetak, dan menjadi koordinator artistik salah satu majalah wanita di Jakarta. Setelah pensiun, sebut saja begitu, Si Us memiliki waktu luang, dan kembali menggambar. Di antara sejumlah karya seni rupa yang dia hasilkan, dia juga membuat drawing, dengan menggambar wajah-wajah seniman Yogya, yang dia kenal.

Di antara seniman yang dia kenal, sekaligus dikenal sebagai wartawan, dan rupanya menjadi anggota komunitas PWS. Maka, Si Us meneruskan  menggambar wajah-wajah wartawan, yang menjadi anggota PWS, karena ada wartawan yang menjadi anggota PWI dan AJI, Namun ada juga  wartawan yang sekaligus menjadi anggota PWS sekaligus anggota PWI atau anggota AJI dan ikut digambar.

Tidak  semua anggota PWS digambar oleh si Us, dari 100 lebih anggota yang masuk group WA hanya 70 orang yang ikut.  Sisa dari 70 orang bukan karena tidak diajak ikut, tapi karena tidak merespon publikasi yang disampaikan melalui WA. Mungkin tidak sempat membaca sampai batas waktu yang ditentukan, yang bersedia ikut digambar Si Us 70 orang, termasuk Albert Kuhon dan Richad Napitupulu, yang kini tinggal di Jakarta, dan pernah  menjadi wartawan KR.

Simak juga:  Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Us, demikian Vincensius Dwimawan biasa dipangil, tidak semua kenal dengan wartawan yang digambar, namun ketika wajahnya digambar, karakternya keluar sehingga gambarnya menjadi ‘terasa hidup’ misalnya gambarnya Bambang Sigap Sumantri, Hariadi Saptono, Oka Kusumayudha, Krisnam dan sejumlah gambar lain. Gambar-gambar wajah wartawan yang dia kenal seperti Emha Ainun Najib, Butet Kartaredjasa, Purwadmadi, Sumbo Tinarbuko, lebih terasa hidup.

Karya drawing Si Us dipamerkan, dan tidak lama, hanya 3 hari, dari 11-13 Januari 2019. Pameran dibuka oleh Emha Ainun  Najib, seorang budayawan, ketika muda pernah menjadi wartawan di harian Masa Kini, Yogyakarta.

Pameran drawing wajah-wajah wartawan memang bukan yang utama. Anggap saja pameraan adalah upaya untuk saling bertemu antar wartawan, yang lama sudah saling tidak bertemu, tetapi pernah bersama berposes di Yogya, bahkan saling berkompetisi. Masing-masing yang digambar, mungkin saja ada yang belum saling kenal, karena usianya berbeda, atau ketika berprofesi sebagai wartawan dalam interaksi saling tidak bertemu. Melalu drawing karya Si Us mereka saling dipertemukan seolah membuka kenangan atau persahabatan yang sudah lama dijalin, dan sudah lama pula tidak saling bertemu, tetapi masih saling ingat nama.

Maka, ketika masing-masing saling bertemu, suasana akrab masih begitu terasa, dan yang belum kenal saling mengenalkan diri sambil menyebut namanya. Ketika nama disebut, rupanya masing-masing sudah saling kenal. Richard Napitupulu misalnya, yang sudah lama meninggalkan Yogya dan tinggal di Jakarta, meski tidak lagi berprofesi sebagai wartawan, tetapi pergaulan dengan wartawan Yogya seangkatannya tidak sirna. Richard, antara tahun 1977-1984 pernah menjadi wartawan KR  dan minggu pagi. Kebetulan dia sedang di Medan dan langsung ke Yogya untuk menghadiri acara pamerang drawing ‘wajah-wajah wartawan’, yang diberi tajuk ‘Wajah-Wajah Berbagi Kegembiraan’.

Simak juga:  Pameran Gonjang-ganjing Kesetiaan

Seorang wartawan lain, yang lama meninggalkan Yogya, Albert Kuhon namanya, tidak bisa hadir dalam acara pembukaan, karena masih berada di Amerika. Tetapi dua hari setelah pameran, tepatnya minggu 13 Januari 2019, setiba dia dari Amerika, dari Jakarta langsung menuju ke Yogya dan siang hari sampai di Tembi Rumah Budaya untuk melihat ‘wajahnya’ yang diigambar, sudah tentu melihat wajah-wajah yang lain. Di Tembi, Kuhon, demikian panggilannya, bertemu dengan Sutirman Eka Ardhana, sahabat lamanya ketika di Yogya. Nuranto, pemilik Tembi Rumah Budaya, sahabat Kuhon ketika di Cornel Univiversity, dan Ahmad Suroso, Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak. Suroso dan Kuhon baru kali pertama  saling bertemu.

Anggota PWS berbeda dengan anggota PWI dan AJI, yang sifatnya formal. Anggota PWS lebih bersifat paguyuban, dan tidak ada kartu anggota. Memang yang bisa masuk di paguyuban harus dicari cantelannya melalui profesi wartawan yang pernah dijalani, meski sekarang tidak lagi berprofesi sebagai wartawan. Indra Tranggono misalnya, yang dikenal sebagai cerpenis dan penulis kolom, ketika muda aktif di harian Masa Kini Yogya. Sumbo Tinarbuka, yang sekarang dikenal sebagai pengajar di ISI Yogya, pernah menjadi wartawan Minggu Pagi. Ahmad Syaify, yang sekarang menjabat sebagai Dekan FKG UGM, dulunya pernah menjadi wartawan KR dan sejumlah nama lain, semasa mudanya pernah menjadi wartawan dan sekarang memiliki profesi lain. Namun, banyak yang sampai pensiun terus berprofesi sebagai wartawan, seperti Oka Kusumayudha, sejak masih muda sampai hari ini pergulatannya dengan kewartawan tidak bisa lepas. Bambang Daulat, Arie Giyarto dan sejumlah nama lainnya.

Dan melalui drawing karya Si Us, semua saling bertemu menjaga persahabatan. Masing-masing saling berbagi kebahagiaan. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Geguritan di Sastra Bulan Purnama

Mengawali tahun 2019, Sastra Bulan Purnama edisi 88 akan meluncukan antologi geguritan yang diberi judul …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *