Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Sastra » Tiga Guru Besar Tampil di Sastra Bulan Purnama

Tiga Guru Besar Tampil di Sastra Bulan Purnama

Sastra Bulan Purnama edisi 91, yang akan diselenggarakan  Selasa  23 April 2019, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta akan diisi peluncuran buku puisi fotografi karya  Novi Indrastuti dan Harno Depe, yang berjudul ‘Tapak Jejak Peradaban’.

Kolaborasi puisi dan fotografi sudah beberapakali dilakukan oleh Novi dan Harno. Keduanya seperti tidak mau memisahkan antara puisi dan fotografi. Bagi keduanya, fotografi mempunyai suasana puitis dan puisi mengandung visual fotografis. Novi Indrastuti sehari-harinya sebagai pengajar di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan Harno Dwi Pranowo, Guru Besar UGM dan mengajar di Fakultas MIPA UGM.

Peluncuran antologi puisi ini akan menampilkan tiga guru besar, selain Harno Dwi Pranowo, akan tampil Prof.Dr  Budi Wignyosoekarto, Guru Besar UGM dan Prof.Dr. RM. Teguh Supriyanto, Guru Besar Unesa, Semarang. Tentu, Dr. Novi Indrastuti, sebagai penyair akan tampil di awal sebelum para guru besar tampil membacakan puisi karyanya.

Selain itu akan tampil membaca puisi, Armansyah Prasakti,S.Not.,M.H. seorang notaris dan dari ISI Yogya, Prima Dona Hapsari, SPd.M.Hum, seorang pegiat museum RM. Donny Surya Megananda akan ikut tampil membacakan puisi karya Novi Indrastuti.

Simak juga:  Kampus Biru di Bulan Purnama

Jadi, selain akan dibacakan tiga guru besar, puisi Novi Indrastuti akan dibacakan oleh para pembaca yang memiliki profesi berbeda.  Selain itu, beberapa puisi Novi akan digarap menjadi lagu oleh Nyoto Yoyok dan Ana Ratri. Keduanya sudah sering pentas lagu puisi, tidak hanya di Sastra Bulan Purnama, tetapi di tempat-tempat lain, termasuk di luar kota. Bagi Yoyok dan Ana Ratri, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi bisa diolah menjadi lagu, tetapi nuansa puisinya tidak hilang.

‘Setiap mengolah puisi menjadi lagu, saya berusaha menjaga agar puisinya tetap kental, dan lagunya tidak jatuh menjadi sejenis lagu pop” ujar Nyoto Yoyok.

Ons Untoro, selaku koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, Novi dan Harno, keduanya memiliki kepekaan menangkap momentum puitis, hanya keduanya berbeda dalam merespon. Harno menangkap momentum melalui kamera dan Novi menuliskannya dalam bentuk puisi.

“Momentum puitis yang ditangkap oleh Novi dan Harno, dirajut menjadi satu buku puisi-fotografi dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama ujar Ons Untoro.

Simak juga:  7 Tahun Sastra Bulan Purnama, Puisi di ‘Rumah Kita’

Sebelumnya, Harno dan Novi menerbitkan buku sejenis di tahun 2018 dan diberi judul ‘Kepundan Kasih’. Dalam buku puisi-fotografi ini, Harno menyajikan foto-foto yang obyeknya diambil diberbagai kota, tidak hanya obyek di Yogya.

“Setiap kali saya pergi memang tidak lupa membawa foto.  Setiap momentum selalu akan saya bidik dari lensa kamera” ujar Harno.

Ons Untoro menjelaskan, Sastra Bulan Purnama yang sudah berjalan lebih dari 7 tahun, selama ini memang mengutamakan peluncuran buku puisi. Penyair dari berbagai kota pernah tampil di Sastra Bulan Purnama meluncurkan buku puisi karyanya. Namun ada juga yang meluncurkan novel, seperti dilakukan Yudhistira Massardi dan Noorca Massardi, 20 Februari 2019 lalu,  kedunya meluncurkan novel dalam judul yang bebeda. (*)

Lihat Juga

Berbeda Mestinya Tidak Harus Terbelah

Seniman selalu memiliki cara untuk memotret keadaan. Kemudian menyampaikannya dalam bahasa seni yang menarik, menggelitik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *