Sabtu , 14 Desember 2019
Beranda » Event » Tiga Anak Rendra Tampil di Sastra Bulan Purnama
Clara Sinta, Rachel Saraswati dan Tedy. (ft. Ist)

Tiga Anak Rendra Tampil di Sastra Bulan Purnama

Tiga Anak Rendra, yang tinggal di kota berbeda akan tampil di Sastra Bulan Purnama 97, Rabu, 16 Oktober 2019, pkl. 19.30 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, membacakan puisi-puisi karya bapaknya. Ketiganya  ialah,  Theodorys Setya Nugroho, yang lebih dikenal dengan nama Tedy Rendra, tinggal di Bali, Clara Sinta, tinggal di Jakarta dan Rachel Saraswati, tinggal di Yogya. Anak-anak Rendra lainnya belum bisa ikut tampil membaca puisi.

“Kebetulan anak saya yang tinggal di Inggris pulang, dan sekalian saya minta membaca puisi papa yang sudah diterjemahkan, Rowan Lintang Raina Mataram nama anak saya” ujar Tedy Rendra.

Tajuk dari Sastra Bulan Purnama 97, ‘Menapaki Jejak Rendra: Anak-anak Rendra membaca puisi bapaknya”. Selain ketiga anak Rendra, Landung Simatupang, seorang aktor handal dari Yogya akan ikut membacakan puisi Rendra, dan lagu puisi karya Rendra akan dinyanyikan oleh Untung Basuki dari Yogya serta Tatyana dan Umar Muslim dari Jakarta.

Untung Basuki akan membawakan tiga lagu puisi Rendra, yang sudah lama digarapnya, dan seringkali dipentasakan di acara sastra. Ketiga lagu itu berjudul ‘Sebatang Lisong’, ‘Maju Perang’ dan ‘Mengolah Kesadaran’. Sedang Tatyana dan Umar Muslim akan membawakan lagu puisi Rendra, masing-masing berjudul: ‘Serenda Hijau’, ‘Kangen’, ‘Burung Hitam’, ‘Ibunda (Engkau adalah bumi’, ‘Kali Hitam’, ‘Stanza’ dan ‘Kenangan dan Kesepian’.

Simak juga:  Landung Simatupang Akan Membaca Puisi Darmanto Yatman di Sastra Bulan Purnama

N.Nuranto, Ketua Yayasan Rumah Budaya Tembi sekaligus pemik Tembi Rumah Budaya, melihat Rendra merupakan aset, bukan saja aset bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa. Karya-karya Rendra banyak diterbitkan, dan terus diterbitkan, dan karena itu perlu dikelola.

“Saya kira anak-anak Rendra, secara bersama perlu mengelola aset-aset Rendra, bukan hanya apa yang ditinggalkan, tetapi nama besar Rendra itu sendiri adalah aset. Mengelola untuk mengembangkan kebudayaan di Indonesia” ujar Nuranto.

Tedy, selaku anak tertua dari Rendra, dan memang sejak kecil sudah ikut bergulat kesenian melalui Bengkel Teater menyebutkan, bahwa “Menemani papa menjalani titah untuk mati adalah judul panggilan kesenimanan Bengkel Teater yang membuatku datang ke Jakarta waktu itu.

“Ternyata itu adalah pelajaran terindah tentang sikap seorang abdi dalam membela cintanya pada kedaulatan bangsa ciptaan tuannya, yang terabaikan oleh kepentingan2 penghisapan dan penjarahan hak2 bangsa kekasih Tuhan. Bangsa kekasih Tuhan yang beliau maksud itu adalah bangsa yang beliau tengarai selalu digoda dan diperdaya pengecut2, pemabuk kuasa” ujar Tedy.

Bagi Clara Sinta, Rendra adalah seorang pujangga, buah pikirannya yang dituliskan menembus waktu kedepan dengan kata-kata padat, luas dan sarat makna serta relevan sepanjang masa.

Simak juga:  Pameran Tunggal William Robert di Tembi Rumah Budaya

“Rendra, bagi saya lengkap dan penuh warna. Ia seorang guru laku hidup” ujar Clara Sinta.

Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, karya-karya Rendra sudah banyak diterbitkan, bahkan diterbitkan ulang oleh penerbit yang berbeda-beda, mungkin anak-anaknya tidak memiliki koleksi lengkap karya-karya Rendra yang sudah diterbitkan.

“Tedy sendiri tidak memiliki buku puisi bapaknya, sehingga perlu dicarikan buku puisi agar dia bisa memilih puisi mana yang akan dia baca. Mungkin Auk, panggilan Clara Sinta memiliki dokumentasi buku2 puisi Rendra” ujar Ons Untoro.

Puisi-puisi Rendra yang ditulis tahun berbeda-beda sering dibacakan dalam acara sastra oleh generasi yang berbeda, bahkan dibacakan oleh generasi mileneal yang Rendra sendiri tidak mengenalnya. Selain itu, puisinya sering menjadi bacaan wajib atau puisi pilihan dalam acara lomba baca puisi yang diselenggarakan di banyak tempat di Indonesia. Mungkin, anak-anak Rendra sendiri malah jarang tampil membacakan puisi bapaknya di depan publik, atau di acara sastra. Maka, Sastra Bulan Purnama 97, memberi ruang anak-anak Rendra untuk tampil membacakan puisi karya bapaknya. (*)

Lihat Juga

Membaca Geguritan di Sastra Bulan Purnama

Bulan purnama tidak sembunyi di balik mendung, sehingga Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan tiap bulan …

1 komentar

  1. Agustinus Andoyo Sulyantoro

    ikut senang. mudah2an sukses acaranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x