Beranda » Event » ‘Teror’ Rolland di Panggung Musik
Personil Rolland, Lugutz, Bento Jepang, Yoyok, Petrus dan Ivan. (ft. Fb Bento Jepang)

‘Teror’ Rolland di Panggung Musik

Rolland, satu group musik keras, yang selama ini tidak terdengar, kembali hadir di panggung musik. Para pemain Rolland, mungkin, merasa rindu untuk bersama lagi, dan tidak hanya sekedar untuk kumpul, tetapi kembali ‘berteriak’ di atas  panggung. Dan ‘teror’, salah satu judul lagu Rolland, yang ada di albun ‘teror’ dilantunkan oleh Petrus, seolah, Rolland sedang berusaha ‘meneror’ penggemar musik rock di Yogya.

Pukulan drum Yoyok,  petikan gitar Bento Jepang dan Ivan serta betotan bas dari Lugutz, seperti mengingatkan pertunjukan musik rock tahun 1980an, dan pada tahun-tahun itu, Rolland memang mulai eksis, bahkan bisa dikatakan salah satu group musik rock yang dengan sadar memilih heavy metal sebagai jalur yang ditempuh.

            “Kita akan terus ada di jalur metal” kata Petrus, vokalis Rolland pada waktu itu, sekitar pertengatan tahun 1985.

Bersama Sanggar Pelangi Yogya, Rolland dipertengahan tahun 1980-an sering mengisi panggung musik. Tidak hanya di Yogya, tetapi juga di kota-kota lain. Seolah, pada waktu itu, melalui metal, Rolland akan mengguncang jagat musik rock di Indonesia.

Setelah lama tak terdengar, lebih-lebih panggung musik rock tidak seramai seperti tahun 1980-an, Rolland bisa dikatakan tidak lagi terdengar, tetapi bukan berarti dilupakan oleh publik. Masing-masing personilnya memiliki kesibukan yang berbeda, dan tidak bersentuhan dengan musik rock. Bahakan Bento Jepang memiliki aktivitas politik praktis, yakni sebagai anggota DPRD Kota Yogyakarta.

            Apakah Rolland dilupakan oleh pecinta musik rock di Yogya?

Bagi pecinta musik rock di Yogya, nama Rolland rupanya tidak dilupakan. Setelah 35 tahun absen dari pangung, group musik rock yang mengusung heavy metal kembali pentas, Sabtu 23 Februari 2019 di panggung Kampanyo QT Square, jl. Veteran 150-151, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta.

Formasinya masih lengkap, Petrus sebagai vokal, Bento Jepang memetik gitar, Yoyok menabuh drum, Lugutz pada bas dan Ivan pada gitar. Tentu, penampilannya sudah berbeda dibandingkan awal mereka pentas tahun 1984. Para personilnya masih muda, bahkan Petrus sebagai vokal masih bersatus sebagai mahasiswa. Sebagai vokal, kostum yang digunakan Petrus, pada waktu itu masih sederhana, yakni menggunakan celana training, laiknya mau olah raga.

Simak juga:  Kisah Kopi Dari Mintaraga Pakasi Di Antara Puisi dan Musik

Rolland, pada waktu kelahirannya memang mengacu pada Judast Priest, dan ‘aliran’ metal menjadi rujukan pokok setiap kali pentas. Selama pertengahan tahun 1980, setidaknya dimulai tahun 1984, Rolland sering melakukan pentas, dan saya sering mengikuti di mana mereka pentas. Semangat para pemain Rolland, pada waktu itu memang luar biasa. Semangatnya sungguh metal, lengkingan suara petrus sangat kuat, seolah seperti hendak merobohkan panggung.

Penampilan para personil Rolland, sebagai group band anak pada pada waktu itu, bisa saling mengisi dan kompak, meskipun, saat itu terlihat bahwa Petrus seperti sedikit dominan, mungkin karena sebagai vokal  seolah merasa ‘menentukan’ warna group. Padahal, dalam group musik semua saling mengisi, tak ada yang lebih unggul yang satu dari yang lain, justru karena saling mengisi, group musik menjadi bertahan lama.

Sebagai group musik, Rolland telah melahirkan beberapa album, di antaranya Gigolo dan Teror. Di tahun 1980-an, Rolland seperti menjadi tanda dari group musik rock di Yogya, setelah era 1970-an mulai mengendor. Sebelum Rolland group musik ‘Ambisi’ menjadi tanda dari musik rock di Yogya.

Rupanya, setelah lama tidak terdengar, Rolland tidak hilang, kelompok ini masih ada, meskipun tidak lagi mengisi panggung-panggung musik rock. Setelah 35 tahun, Rolland kembali tampil. Untuk mengingatkan pada publik akan Rolland, tajuk dari pertunjukkan disebut sebagai Rolland Reborn.

Penampilannya setelah 35 tahun, hampir-hampir tidak berkurang semangatnya. Para personil usianya sudah tidak lagi muda, dan sudah ada yang memiliki cucu, tetapi semangat tidak kendor. Yoyok masih ketus dalam memukul drum, dan Petrus masih kenceng suaranya, seolah masih seperti ketika kala muda.

Simak juga:  Puisi, Musik dan Kopi di Tembi

            “Kita tidak akan pernah berhenti dari musik rock” kata Petrus sangat yakin.

Rupanya, penggemar Rolland masih cukup banyak, sehingga penampilannya dihadiri oleh para penggemar musik rock, yang dulu, barangkali fans Rolland. Ketika penampil awal dari group musik yang lebih muda mengisi panggung, dan beberapa group saling berganti, pengunjung ada yang berteriak.

            “Rolland, Rolland”

Padahal Rolland akan mulai pentas sekitar pukul 22. Sejak pukul 20,.00 group musik lain sudah pada tampil dan saling berganti group.

            “Sudah selesai groupmu” tanya saya pada Bento Jepang gitaris Rolland, ketika saya datang menunjuk pukul 21.00.

            “Belum,nanti jam 22.00 baru main” jawab Bento Jepang.

Dan ketika Rolland tampil di panggung, pengunjung ada yang mulai berdiri di dekat panggung, seolah tidak ingin jauh dari Rolland. Lagu demi lagu, dengan irama keras, dibawakan oleh Petrus sebagai vokalis, dan pengunjung ikut menyanyi, sehingga terlihat Petrus nampak ‘ektase’.

Tidak ketinggalan, lagu dalam albumnya, ‘Gigolo’ dan ‘Teror’ dibawakan oleh Petrus, hadirin ikut menyanyikan. Rupanya, sudah sekian puluh tahun yang lalu,. Lagu-lagu Rolland masih dihafal, bukan hanya oleh Petrus sebagai vokalis Rolland, tetapi oleh para penggemarnya.

Di era serba digital ini, kita tahu setiap orang bisa memiliki perangkat HP yang terkoneksi dengan jaringan internet, orang bisa selfi dengan pemain musik secara langsung, seperti dilakukan Bento Jepang, ketika sambil memetik gitar dia melayani seseorang selfi bersamanya. Rasanya, ini sebuah pertunjukan yang akrab dengan penonton, satu hal yang tidak mungkin dilakukan pada pertunjukan tahun 1980-an.

Dari pertunjukkan perdana setelah lama tidak mengisi panggung, mudah2an Rolland membawa kesegaran dalam pertunjukkan, dan bersedia merespon dinamika jaman, sehingga tidak asyik terhadap dirinya. Karena di era digital, publik mudah berubah seleranya. (*)

Lihat Juga

Cerpen dan Puisi Bersentuhan Musik di Tembi

Sastra Bulan Purnama selama ini memang banyak diisi pembacaan puisi dan musikalisasi puisi, tetapi bukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *