Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Peristiwa » Derap Kebangsaan XXV: Terjebak Pusaran Minat Baca
Esti Susilarti. (ft. Ist)

Derap Kebangsaan XXV: Terjebak Pusaran Minat Baca

Suka tidak suka, mau tidak mau, ‘awak’ media massa harus mengikuti perubahan (atau perkembangan?) zaman dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi. Saat ini, tanpa dapat kita sangkal, masuk pada Era Industri 4.0 atau Four Point Zero. Suatu zaman yang serba ‘tersambung’ atau online melalui perangkat internet yang sangat dinamis.

Suatu zaman yang membuat masyarakat ‘terbelalak kaget’ – bahkan kemudian gamang, ketika media mainstream atau media konvensional yang selama ini dikenal ‘mapan’ oleh generasi babby boomer, harus berpacu dengan generasi baru yang penuh dinamika. Ada perbedaan teknologi yang serba cepat. Semua ini menuntut kesiapan perubahan. Menantang para kalangan ‘zaman kolonial’ untuk beradu cepat dengan kalangan milenial.

Kegelisahan itulah yang melatarbelakangi Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) untuk mengangkat dalam diskusi rutin ‘Derap Kebangsaan’ ke-25 yang bertema ‘Tantangan Media Mainstream, pada Era Industri 4.0’. Diskusi dimaksudkan untuk mencari solusi bagaimana menjawab tantangan tersebut, agar media massa mainstream tetap eksis di zaman baru yang memiliki persaingan ketat. Sebab pada era industri ini, ‘ruh’ media mainstream atau media arus utama: media cetak (koran, majalah), televsisi, radio – yang keberadaanya melalui proses perizinan ketat dari pemerintah, kini harus bersaing bebas dengan media baru yang seolah longgar dari peraturan. Meski dalam kenyataannya, tetap ada pagar hukum yang harus dipatuhi.

Hal istimewa dari diskusi Derap Kebangsaan adalah selalu mendasarkan pada konsep kebangsaan. Setiap fenomena, harus dibahas beranjak dan bersimpul pada sendi kebangsaan. Pola pikir kebangsaan menjadi benang merah yang alur perekat dari semua sudut pandang yang disampaikan oleh para nara sumber diskusi, maupun para penanggap – sebagai esensi suatu diskusi yang sudah sewajarnya menghadirkan perdebatan pro dan kontra.

Sudut pandang kebangsaan, dapat kita runut ulang melalui sejarah pers Indonesia. Kehadiran semua media massa di Indonesia berawal dari tujuan untuk berjuang agar Indonesia merdeka dari belenggu penjajahan kolonialisme. Hidup berdaulat sebagai bangsa mandiri yang bermartabat. Jadi, sebenarnyalah media massa atau pers, adalah alat perjuangan. Tentu saja yang dapat menjalankan ‘alat perjuangan’ adalah para pejuang – sebagai kalangan orang yang strategis untuk mencapai hal-hal idealis. Bukan/tidak baur dan kabur dengan tujuan ekonomis apalagi kapitalis.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Kembali ke Musyawarah Mufakat

Ketika Negara Kesatuan Republik Indone-sia (NKRI) telah lahir dan terselenggara, lambat laun media massa pun ‘terperangkap’ dalam era bisnis yang sangat menggiurkan. Menjadi industri dalam jebakan kapitalisme yang sangat ‘liar’ untuk mendapatkan laba sebanyak-banyaknya sebagaimana hukum ekonomi: modal sekecil-kecilnya, untuk untung sebesar-besarnya. Media massa mainstream pun berubah menjadi ‘pohon uang’ yang tumbuh subur. Muncul jargon: siapa yang mampu memiliki media, akan menguasai dunia. Bermunculanlah para Raja Media, yang kaya raya dan ‘berkuasa’ atas penyebaran informasi, karena media massa memiliki kekuatan melakukan/meletakkan kerangka informasi (news framing).

Pers/media di Indonesia lahir sebagai alat perjuangan yang dikendalikan oleh pejuang ini, ditegaskan Drs H Idham Samawi, merupakan sejarah yang dapat digunakan sebagai ‘modal eksistensi’ media mainstream (media arus utama) sepanjang masa. Sebab tetap akan melekat dan terikat pada Kaidah Jurnalistik dan serangkaian pagar perundangan yang akan terkait bagaikan mata rantai dengan persoalan kepatuhan pada etika dan moralitas.

Oleh karena itu, media arus utama harus menyadari sekalipun masuk pusaran Zaman 4.0 – tetaplah tidak dapat bebas sebebas-bebasnya atau bebas nilai. Harus disadari, justru kesadaran tidak bebas nilai inilah yang akan menjadikan media arus utama tetap akan eksis. Khalayak/publik yang kini memiliki kebebasan memilih dan memilah, akan kembali pada media yang trustable berkat akurasi. Tetap berpegang pada Kaidah Jurnalistik – yang notabene banyak dilupakan oleh para penyelenggara media baru – akan memperpanjang eksistenssi media arus utama. Bahwa harus menyesuaikan dengan persoalan ruang dan waktu, merupakan konsekuensi logis.

Haruskah berubah dari cetak atau elektro-nik ke digitalis? Memang masih menjadi perdebatan panjang. Tetapi mengingat semua orang telah menyambut baik dan secara tidak sadar masuk pada zaman ‘Homo Digitalis’ – agaknya menyesuaikan peradaban ruang dan waktu melalui kehadiran media digital, merupakan hal yang masuk nalar. Namun jika hendak bertahan pada ‘ruang dan waktu’ yang selama ini telah dinilai mapan, pastilah memiliki konsekuensi nalar dan pertanggungjawaban yang khusus. Dr Imam Anshori Saleh, SH, M.Hum melihat persoalan menghantar (delivery) koran ke rumah pelanggan, atau menonton televisi sembari duduk di ruang keluarga, merupakan ‘ruang dan waktu’  yang harus dirasionalisasi.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Meski demikian, media arus utama boleh tetap optimis asal mampu beradaptasi dan bangkit (menunjukkan kemampuan) dari objek ke subjek. Media arus utama menjadi gamang pada perubahan karena selama ini ikut arus menjadi objek Zaman 4.0 yang sebenarnya persoalan global berasal dari Eropa. Yakni seolah menyerahkan diri pada pusaran sebagai bangsa yang menyerahkan diri sehingga hanya sebagai objek tanpa daya menjadi subjek. Dr. Sugeng Bayu Wahyono M.Si, mempertanyakan: apakah selama ini, bangsa Indonesia atau khususnya awak media arus utama, telah membangun modal dasar berupa literasi atau masyarakat yang memiliki ketergantungan membaca – atau bahkan kecanduan membaca? Hal itu dapat ditunjukkan pada tingkat minat baca: rendah, sedang, tinggi?

Andai kita memiliki ‘modal sejarah’ yakni media massa sebagai alat perjuangan yang selalu berpegang pada etika dan ‘modal sosial’ yakni minat baca yang tinggi, maka kepanikan terhadap hadirnya era industri 4.0 tidak akan terjadi. Sebab yang terjadi hanyalah perubahan ruang dan waktu. Tetap eksis sebagai media arus utama karena akan selalu dicari (sebagai kebutuhan) oleh publik yang menjadi subjek berbekal minat baca dan membaca informasi dari media arus utama yang tersaji dalam koridor akurasi dan etika — sebagai kebutuhan primer hidup, seperti hanya sandang, pangan dan papan.

Kritis yang muncul dari diskusi ini adalah mempertanyakan apakah selama ini bangsa Indonesia telah menjadi masyarakat pembaca dan pembelajar yang baik? Jika belum menjadi masyararakat yang berminat baca tinggi, harus jujur dihadapi: media arus utama memilki tantangan dahsyat dan serius terkait dengan eksistensi di era industri 4.0. Akan tetapi, jika masyarakat kita telah menjadi masyarakat pembelajar dan pembaca – tak perlu panik berlebihan, karena media arus utama akan tetap menjadi subjek.

Publik Indonesia saat ini memang terjebak pada pusaran minat baca. Jika bangsa Indonesia telah memiliki modal sosial berupa minat baca yang tinggi dan memiliki ketergantungan pada produk informasi dan literasi, berarti tidak hanya eksis pada era 4.0. Namun telah siap masuk era industri 5.0 – yang di Asia telah dimulai di Jepang. ***

Esti Susilarti      

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Pancasila, NKRI dan UUD 1945 Itu Sudah Syar’i

DRS. HM IMAM AZIZ, KETUA PB NU TERIMAKASIH kesempatan yang diberikan kepada saya untuk silaturahim …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *