Sabtu , 14 Desember 2019
Beranda » Humaniora » Derap Kebangsaan XXV: Tenggelamnya Media Arus Utama
Ons Untoro (ft. Ist)

Derap Kebangsaan XXV: Tenggelamnya Media Arus Utama

Kemajuan teknologi Informasi tak bisa dihindari sekaligus membawa perubahan pada media. Apa yang sebelumnya kita kenal sebagai media arus utama kini seperti didesak oleh media digital, yang begitu cepat berubah. Namun keduanya masih menggunakan bahan baku yang sama, yakni informasi. Yang menjadi pertanyaan: Apakah media arus utama akan hilang digantikan oleh media digital? Mencoba memahami persoalan media di tengah kemajuan teknologi yang terus melaju, Peguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, menye-lenggarakan satu seri diskusi, yang kali ini diberi tajuk ‘Derap Kebangsaan’ kelanjutan dari Diskusi Kebangsaan. Seri Diskusi putaran ke 25 ini me-nyajikan tema “Tantangan Media Mainstream Di Era Indsutri 4.0” dengan menghadirkan narasumber Drs. Idham Samawi, Anggota DPR-MPR RI, Dr. Imam Anshori Saleh, SH.MH., Pemimpin Redaksi Senayan Post dan Dr. Sugeng Bayu Wahyono, M.Si., Sosiolog, pengajar di Universitas Negeri Yogyakarta. Diskusi diselenggarakan, Sabtu, 30 Maret 2019 di Joglo Cangkir 6, Bintaran Tengah 16, Yogyakarta.

Kita tahu, kehadiran media on line dan media sosial seperti terus mende-sak eksistensi media cetak, Sejumlah media cetak di beberapa kota sudah tidak lagi terbit, dan berpindah pada media on line. Di era tekonologi digital ini semua media cetak, termasuk media audio dan audio visual memiliki media on line. Bahkan media besar mengelola beberapa jenis media selain media cetak, televisi dan media on line, dan membagi beritanya melalui media sosial.

Informasi yang menjadi bahan baku media, memiliki karakter yang berbeda, selain banjir informasi tak bisa dihindari, usia informasi sangat pendek. Pada media cetak, usia informasi satu hari, dan pada media audio visual usia informasi bisa bersifat hitungan jam, tetapi pada media on line dan media sosial, informasi berubah dalam setiap detik. Dalam situasi informasi yang cepat berubah, orang tidak lagi bisa membedakan, apakah informasi yang diterima adalah informasi yang benar atau hanya ilusi. Maka, di era media digital kita mengenal apa yang disebut sebagai hoax.

 

Media arus utama dan media on line

Dalam era industri 4.0 kita tidak bisa menghindari kehadiran media on line, bahkan media arus utama selain menerbitkan versi cetak juga menyediakan media on line. Ini artinya media cetak merespon kemajuan teknologi dan menyadari bahwa perubahan informasi sangat cepat, sehingga perlu ditanggapi secara cepat pula. Namun, dalam kerja jurnalistik tidak boleh mengabaikan apa yang dikenal sebagai re-check, verifikasi. Maka, melalui media cetak, para jurnalis menjaga pola kerja kewarta-wanan agar tidak tenggelam di tengah banjir informasi sehingga tidak lagi bisa membedakan antara informasi dan opini atau malah gosip.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Idham Samawi selaku anggota DPR RI, melihat kemajuan teknologi tidak bisa dilepaskan dari dasar negara yang telah kita miliki. Kehadiran media baru, yang disebut sebagai media digital, selain media arus utama, tidak bisa meninggalkan lima sila yang sudah kita mililki.

Jadi, di tengah media yang terus berubah, dalam konteks berbangsa dan bernegara kita harus berpijak pada dasar negara dan UUD ‘45” ujar Idham Samawi.

Bayu Wahyono sebagai narasumber menyadari bentuk perubahan media dengan kehadiran teknologi. Ia bukan hanya melihat hadirnya media on line, tetapi juga kehadiran media sosial. Kita simak apa yang dia katakan:

Simak juga:  KEPEMIMPINAN DALAM DEMOKRASI PANCASILA 'Membentuk Pribadi Yang Utuh'

“…kemunculan media baru melahir-kan apa yang disebut sebagai media sosial dengan berbagai platform, seperti WhatsApp (WA), facebook, instagram, twitter, dan linkedin. Berbeda dengan media arus utama yang memerlukan institusi baik secara bisnis maupun redaksional, media sosial ini tidak perlu itu semua karena dapat dilakukan secara individual melalui pemanfaatan berbagai platform tersebut. Repotnya, meskipun secara teknologis bisa dila-kukan, tetapi khusus di Indonesia tidak satu pun kekuatan yang bisa mem-bendung praktik komunikasi publik melalui medsos tersebut. Kemungkinan-kemungkinan ini yang kemudian menimbulkan persoalan kehidupan demokrasi yang berisiko terhadap kebangsaan”.

Kehadiran industri 4.0 menghadir-kan hal-hal yang mengejutkan pada kita, bukan hanya kehadiran media digital, melaikan juga melahirkan profesi baru, yang dulu tidak kita kenal, atau bahkan sama sekali kita bayangkan, setidaknya seperti dikatakan Imam Anshori Saleh:

“Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of/for Things, kehadirannya begitu cepat. Banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba muncul dan menjadi inovasi baru, serta membuka lahan bisnis yang sangat besar. Munculnya transportasi dengan sistem ride-sharing seperti Go-jek, Uber, dan Grab. Revolusi Industri 4.0 memang menghadirkan usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Entah berapa ratus ribu orang yang terserap oleh usaha transportasi itu, meski juga menyurutkan bisnis transportasi konvensional”.

Kita tahu di tengah lajunya teknologi dan tak bisa menghindari kehadiran media digital dalam berbagai bentuk. Media arus utama tidak bisa tinggal diam. Ia juga harus masuk di arus digi-tal, tanpa perlu meninggalkan media arus utama, sejauh media konvensional tersebut bisa dijaga kelangsungan hidupnya. Dan tentu saja secara bisnis menguntungkan. Dalam konteks ini Imam Anshori Saleh menegaskan:

Media massa pun tak bisa berdiam diri dengan mempertahankan sajian dan pengelolaan model konvensional. Media massa cetak, radio, dan televisi tetap ada, tapi perusahaan pers juga menambah divisinya untuk menjangkau pembaca millennial via internet. Para pengusaha pers rame-rame membuat versi online, Muncullah berbagi portal dotcom, seperti Kompas.com. Tempo.co, metro.com, liputan6.com. Detik.com dibeli grupnya Chairul Tanjung, Grup ini juga membuat CNNIndonesiaa.com dan CNBCIndonesia.com. Di daerah-daerah juga muncul KR, Bernas, Jawa Pos dan lainnya di berbagai daerah lainnya versi online. Saya sendiri bersama beberapa kawan juga membuat senayanpost.com, walaupun belum terlalu serius”.

Persis seperti apa yang disampaikan Imam Anshori Saleh, di era digital ini kita bisa menemukan aktivitas baru, yang sama sekali tidak kita bayangkan sebelulmya. Orang bisa mempunyai aktivitas sekaligus profesi yang disebut sebagai youtuber misalnya, dan setiap orang bisa menjalani aktivitas menulis tanpa memerlukan media cetak, tetapi melalui blog atau media sosial lainnya bisa menyampaikan informasi yang dia peroleh pada saat itu.

Peristiwa yang terjadi, tidak hanya di lokal setempat, bahkan di luar negeri, dalam relatif cepat kita akan segera tahu, misalnya ada bom meledak di Sri Langka, beberapa menit setelah peristiwa itu orang di manapun segera tahu. Tidak perlu menuggu hitungan hari. Ketika di Lombok, Nusa Tenggara Barat dilanda tsunami, orang dengan segera menadapat informasi melalui media digital.

Pendek kata, seperti dikatakan Anthony Gidden, media digital mende-katkan jarak. Ruang seolah seperti saling merapat, sehingga di lokasi yang berbeda-beda, kita mendengar peristiwa yang sama, bahkan pada jam yang sama.

Simak juga:  Cacat

Kisah yang masih aktual, dan hangat dalam ingatan kita adalah Pilpres dan Pileg 17 April 2019, yang sebelumnya diawali dengan kampanye. Proses kampanye ini mudah sekali kita ikuti melalui media digital, baik berupa siaran langsung melalui facebook misalnya, atau melalui media sosial yang lain. Gegap gempita kampanye berikut riuh rendah dan kegembiraan pada peserta kampanye bisa kita ikuti melalui media sosial.

Dan puncaknya, ketika coblosan sudah dilakukan sejak mulai pagi hari sampai siang hari. Setelah jam 15.00 kita bisa mengikuti hasil quick count siapa calon presiden yang mendapatkan suara terbanyak. Satu hal yang tidak mungkin kita peroleh ketika media digital belum masuk di negeri kita.

Di sisi yang lain, era digital tidak putus-putus terus memberikan tawaran belanja aneka barang, termasuk makanan, yang bisa langsung diantar sampai depan pintu rumah, tidak perlu keluar rumah untuk mengam-bil barang. Hidup diajari untuk menjadi konsumtif, karena semua hal dimudahkan. Berbagai macam tawaran yang terus menerus seperti itu, membuat hidup terasa menjenuhkan, sehingga ketika ada informasi lain, segera dilahap meskipun belum tentu benar, dan hoax seolah bentuk lain dari informasi yang benar. Kita tahu, hoax yang disebar secara masif seperti menghentak akal sehat kita sekaligus membuat kita ragu terhadap kredibilitas media massa, setidaknya seperti apa yang dikatakan Dr. Haryatmoko dalam tulisannya yang berjudul “Era Post-Truth Mengintensifkan Prasangka Negatif, Emosi Sosial dan Populisme Agama”. Kita kutipkan apa yang dia katakan:

“Fenomena hoax yang massif me-nyeruak menyebar menghentak akal sehat masyarakat dan dunia politik. Di satu sisi, banyak orang dibuat skeptis terhadap kredibilitas media massa, namun di sisi lain, hoax menunjukkan bahwa masyarakat justru mudah percaya pada beragam informasi media sosial. Masyarakat dikondisikan untuk mengabaikan verifikasi kebenaran. Kredibilitas berita, pesan atau opini sering sudah tidak dipertanyakan lagi. Kebohongan menyelinap masuk dengan mudah melalui kebingungan orang dalam membedakan antara berita, opini, fakta dan analisis. Akibatnya, di dalam masyarakat Indonesia yang sudah terpolarisasi oleh ideologi, ketegangan dan konflik semakin mudah dipicu”.

 

Kiranya kita tahu, anak-anak mileneal tidak lagi seperti generasi sebelumnya yang dimanjakan oleh media cetak, sehingga pada pagi hari minum kopi sambil membaca surat kabar mencari informasi atas peristiwa pada hari itu sekaligus mencoba untuk mencari tahu perkembangan dunia. Tetapi generasi milenal, melalui media digital, tidak hanya pagi hari, tengah malam, sambil minum kopi di kafe, bisa menelusuri jejak informasi dan perkembangan dunia. Anak-anak muda milenal ini sudah meninggalkan media cetak atau jenis media arus utama lainnya, bahkan bagi anak-anak mileneal, media arus utama dianggap sudah tenggelam. Sudah menjadi masa lalu. Media digital adalah jalan yang ditempuh anak-anak mileneal. Mereka (di)tenggelam(kan) arus informasi, sampai tidak lagi bisa memilah antara informasi, opini, hoax, gosip semuanya dikonsumsi.

Pendek kata, media digital, mengubah hidup kita. Tanpa kita mengubah cara berpikir kita, rasanya kita akan ditinggalkan dan dianggap sebagai manusia purba. (*)

Lihat Juga

Jadikan Media Sebagai Arena Perang Hancurkan Hoax

KITA bicarakan lagi perihal berita atau informasi hoax yang beberapa tahun terakhir ini telah merusak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x