Jumat , 22 November 2019
Beranda » Humaniora » Tehnik Mengarang Menurut Mochtar Lubis, S. Tasrif dan Badaruzzaman

Tehnik Mengarang Menurut Mochtar Lubis, S. Tasrif dan Badaruzzaman

SAYA memang penyuka buku-buku lama. Kalau berkunjung ke suatu kota, biasanya yang tidak boleh dilewatkan adalah mendatangi kios-kios tempat penjualan buku-buku lama atau buku-buku bekas.

Memiliki buku-buku lama, dan tentu saja membacanya, sungguh memiliki keasyikan tersendiri. Ada rasa senang dan bahagia yang tak terhingga. Dan, salah satu buku lama yang saya miliki, buku “Tehnik Mengarang” yang disusun Mochtar Lubis. Buku ini terbitan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1950. Karena diterbitkan di tahun 1950, ejaannya masih menggunakan ejaan lama, ejaan yang berlaku di masa itu.

Buat saya yang kebetulan menyukai dunia kepenulisan, buku ini tentu sangat memiliki arti yang penting. Betapa tidak. Judulnya “Tehnik Mengarang” saja sudah menggoda saya. Kemudian nama penyusunnya, Mochtar Lubis, merupakan sosok yang saya kagumi dan banggakan. Ya, Mochtar Lubis, bukan saja penulis dan pengarang besar yang dimiliki negeri ini, tapi juga seorang tokoh pers yang disegani dan berkualitas.

Pendapat Pengarang Ternama

Buku “Tehnik Mengarang” ini menghimpun pendapat beberapa pengarang ternama, yang menoreh nama besar dalam dunia kepenulisan atau kepengarangan Indonesia masa itu.

Selain ada pendapat atau tulisan tentang tehnik mengarang dari Mochtar Lubis sebagai penyusun buku, buku ini juga menghimpun tulisan dari Badaruzzaman, S. Tasrif, Utuy T. Sontani, dan Achdiat K. Mihardja.

Badaruzzaman, yang nama aslinya M. Dimyati, seorang cerpenis terkemuka di masa itu di dalam buku ini mengatakan tentang pentingnya kepercayaan diri setiap orang yang ingin menjadi penulis atau pengarang.

Simak juga:  Menulis atau Mati

Menurutnya, bila orang merasa dirinya benar-benar menaruh minat dalam dunia karang mengarang, dan bila orang merasai bahwa dalam jiwanya betul mendebur darah seni sastra, maka baiklah ia meneruskan usahanya belajar karang mengarang.

Dan hendaklah, tulisnya lagi, mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, sanggup belajar sendiri dan mengatasi segala kesukaran dengan hati teguh, belajar berpikir sendiri.

 

Jangan Hanya Ikut-ikutan

Mochtar Lubis di dalam tulisannya menegaskan, orang hanya mengarang, jika ada sesuatu di dalam jiwanya yang mendesak-desak, memaksanya mengambil pena, potlot, atau mesin ketik, dan kertas, dan menulis.

Menurutnya, jika orang hendak mengarang, karena hendak ikut-ikutan saja, karena ingin meniru, karena ingin hendak terkenal dan termashur, maka orang yang demikian telah pastilah dari semula dia tidak akan berhasil menjadi pengarang.

Seorang pengarang, lanjut Mochtar Lubis, adalah seorang seniman. Sebagaimana juga seorang pelukis, jika hendak menjadi pelukis yang besar, haruslah pertama-tama menguasai sepenuh-penuhnya tehnik melukis, seperti anatomi, cat-cat, dan sebagainya. Maka tiap-tiap pengarang, tidak boleh tidak, haruslah sebaik-baiknya mempelajari bahasa yang dipakainya untuk mengarang. Jika pengarang tidak menguasai bahasa, maka janganlah mengharap pengarang akan bisa mengarang. Jika pengarang telah menguasai bahasa sepenuh-penuhnya, barulah pengarang bisa mengadakan eksperimen-eksperimen sendiri dengan susunan bahasa-bahasa, pemakaian kata-kata, dan sebagainya.

 

Cerpen Harus Punya Dasar

Simak juga:  Perkampungan atau Desa Menyimpan Ide-ide Penulisan

S. Tasrif, salah seorang tokoh pers di masa itu, cerpenis, dan kemudian dikenal pula sebagai seorang advokat terkemuka di buku ini bicara “Beberapa Hal tentang Cerita Pendek”.

Menurut S. Tasrif, suatu cerita pendek harus mempunyai theme atau dasar. Dan dasar inilah yang paling penting dari seluruh cerita, karena sesuatu cerita yang tidak mempunyai dasar tidak ada artinya sama sekali atau tidak berguna.

Dasar itu, katanya, adalah tujuan dari cerita pendek itu. Dengan dasar ini pengarang dapat melukiskan watak-watak dari orang yang diceritakan dalam cerita pendek itu dengan maksud yang tertentu, demikian juga segala kejadian yang dirangkaikan berputar kepada dasar ini. Si pengarang tidak usah menjelaskan dasar ini, akan tetapi ini harus terasa dalam seluruh ceritanya.

Dasar sesuatu cerita, jelas S. Tasrif, dapat dilukiskan dengan satu kalimat saja. Yang tradisional misalnya: 1. Kejahatan awal, akhir-akhirnya akan dapat hukuman. 2. Cinta terhadap tanah lebih penting dari harta benda atau kedudukan. 3. Cinta akan mengatasi segala kesulitan. 4. Jika orang sudah kehilangan semua, baru teringat kembali kepada Tuhan, dan lain-lain.

Masih banyak pendapat menarik lainnya tentang “Tehnik Mengarang” itu yang tak sempat saya kutip sebagian di sini. Ya, pendapat-pendapat cemerlang dari pengarang-pengarang terkemuka lainnya, Utuy T. Sontani dan Achdiat K. Mihardja. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (1/11/2019)

Lihat Juga

Cerita Dongeng Harus Sampaikan Nilai-nilai Positif kepada Anak-anak

GARA-GARA mengikuti Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng, Sabtu 2 November lalu, saya pun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x