Jumat , 22 November 2019
Beranda » Sastra » Tedy Rendra Membaca Puisi Si Burung Merak
Tedi Rendra. (ft. Ist)

Tedy Rendra Membaca Puisi Si Burung Merak

Puisi Rendra, yang ditulis tahun yang berbeda-beda, termasuk puisi yang ditulis tahun 1950-an seringkali dibacakan oleh generasi yang berbeda-beda, termasuk generasi muda yang usia masih belasan tahun, atau malah anak-anak SMP dan SMA pada saat lomba baca puisi, dan memilih puisi Rendra sebagai puisi wajib. Ini kali anak Rendra, yang dikenal dengan nama Tedy Rendra tampil membacakan puisi ayahnya di Sastra Bulan Purnama.

Namanya Theydorus Setyo Nugroho, anak sulung Rendra, yang dikenal dengan sebutan si Burung Merak. Ia lebih akrab dipanggil Tedy, makanya sering dikenal sebagai Tedy Rendra. Sekarang tinggal di Bali. Sebagai anak sulung Rendra, seorang penyair dan dramawan terkenal di Indonesia, meskipun Tedy tidak produktif menulis puisi, tetapi  ‘mengikuti jejak’ dalam membaca puisi. Setidaknya sesekali dia tampil membaca puisi Rendra.

Beberapa hari lalu, tepatnya dalam Sastra Bulan Purnama edisi 97, yang diselenggarakan Rabu 16 Oktober 2019 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, Tedy membacakan beberapa puisi Rendra. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Rambut putihnya yang panjang dibiarkan tergerai di pundaknya.

Beberapa minggu, atau mingkin dua bulan sebelulmnya Tedy mencoba mencari puisi-puisi Rendra yang akan dia bacakan. Dia akan memilih puisi-puisi yang ditulis Rendra, yang jumlahnya tidak sedikit, dan ditulis dalam tahun yang berbeda-beda, termasuk puisi yang ditulis Rendra ketika masih bujang. Tedy mencari-cari buku puisi Rendra, yang tampaknya dia tidak memiliki koleksi.

Simak juga:  Puisi dari Guru dan Dosen di Sastra Bulan Purnama

“Ons, aku tolong kirimi  buku puisi papaku” Tedy memberi pesan melalui WA.

Satu buku puisi, yang diberi judul Empat ‘Kumpulann Sajak’ saya kirim ke Bali, supaya Tedy bisa memilih puisi Rendra yang akan dibacakan di Sastra Bulan Purnama. Rupanya, di Bali dia memang mencoba memilih puisi-puisi Rendra dari buku itu, Selain itu, ketika sampai di Tembi, dia meminta saya untuk mencarikan puisi-puisi cinta.

Salah satunya, Tedy memilih puisi yang berjudul ‘Surat Cinta’. Puisi ini ditulis Rendra untuk (calon) istrinya, Sunarti Suwandi, yang kemudian menjadi istri Rendra, dan dikenal dengan nama Narti Rendra.

“Saya akan membaca puisi, karya papaku, yang  membuat aku ada. Tanpa puisi ini, mungkin saya tidak lahir” kata Tedy mengawali, dan kemudian membacakan puisi ‘Surat Cinta’. Puisinya cukup panjang, kita kutipkan satu alinea yang terdiri dari 6 baris puisi tersebut:

 

                        “Kutulis surat ini
                          kala hujan gerimis
                          bagai bunyi tambur maina
                          anak-anak peri dunia yang gaib.
                          Dan angin mendesah.
                          Wahai, dik Narti
                          aku cinta padamu!”

 

Simak juga:  Wicahyanti dan Resmiyati Tampil di Sastra Bulan Purnama

Meskipun berbeda dari Rendra, namun Tedy cukup menarik dalam membaca puisi, dan tidak harus meniru Rendra dalam membaca puisi. Tedy memang mempunyai gaya sendiri. 5 Puisi karya Rendra dibacakan dalam dua kali tampil. Pertama tampil di awal membacakan 2 puisi, dan sebelum penutup. Tedy membacakan 3 puisi, salah satunya berjudul ‘Rich Dari Corona’.

“Saya akan membacakan puisi, yang saya kira disenangi oleh teman-teman saya alumni Debrito, yang malam ini hadir di Sastra Bulan Purnama ini” ujar Tedy mengawali.

Ketika Tedy memulai membaca puisi berjudul ‘Rich Dari Corona’ teman-temannya dari Debrito bertepuk tangan, mungkin ingat persahabatan mereka 40 tahun lalu ketika masih sekolah SMA, dan sering membacakan puisi karya Rendra tersebut. Kalimat terakhir dari puisi tersebut, yang barangkali mengingatkan persahabatan mereka.

Tedy memang bukan si ‘Burung Merak’ dan tidak bisa disamakan dengannya, namun kalau mencoba mencari identifikasi, barangkali bisa disebut sebagai si ‘Burung Blekok’. (*)

Lihat Juga

Pameran Mirror #3 ‘SUMPAH’

Mirror art community untuk ketiga kalinya kembali menyelenggarakan pameran seni rupa di Tembi Rumah Budaya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x