Minggu , 29 November 2020
Beranda » Humaniora » TBM Cakruk Pintar Cerdaskan Warga dan Pelajar
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar Nologaten, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta (ft. Ist)

TBM Cakruk Pintar Cerdaskan Warga dan Pelajar

UNTUK  mendukung program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui minat baca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar selalu menambah buku-buku koleksi dan mengadakan pembinaan, pelatihan dan rutin menggelar berbagai kegiatan dan program yang terkait dengan  meningkatkan dan mencerdaskan bangsa memelaui program  minat baca dan literasi  bagi anggota dan pustakawan.

Dr H  Muchin Kalida  S.Ag, selaku Pembina TBM Cakruk Pintar mengungkapkan,  TBM  yang dirintis tahun 2003 hingga sekarang memiliki 3000 koleksi buku dari 2500 judul, dari jumlah buku tersebut selain koleksi pribadi, donator dari berbagai lembaga dan teman-teman juga  sebagian bantuan dari pemerintah DIY.  Sedang dari 2500 judul buku sebagian besar  tentang  pengetahuan  umum, pertanian, perikanan, wiraswasta, agama, dongeng, cerpen dan berbagai  judul buku yang sangat diminati anggoata TBM dan warga  setempat.

TBM Cakruk Pintar yang beralamatkan di kampung Nologaten gang Selada  106 A Caturtunggal, Depok Sleman ini berawal dari perpustakaan pribadi yang memiliki sekitar 100 koleksi buku.  Namun  Muchin Kalida  yang  pencetus mendirikan TBM ini selain seorang penulis kondang  juga dosen di UIN Kalijaga Yogayakarta.  Berawal dari 100-an buku  koleksi, namun setiap tahun bertambah yang  hingga pada awal tahun 2019 ini jumlah  koleksi buku mencapai 3000 buku dari 2500 judul.

Simak juga:  Memutar Arah Istana

Berawal dari anak-anak pelajar sekitar kampung  Nologaten  yang memanfaatkan meminjam buku atau membaca buku koleksi TBM Cakruk Pintar. Namun lambat laun  banyak warga diluar kampung Nologaten  yamg  datang dan memanfaatkan kebaradaan TBM Cakruk Pintar.  Bahkan  banyak pula mahasiswa dari berbagai PTS yang datang, baik meminjam buku atau sekedar silahturahmi.   Setiap anggota TBM Cakruk Pintaar berhak datang dan membaca di tempat mauapu meminjam buku koleksi dengan gratis, namun dibatasi waktu lama pinjam.

Kenapa dinamakan TBM Cakruk Pintar,  pertama karena lokasi atau tempat koleksi buku dan tempat membaca di sebuah Cakruk diatas sungai kecil Nologaten, kedua sangat strategis, praktis dan nyaman  jika membaca dan bercerita  dengan suasana sejuk di cakruk, ketiga karena sebagian anggota TBM Cakruk pintar adalah para petani, ibu-ibu rumah tangga sangat pas dan cocock jika membaca dan berkumpul  di luar rumah atau di cakruk.

Namun karena berbagai alasan dan keamanan  dalam pemeliharaan  buku-buku koleksi  akhirnya  tempat koleksi buku di pindah ke rumah Muchin Kalida. Namun untuk segala kegiatan, seperti diskusi, rapat atau kegiatan yang terkait dengan taman bacaan tetap di Cakruk  pintar.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Bermusyawarah untuk Mufakat

 

Penbinaan

Untuk  meningkatkan jumlah anggota dan meningkatkan kualitas   TBM Cakruk Pintar juga selalu menambah koleksi  buku dan diadakan pembinaan, pembinaan yang dilakukan  selain dari  GPMB  (Gerakan Pemberdaya Minat Baca) DIY  juga dari berbagai PTS serta pustakawan dan mahasiswa juga sering untuk studi banding.

Muchin menambahkan,  di TBM Cakruk Pintar  tidak hanya mengoleksi buku  cetakan, namun ada beberapa tulisan tangan dan literasi  karya-karya pelajar dan anggota TBM. Selain itu juga koleksi piagam dan hadiah dari berbagai lomba perputakaan dan TBM  baik tingkat kabupaten maupun tingkat nasional.

HJ Rumi Astuti  SPd,  selaku ketua TBM Cakruk Pintar menambahkan, karena adanya  pembinaan dan  penambahan  koleksi buku, TBM  Cakruk pintar  semakin berkembang  dan “ngrembaka”. Baik penambahan koleksi buku maupun angaotanya  yang sering membca dan meminjam buku di TBM Cakruk Pintar kian bertambah.

Dari jumlah  koleksi buku  yang mencapai 3000-an dari 2500 judul, sebagian besar  adalah buku-buku  pelajaran sekolah,  agama, usaha kecil, pendidikan, dongeng  dan beberapa buku lainya.  Sedang jumlah anggoata TBM Cakruk Pintar sekarang berkisar 300 anak.pelajar,mahasswa,ibu rumah tangga, petani dan karang taruna. *** (Nadi Mulyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *