Beranda » Peristiwa » Rektor UGM Tampil di Sastra Bulan Purnama
Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng, Rektor UGM (ft. Ist)

Rektor UGM Tampil di Sastra Bulan Purnama

Puisi dan fotografi keduanya jenis karya seni yang bisa saling berinteraksi, Keduanya disatukan dalam buku antologi puisi yang diberi nama puisi-fotografi, dan diberi judul ‘Tapak Jejak Peradaban, Memotret Eksotisme Warisan Masa Lampau” karya Novi Indrastuti, penyair, dan pengajar jurusan Sastra Indonesia, Fib UGM dan Harno Dwi Pranowo, fotografer, pengajar di Fakultas MIPA UGM.

Buku kolaborasi puisi dan fotografi tersebut diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 91 yang berlangsung Selasa, 23 April 2019 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtrtitis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, tidak hanya menampilkan penyair, tetapi juga menghadirkan Rektor UGM Prof.Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng dan Dr. Wening Udasmoro, M.Hu,., DEA., Dekan Fakultas Ilmbu Budaya, UGM.

Seperti selama ini sudah berlangsung lebih selama lebih 7 tahun, Sastra Bulan Purnama membuka ruang untuk berbagai profesi tampil membaca puisi, sehingga kredo ‘yang bukan penyair tidak boleh ambil bagian’ di era digital ini sudah tidak lagi relevan. Justru penyair dan profesi lain diberi tempat yang sama untuk memberi apresiasi sastra dalam bentuk membacakan puisi karya seorang penyair, atau bahkan karyanya sendiri.

Pada peluncuran buku puisi-fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Dwi Pranowo, yang lebih sering menggunakan nama Harno Depe berjudul ‘Tapak Jejak Peradaban: Memotret Eksotisme Warisan Masa Lampau”, selain menghadirkan perempuan penyair Evi Idawati untuk membaca puisi, tentu Novi Indrastuti sebagai penyair yang meluncurkan buku puisi ikut tampil membaca puisi. Profesi lain yang tampil membaca puisi, selain para  pengajar, director sale and marketing hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta, Maya Dewi namanya dan Armansyah Pranasakti, seorang notaris.

Simak juga:  Penyair Empat Kota Launching Antologi Puisi di Tembi

Maya Dewi membacakan puisi berjudul ‘Menyusuri The Fragrant Garden’ dan Armansyah Pranasakti membacakan dua puisi berjudul ‘Mahakarya Sejarah’ dan ‘Patrap Triloka’

“Ini kali pertama saya membaca puisi, karena selama ini saya tidak pernah membaca puisi” ujar Maya Dewi.

Dua guru besar dan sekaligus pengajar yang ikut tampil membaca puisi, Prof.Dr. Ir. Budi Wignyosoekarto dari Teknik Sipil UGM, membacakan dua puisi berjudul ‘Simbol Persatuan Raja dan Rakyat’ dan ‘Misteri Merapi’. Seorang guru  besar lain dari UNNES Semarang, Prof.Dr. RM. Teguh Supriyanto, membaca dua puisi berjudul ‘Memaknai Tahta Untuk Rakyat’ dan ‘Saksi Sejarah Mataram Islam’. Seorang pengajar dari ISI Yogyakarta, Prima Dona Hapsari, SPd., M.Hum membacakan dua puisi berjudul ‘Cinta Melahirkan Toleransi’ dan ‘Ucap Rindu Dalam Tinta Biru’.

Selain pembacaan puisi, tampil juga lagu puisi dan dramatisasi puisi. Lagu Puisi dibawakan oleh Ana Ratrti dan Nyoto Yoyok. Dramatisasi puisi menampilkan Wahnyudi Jaya, seorang pengajar Vokasi UGM. Wahyudi membawakan puisi ‘Lelaki Bersorban Putih’ dan dalam penampilannya ia mengenakan surban warna putih.

Ana Ratri dan Nyoto Yoyok, yang sudah sering tampil di Sastra Bulan Purnama, dan kali ini, beberapa hari sebelumnya diberi dua puisi karya Novi Indrastuti untuk dibuat menjadi lagu. Dua puisi itu berjudul ‘Poros Imajiner’ dan ‘Tapak Jejak Peradaban’. Diiringi petikan gitar dan geseken biola,, Ana Ratri mengalunkan dua lagu puisi dengan bagus, nuansa puisinya tidak hilang.

Simak juga:  Mengenang Yang Tiada Di Bulan Purnama

Evi Idawati, salah seoorang perempuan penyair dari Yogya, yang sudah membaca puisi dibanyak tempat dan tidak hanya di Yogya, membawakan dua puisi karya Novi Indrastuti masing-masing berjudul ‘Area Perburuan’ dan ‘Kiblat 4 Lima Pancer’.

Tentu, Novi Indrastuti dan Harno Dwi Pranowo, yang berkolaborasi membuat puisi-fotografi ikut membacakan puisi. Masing-masing membacakan dua puisi, sekaligus untuk mengakhiri acara Sastra Bulan Purnama edisi 91. Novi membacakan puisi berjudul ‘Pasiraman Jiwa’ dan ‘Dewi Kesuburan’. Harno Dwi Pranowo membacakan dua puisi berjudul ‘Senja Merah Saga di Bukit Sunyi’ dan ‘Umpak Berserak’. (*)

Lihat Juga

Membaca Hujan di Bulan Purnama

‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ adalah buku antologi puisi yang menyajikan puisi karya 50 penyair …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *