Kamis , 12 Desember 2019
Beranda » Humaniora » Rao, Dulu Sempat Jadi Pusat Perlawanan Kaum Paderi
Sebagian sudut kota kecil Rao. Tampak di kejauhan Monumen Tuanku Rao di tepi pertigaan jalan raya Padang-Medan. (Ft: SEA)

Rao, Dulu Sempat Jadi Pusat Perlawanan Kaum Paderi

NOVEMBER lalu saya sempat sekitar seminggu berada di Rao, sebuah kota kecil atau kota kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Waktu yang singkat itu, tentu saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk mengetahui lebih jauh tentang wilayah yang dikenal pula sebagai “negeri kolam ikan” ini.

Rao, ternyata punya peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa melawan kekuasaan penjajah Belanda. Rao, merupakan suatu kawasan bersejarah dalam sejarah Perang Paderi yang berlangsung pada tahun 1803 sampai 1838.

Salah seorang Panglima Perang Kaum Paderi dan tokoh penting di masa perang itu adalah Tuanku Rao. Ketokohan Tuanku Rao sangat dihargai dan dihormati oleh masyarakat Rao, dan Kabupaten Pasaman.

Penghargaan masyarakat terhadap kepahlawanan Tuanku Rao dalam perang melawan Belanda di masa Perang Paderi itu ditandai dengan Monumen Tuanku Rao yang terletak di pinggir pertigaan jalan raya Padang-Medan, Rao. Monumen itu berbentuk Tuanku Rao bersurban dan berbusana serba putih menunggang kuda putih.

Menurut beberapa referensi, Perang Paderi pada awalnya digerakkan Kaum Paderi. Perang Paderi bermula dari perbedaan paham antara Kaum Paderi dengan Kaum Adat. Kaum Paderi ingin menegakkan ajaran Islam yang ketat. Dan, Kaum Paderi menganggap Kaum Adat telah melakukan hal-hal yang tak sesuai dengan ajaran Islam. Kaum Adat kemudian meminta bantuan Belanda untuk menghadapi Kaum Paderi.

Selain Bonjol, Rao di masa itu juga sempat menjadi pusat perlawanan Kaum Paderi terhadap Belanda. Perlawanan Kaum Paderi terhadap Belanda di wilayah Rao ketika itu dipimpin langsung oleh Tuanku Rao.

Karena kerasnya sikap Kaum Paderi dalam menegakkan ajaran-ajaran Islam itu, beberapa referensi menyebutkan pula jika Kaum Paderi yang memerangi Kaum Adat tersebut berpaham Wahabi. Tokoh-tokoh Kaum Paderi seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao, Tuanku Tambusai dan Tuanku Nan Receh, dan lain-lainya, disebut merupakan penganut Wahabi.

Di masa Perang Paderi itu diyakini paham Wahabi telah berkembang di Rao, Bonjol, dan kawasan lainnya yang dikuasai Kaum Paderi. Tapi itu dulu, sekarang tak terlihat lagi adanya paham Wahabi tersebut di wilayah Rao, dan wilayah sekitarnya.

“Ya, sekarang sepertinya tak ada lagi yang berpaham Wahabi di wilayah Rao ini,” kata salah seorang warga Sorik, Rao.

 

Jejak Sentot Prawiradirjo

Asyik juga jika menyimak ulang kisah Perang Paderi di masa itu. Ternyata dalam kecamuk Perang Paderi itu, juga terdapat peran prajurit-prajurit dari Jawa pimpinan Sentot Alibasha Prawiradirjo.

Dalam Perang Diponegoro (Perang Jawa) yang berlangsung 1825 – 1830, Sentot Alibasha Prawiradirjo merupakan panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro. Tapi atas bujukan Belanda, di tahun 1829 Sentot dan pasukannya menyerahkan diri kepada Belanda.

Sadar akan kehebatan Sentot dan pasukannya, Belanda kemudian di tahun 1829 itu juga langsung mengirimkannya ke Sumatera Barat. Sentot dan pasukannya yang semula dikirim Belanda untuk ikut memerangi Kaum Paderi, justru berbalik membantu Kaum Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku Nan Receh, dan lainnya tersebut.

Dan, ketika Kaum Paderi kalah, prajurit-prajurit atau pasukannya memilih tetap tinggal di Tanah Minang dan tak kembali ke Jawa. Saya pernah membaca tulisan (lupa penulisnya), kalau prajurit-prajurit dari Jawa itu kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Kemudian mereka menikah dengan perempuan-perempuan setempat pula. Dan, keturunan-keturunan mereka pun menyatu dalam rumpun Minangkabau.

Dari tulisan itu juga saya baca, kalau dari keturunan prajurit-prajurit Sentot Alibasha Prawiradirjo itu kemudian muncul sejumlah nama yang dikenal di negeri ini. Di antaranya, Asrul Sani, salah seorang pelopor Angkatan ’45 dan “Bapak Perfilman Nasional” yang lahir di Rao, Pasaman pada 10 Juni 1926. Mantan Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini meninggal 11 Januari 2004 di Jakarta.

Ada satu nama lagi yang saya ingat, yakni sastrawan atau novelis Motinggo Busye. Meskipun Motinggo Busye (alm) lahir di Kupang kota, Lampung (21 November 1937), namun ia juga merupakan keturunan dari Sentot Alibasha Prawiradirjo.

Ayahnya, Jalid Raja Alam merupakan putra Kepala Nagari Matur yang bernama Idris Datuk Sakti. Idris Datuk Sakti adalah menantu Sentot Alibasha Prawiradirjo.

Masih ada sejumlah nama lagi, tapi saya lupa. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (1/12/2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x