Kamis , 12 Desember 2019
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Pusaka Para Pahlawan
Ilustrasi Benda Pusaka. (Ft: Wikipedia)

Pusaka Para Pahlawan

Di Jagad pakerisan banyak cerita yang unik dan aneh yang banyak mengandung mitos bahkan sulit untuk dirasiokan. Tetapi justru itulah yang kemudian menarik untuk diungkap dalam kaitan dengan pusaka para pahlawan di bulan November tahun ini.

Sebagai contoh keris pusaka Panglima Besar Jenderal Sudirman. Menurut cerita termasuk patrem karena disebutkan keris kecil. Keri situ menurut ceritanya berasal dari seorang Kyai yang memimpin sebuah pondok pesantren di wilayah Jawa Tengah. Dan Kyai ini begitu terkenal karena tokoh ini sangat sakti.

Dikisahkan ketika sedang berada di wilayah di Wonogiri bagian selatan Pasukan Jenderal Sudirman yang tengah memimpin bergerilya dikepung oleh pasukan Belanda dan nyaris tidak bisa bergerak, bahkan akan tertangkap. Dalam keadaan genting tersebut tiba tiba Jenderal Sudirman mengeluarkan keris kecilnya dari pinggangnya dan sambil meletakkan di meja Pak Dirman, sebutan akrabnya komat kamit berdoa memohon pertolongan Yang Maha Kuasa agar dibebaskan dari kepungan pasukan Belanda.

Aneh bin ajaib, terjadilah mendung yang sangat pekat. Dan makin lama makin gelap. Tidak lama kemudian terjadilah hujan yang lebat dengan petir dan guntur yang menggelegar, bergantian.

Situasi ini membuat nyali anggota pasukan Belanda ciut dan akhirnya mereka bubar menyelamatkan diri dari hujan badai yang dahsyat. Akhirnya terlepaslah kepungan pasukan Belanda itu. Kemudian Pak Dirman selamat.

Ketika melanjutkan perjalanan di daerah Pacitan, pasukan kecil Pak Dirman yang hanya terdiri lima belas orang itu dikejar oleh pasukan Belanda. Bahkan pesawat pesawat Belanda melancarkan serangan ke tempat Pak Dirman menginap.

Sekali lagi Pak Dirman mencabut keris dari warangkanya dan meletakkan berdiri di depan meja sambil berdoa memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.

Aneh bin ajaib bahwa pesawat pesawat mustang Belanda yang tadinya menjatuhkan bom bom di daerah Pacitan, makin lama makin hilang dan kemudian tidak terdengar lagi suaranya.

Perlu diketahui bahwa Panglima Besar Jenderal Sudirman adalah seorang Muhammadiyah yang sangat tekun menjalankan agamanya. Tidak pernah lowong sholat, selalu ihlas dalam berjuang dan senantiasa memikirkan rakyat kecil.

Keris hanyalah sebagai sarana karena keris itu dibuat dalam pembuatannya dibuat dengan tekad dan semangat manembah yang amat tinggi disertai laku tapa dan matiraga.

Kalau melihat cerita yang menyertai keris tersebut kelihatannya keris yang dikenakan Jenderal Sudirman tersebut bisa dikatakan sebagai keris Tundhung Mungsuh. Bisa jadi pamornya Banguntulak. Pusaka ini memang mempunyai doa untuk mengusir musuh yang mau membuat yang mempunyai pusaka ini celaka. Keris keris ini banyak dibuat oleh para empu Cirebon atau Tundhung Mediun.

 

Pangeran Diponegoro

Keris pusaka selanjutnya adalah keris yang sering dikenakan Pangeran Diponegoro yang terpampang pada pinggang Pangeran Diponegoro yang dilukis indah oleh pelukis tersohor Indonesia Basuki Abdulah. Pusaka ini senantiasa menemani Pangeran Diponegoro kemanapun beliau memimpin pasukan untuk mengusir penindasan Pasukan Kompeni. Pangeran Diponegoro menyulitkan pasukan Kompeni yang dipimpin oleh Kapten De Kock. Sampai sampai Kapten Belanda ini menggagas sebuah rencana keji nan licik untuk menjebak Pangeran Diponegoro.

Apabila dijebak dan dikepung pasukan Kompeni Pangeran Diponegoro selalu bisa lolos dan memporak porandakan pasukan Belanda. Hal ini membuat jengkel Kapten De Kock. Lalu Kapten De Kock membuat rencana perdamaian yang sebetulnya merupakan jebakan agar Pangeran Diponegoro bisa ditangkap. Dan dibuatlah rencana perdamaian di kota Magelang. Dan benar perdamaian dilakukan dan tanpa sepengetahuan Pangeran Diponegoro rumah di mana ada perdamaian itu dikepung dan Pangeran Diponegoro ditangkap di rumah Magelang itu. Bersamaan itupun segala senjata yang dibawa oleh Pangeran Diponegoro disita Belanda bahkan kemudian dibawa ke Belanda. Perlu diketahui bahwa Pangeran Diponegoro adalah seorang priyagung yang sangat taat beragama dan menyembah Allah dengan sangat setia.

Simak juga:  Pahlawan Harus Berjiwa Ikhlas dan Menghormati Leluhur

Dan tekad besarnya adalah membebaskan penderitaan rakyat dari penindasan pasukan Kompeni yang mengeruk kekayaan bumi Jawa.

Keris yang dibawa ke Belanda kemudian dijelaskan dalam tulisan yang ditulis Senthot (Serat Sentot) yang disebutkan berwujud Kewris Naga Siluman, kinatah emas. Naga di bagian sor soran keris mengenakan mahkota emas. Keri situ juga diboyong oleh Kompeni ke Negara Belanda. Malah menurut cerita yang berkembang tidak tahu bagaimana, pernah dikenakan oleh putra mahkota raja Prusia di tahun 1930 an. Dan dimasa pertengahan tahun 1936 an keris itu membuat bencana dan kemudian melahirkan Perang Dunia I.

Keris pusaka Pangeran Diponegoro selalu dikenakan terselip didepan pinggang Pangeran Diponegoro ketika tengah naik kuda dan sangat mempunyai kewibawaan yang tinggi.

Namun ada pula kisah lain yang bisa dilacak mengenai keris Pangeran Diponegoro yang disebut sebagai Kangjeng Kyai Batang Gajah. Menurut Romo Oesada yang tinggal di Tamansari, seorang purnawirawan Angkatan Udara, berpangkat Kolonel. Dia mengungkapkan bahwa keris Pangeran Diponegoro juga ikut dibawa ke Makasar. Menurut Tomo Oesada keris yang berawarangka gayaman gagrak Ngayogyakarta dan selalu diselipkan dipinggang depan perut Pangeran Diponegoro dirawat oleh salah satu cucu Pangeran Diponegoro yang mempunyai nama Dokter Sahir . Selanjutnya oleh Dokter Sahir keris itu kemudian diserahkan kepada anak mantu dari Dokter Sahir yang berprofesi sebagai Direktur Garuda Indonesia.

Oleh putra mantu itu kemudian disimpan. Ketika ditanya dapur dan tangguh keris tersebut Romo Oesada tidak mau mengungkapkannya. Romo Oesada hanya mengungkapkan bahwa keris tersebut senantiasa menyertai Pangeran Diponegoro yang dilukis mengenakan destar. Menurutnya keris tersebut sekarang ini disimpan di Jakarta. Mengenai benar tidaknya walahualam. Karena di Dalem Prabayeksa juga ada keris Diponegaran yang bernama Kangjeng Kyai Badhang Gajah. Mungkin juga keris tersebut merupakan putran atau fotokopi dari keris Pangeran Diponegoro.

 

Pangeran Mangkubumi

Lain lagi dengan kisah legenda yang menyinggung salah satu keris pusaka Kraton Ngayogyakarta yang kemudian diberi nama Kangjeng Kyai Birawa yang berdapur Carita Keprabon. Carita keprabon merupakan keris luk 11 dengan warangka dari kayu Timoho dengan pendok yang terbuat dari emas bertahtakan intan berlian.

Awalnya keris itu merupakan milik dari Ngarsa Dalem Kapisan yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keris ini diserahkan kepada putranya yang beranama Pangeran Hadikusuma. Setelah itu keris itu kemudian beralih tangan. Di tangan seorang abdi dalem bernama Prawirakusuma, keris ini disimpan lama kemudian dikembalikan ke Kraton dengan mahar ketika itu tiga ratus ripis.

Simak juga:  Pusaka Asma Sarat Harapan dan Doa

Dapur Carita sendiri merupakan keris yang lekuknya bisa sebelas tetapi juga bisa tiga belas. Oleh karena itu ketika menyebutnya biasanya luknya juga disebut Carita luk sebelas atau carita Luk tiga Belas.

Ukuran bilahnya cukupan dengan ricikan sekar kacang, lambe gajah dua. Ricikan lainnya tidak ada.. Keris ini mempunyai symbol untuk yang luk sebelas yaitu sifat belas kasih atau belas kasihan.’ Ini mempunyai makna bahwa manusia itu hidupnya hanya berasal dari belas kasih Allah Yang Maha Esa. Oleh karena itu manusia harus meneruskan belas kasih Allah ini kepada sesama hidup. Itulah semangat yang muncul dari adanya keris carita keprabon  atau dapur Carita pada umumnya.

 

KK Penggarit yang Wingit

Lain lagi kisah keris Bung Karno. Bung Karno memang mengkoleksi aneka macam keris dan tombak.’ Yang sering dibawa adalah pusaka berwujud tongkat komando yang sejatinya di dalamnya ada keris kecil atau tombak kecil. Malah tombak kecil yang disebut jangkung itu kemudian dilestarikan sebagai Monumen Nasional yang berubah wujud menjadi api yang tak kunjung padam.

Pusaka koleksi Bung Karno yang sekarang masih tersimpan di Museum Bung Karno Blitar adalah Kyai Penggarit. Kyai Branggah, Kyai Mega Mendung, yang pernah juga dipamerkan dalam Festival Walisongo.

Yang agak unik adalah cerita keris yang disebut sebagai Kyai Penggarit yang diyakini merupakan paringan atau hadiah dari Kangjeng Susuhunan Paku Buwono X. Kyai Penggarit ini berwujud keris Lajer atau lurus berdapur Jalak Dinding dengan ricikan yang khas adanya garis semacam lidi tetapi agak dalam dari bawah sampai ke pucuk. Oleh karena itulah disebut penggarit. Dalam pakerisan sering disebut sada sakler pamornya.

Keri ini konon katanya pernah disandiongkan dengan Kangjeng Kyai Ageng Kopek milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika keduanya berselisih paham mengenai siapa Sultan Hamid Jaka Lelana itu.

Sedangkan tombak komando Bung  Karno sebenarnya di dalamnya tersimpan tombak luk tiga atau disebut Jangkung. Menurut sesepuh dari Jawa Barat tombal itu berlapis emas. Sedang kebenarannya walaualam. Sebab banyak orang yang tidak percaya mengenai hal ini.

Mengenai kegemaran terhadap benda pusaka sesungguhnya Bung Karno sangat terkesan dengan Sultan Agung Hanyakrkusuma, sultan yang bertahta di Mataram dari tahun 1613 – 1643. Oleh sebab itu, keris keris pusaka Sultan Agung juga dikoleksi oleh Bung Karno.

Sultan Agung ketika masih muda mempunyai pusaka andalan yang disebut Jangkung Manglar Monga. Keris berdapur Manglarmonga berwujud keris luk tiga yang di bagian sor soran atau di bawah gandik ada gambar sayap.

 Keris ini mempunyai harapan sama dengan jangkung, yang artinya semua harapan, pengharapan cita cita agar bisa tercapai dan senantiasa dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kalau menjadi pemimpin atau pejabat harus bisa melindungi rakyatnya. Dengan keris tersebut Sultan Agung memperluas jajahannya.

Yang menjadi catatan dalam hal ini adalah harapan cita cita dan nasehat luhur yang ada di keris harus bisa selaras dengan hidup orang yang membawa keris tersebut. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Pahlawan Harus Berjiwa Ikhlas dan Menghormati Leluhur

JIWA pahlawan selain harus bersifat saling menolong  sesama  tanpa pamrih, berprestasi juga harus berjiwa ikhlas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x