Senin , 30 Maret 2020
Beranda » Peristiwa » Puisi Untuk Pembukaan Pameran di Tembi
Fathul Wahid. (Ft: Ist)

Puisi Untuk Pembukaan Pameran di Tembi

Puisi bisa dibacakan dalam memontum banyak hal, tidak hanya khusus untuk pertunjukkan sastra, dan di sana puisi dibacakan. Pada pembukaan pameran seni rupa karya Hendrik, yang dilakukan Rabu 18 Desember 2019 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, puisi dibacakan untuk menandai pembukaan pameran.

Bahkan tidak hanya dibacakan, tetapi juga dilagukan, setidaknya seperti dilakukan oleh Ana Ratri dan Menik Sithik. Keduanyanya melagukan 2-3 puisi, baik karya sendiri maupun karya penyair lain. Tentu, Ana dan menik tidak sendiri, masing-masing ditemani pemetik gitar. Ana Ratri berpasangan dengan Nyoto Yoyok, dan Menik bersama Thole bersama-sama mengalunkan lagu puisi, terkadang diselingi membaca puisi.

Dua pembaca yang lain, keduanya bukan penyair, dan memiliki profesi yang berbeda. Nurul Indarti, seorang pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, dan Endah Raharjo, seorang aristek, yang sudah menulis beberapa novel dan menterjemahkan beberapa buku. Keduanya sering tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama.

Kali ini keduanya tampil membaca puisi untuk mengisi, sekaligus memaknai peristiwa pembukaan pemeran seni rupa karya Hendrik, yang diberi tajuk ‘Perempuan Dalam Bingkai Abstrak’. Karena temanya menyangkut perempuan, Endah dan Nurul memilih puisi yang bertema perempuan.

Simak juga:  Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Endah membacakan dua puisi, salah satunya berjudul ‘Ibunda Tercinta’. Satu puisi lainnya puisi karya Dorothea Herliani, dan Nurul Indarti membacakan satu puisi karya Rendra yang berjudul ‘Ibunda’.

“Karena desember merupakan hari perempuan, dan pameran ini mengambil tema perempuan, saya memilih puisi2 yang menyajikan tema perempuan” kata Endah Raharjo.

Kedua perempuan, yang sehari-harinya akrab bersahabat, nampak menikmati membaca puisi. Endah Raharjo memang sudah berulangkali membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, karena itu terlihat sekali dia sangat tenang dalam membaca puisi.

Nurul Indarti, yang baru tiga kali membaca di Tembi. Dua kali di Sastra Bulan Purnama membaca cerpen dan puisi di bulan yang berbeda, dan kali ini ia tampil membaca puisi untuk pembukaan pameran.

“Ini kali ketiga saya membaca puisi di Tembi, dan membuat saya ketagihan untuk ingin membaca puisi di Tembi” ujar Nurul bergurau.

Sebut saja, kegiatan membaca puisi di panggung, bagi Nurul, merupakan sesuatu yang baru. Tetapi rupanya, dia memiliki kemampuan membaca puisi, dan ekspresi saat membaca puisi terlihat sekali, bahwa Nurul menghayati puisi yang dibacanya.

Simak juga:  Puisi Handrawan Nadesul

Selain Nurul dan Endah, tampil juga Fathul Wahid, yang sehari-harinya menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Indonesia (UII). Ia sebenarnya diminta membuka pameran karya Hendrik, dan untuk menandai pembukaan pameran dia membacakan puisi karyanya sendiri.

“Saya bertanya pada Pak Ons dengan cara apa menandai pembukaan pameran, mencoretkan lukisan di kanvas atau bagaimana? dan Pak Ons meminta menandainya dengan membaca puisi, dan akhirnya saya menulis puisi untuk menandai pembukaan pameran” kata Fathul Wahid.

‘Perempuan-Perempuan’ adalah judul puisi yang dibacakan Fathul Wahid untuk menadai pembukaan pameran. Sesuai tema pameran, puisi Fathul juga mengambil tema perempuan, yang berkisah mengenai ibunya dan istrinya, setidaknya dua perempuan yang sangat dekat dalam kehidupannya.

Jadi, perempuan tidak hanya bertabur di kanvas karya Hendrik, melainkan juga bisa ditemukan dalam karya sastra, dalam hal ini puisi, termasuk puisi karya Fathul Wahid. (*)

Lihat Juga

Tarian Puisi di Bulan Purnama

Hujan yang mengguyur Yogya beberapa hari sebelumnya, sampai senin malam, hujan tidak reda. Padahal, senin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *