Kamis , 12 Desember 2019
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Nana Ernawati
Nana Ernawati (ft. Ist)

Puisi Nana Ernawati

PEREMPUAN YANG MELUKIS DI ATAS AIR

Sungai Batanghari cokelat dan lelah. Airnya
mengolak. Perempuan itu bergolak.
Hatinya tak bermuara. Dilukisnya wajah
Tuhan di atas air. Melupakan luka-luka
yang pernah mampir. Catnya lumpur pekat
yang menyengat di sela hidung yang tak
pernah mencium wangi sore. Kuasnya pagar
memanjang, tempat tanganmu bertelekan.
Dan pemotret tua itu, sungguh bosan melongok
wajahmu yang rata di lensa kamera. Wajah
yang menjangkau senja dengan duka. Mengupas
malam dengan pisau marah dan belati darah.
Apakah kiranya tidak ada kesudahan bagi
kesedihan yang tanpa sudah? Lukisan di atas
air memanjang seiring air yang mengalir.
Lukisan di atas air, cat airnya rata menyatu
dengan cokelat sungai Batanghari yang pekat.
Aku tertegun. Berapa lama engkau akan
membiarkan tubuhmu tanpa warna.
Selain keruh dan keruh.

                               Batanghari 2013

SERANGAN

Tujuh-belas kembang buah naga mekrok di keluasan kebunmu,
bukan kembang Wijaya Kusuma, bukan di taman Ayodya.
Seluruh tangan kasapmu menimbulkan gairah hidup
menyala-nyala bagi jiwa yang gelisah dan kenyang sengsara.
Plastik-plastik bertebaran, batu memuji pemukulnya, sayur
terpesona jari pemetiknya, dan langit menyebutkan nama Tuhanmu
dengan lantang: hidup! Inilah hidup yang sesungguhnya.
Di antara sajadah dan bunga sesajen bertabrakan di lantai kontainer
peraduanmu, menyemarakkan pesta piring seng dalam acara makan
siang yang riuh setelah ritual doa. Doa untuk yang percaya dan
tenggelam oleh cinta. Selamat makan, yang terhidang adalah kisah
kasih sayang tak ada hentinya mengalir membuncah. Menggelora
tak terhentikan, dan takkan binasa oleh tangan sesiapa pun,
kecuali tanganya.

                               Jakarta, 20215/new

 

DOA PAGI

aku rindu pada laut
walau tiap hari kutuju pantai
aku mengangeni abu di puncak gunung
walau tiap hari kuhirup semerbak hawa pagi
aku ingin mendengarkan nyanyian indahmu
walau sebuah sajak pun tak pernah bisa kurangkum
aku mau
aku ingin
aku menadahkan cinta dari cawanmu yang luas
mengharap belaian dari sepasang tanganmu yang basah
peluh dan cinta serta amarah karena aku ragu-ragu
jangan kau abaikan doaku walau aku tak miliki bibir
yang fasih dan ciuman membara seperti mereka
aku hanya seorang pejalan malam, tanpa lampu, tanpa jubah,
hanya kumiliki sebuah noktah darimu, samar, jauh dan
timbul tenggelam, tapi jangan ragukan aku,
beri aku lampu itu.

                               Jakarta, 170114

 

         

Catatan:

Ruang “Puisi-puisi Kebangsaan” kali ini menampilkan tiga puisi karya penyair Nana Ernawati. Masing-masing berjudul Perempuan Yang Melukis di Atas Air, Serangan dan Doa Pagi. Ketiga puisi tersebut terhimpun di dalam buku kumpulan puisinya berjudul “Perempuan yang melukis di atas air“, yang diterbitkan  Lembaga Seni & Sastra “Reboeng” bekerjasama dengan Penerbit Elmatera, Yogyakarta.

Puisi adalah suara hati, dan ungkapan rasa. Suara tentang kegelisahan, kerinduan, kecintaan dan kepedulian tentang beragam persoalan dalam kehidupan. Termasuk kecintaan kepada tanah air, alam kehidupan, kecintaan terhadap kebersamaan, keberagaman dan kebangsaan. Cobalah simak, puisi Perempuan Yang Melukis di Atas Air, sangat terasa bagaimana Nana Ernawati mencoba membawa hati dan pikiran kita ke Sungai Batanghari, yang merupakan sungai yang melegenda di kawasan Jambi itu.

Puisi bagi perempuan yang lahir di Yogyakarta pada tanggal 28 Oktober ini merupakan media bagi dirinya untuk mengekspresikan kecintaannya terhadap dunia sastra di Indonesia, sekaligus juga kepeduliannya terhadap persoalan kebangsaan.         

Nana Ernawati mengembangkan bakat menulisnya sejak masih di bangku SMP. Dan, tahun 1981 puisinya meraih juara kedua dalam Lomba Cipta Puisi Renas (Remaja Nasional) yang diselenggarakan Harian Berita Nasional Yogyakarta. Sejak itu pula karya-karyanya banyak menghiasi media-media di Jakarta dan Yogya.

Karya-karya puisinya juga terhimpun di dalam sejumlah buku antologi puisi bersama di antaranya: Penyair Yogya 3 Generasi (1981), Tugu (1986), Tonggak 4 (1987), Pawestren (2013), Parangtritis, 55 Penyair Membaca Bantul (2014), Puan-Puan (2014), Perempuan Langit 1 (2014), dan Perempuan Langit 2 (2015. Kemudian bersama Dhenok Kristianti, ia juga menerbitkan buku kumpulan puisi 2 di Batas Cakrawala (2011) dan Berkata Kaca (2012). *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Noorca dan Yudhis Tampil di Sastra Bulan Purnama

Dua saudara kembar, yang dikenal sebagai sastrawan, Noorca Massardi dan Yudhistira Massardi akan tampil di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x